Kecanduan Judol, Anak Tega Bunuh Ibu Kandungnya
Info Terkini | 2026-04-20 10:20:36Kecanduan Judol, Anak Tega Bunuh Ibu Kandungnya
Oleh: Dhevy Hakim
Belum lama ini, publik diguncang lagi dengan berita yang benar-benar menyayat hati dan membuat bulu kuduk merinding. Di Lahat, Sumatera Selatan, seorang pemuda berusia 23 tahun tega membunuh, memutilasi, bahkan membakar jasad ibu kandungnya sendiri. Apa penyebabnya? Cuma gara-gara si ibu nggak mau kasih uang buat dia main judi online atau "judol".
Bayangkan, demi mengejar angka-angka di layar HP dan harapan dapat cuan instan, ikatan darah dan kasih sayang seorang anak kepada ibunya bisa putus begitu saja. Pelaku bahkan tega mengambil emas milik korban buat dijual dan uangnya dipakai buat nge-chips lagi. Ini bukan kasus pertama, dan sayangnya, kayaknya bukan yang terakhir juga. Sebelumnya sudah banyak kasus kriminal bermunculan yang pemicunya sama: jeratan judi online.
Pertanyaannya sekarang, kok bisa sampai segininya? Kenapa moral dan akal sehat orang bisa hilang sampai tega berbuat kejam sama orang tua sendiri?
Jawabannya sebenarnya nggak lepas dari sistem kehidupan yang kita jalani selama ini. Kasus di Lahat ini adalah bukti nyata kegagalan sistem sekuler yang memisahkan urusan negara dan kehidupan dengan nilai-nilai agama. Di bawah sistem ini, standar baik dan buruk itu bukan lagi berdasarkan aturan Tuhan, tapi berdasarkan apa yang terasa enak dan apa yang bikin untung (materi). Orientasi hidup cuma satu: cari kepuasan dan harta sebanyak-banyaknya, caranya gimana pun itu terserah.
Akibatnya, manusia jadi kehilangan kompas. Nggak ada rasa takut berbuat dosa, yang ada cuma takut ketahuan polisi atau takut nggak punya uang. Akal sehat yang seharusnya dijaga malah dikacaukan oleh nafsu ingin kaya cepat lewat judi. Nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang runtuh digantikan oleh egoisme dan materialisme.
Ditambah lagi dengan penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang bikin kesenjangan sosial makin lebar. Hidup makin susah, kebutuhan dasar makin mahal, dan peluang kerja resmi itu susah dicari. Akhirnya, banyak orang yang tergiur sama janji manis judi online yang katanya bisa bikin kaya mendadak. Padahal itu cuma jebakan batman yang bikin makin miskin dan stres, sampai akhirnya nekat melakukan tindak kriminal demi dapat uang tunai.
Yang paling menyedihkan, negara seolah gagal total jadi pelindung rakyat. Judi online dibiarkan berkembang biak karena dianggap "menggerakkan ekonomi" dan ada pajeknya, atau mungkin karena ada oknum yang diuntungkan. Regulasi yang dibuat pun cuma main blokir sana-sini, itu-itu aja, nggak tuntas dan nggak sampai ke akar masalahnya. Belum lagi hukum yang berlaku sekarang terasa lemah dan nggak bikin jera. Makanya kasus kekerasan dan pembunuhan terus berulang karena pelaku merasa risikonya kecil dibanding keuntungannya.
Kalau kita ingin masalah ini selesai dan nggak ada lagi anak yang tega bunuh orang tuanya gara-gara judi, maka sistemnya harus diganti total. Solusinya ada pada penerapan syariat Islam secara kaffah.
1. Berpegang pada Akidah dan Standar Halal Haram Islam mengajarkan bahwa dasar hidup adalah keimanan kepada Allah SWT. Standar perilaku bukan "apa yang bikin untung", tapi "apa yang halal dan apa yang haram". Dengan pondasi ini, seseorang punya benteng yang kuat di dalam dirinya. Dia tahu judi itu haram, membunuh itu dosa besar, dan berbakti pada orang tua itu wajib. Rasa takut kepada Allah jauh lebih ampuh menahan seseorang dari kejahatan daripada sekadar takut sama polisi.
2. Ekonomi Islam yang Adil Sistem ekonomi Islam memastikan kebutuhan dasar rakyat bisa terpenuhi dengan layak. Negara mengelola sumber daya alam dan kekayaan umum untuk kemaslahatan rakyat, bukan buat menguntungkan segelintir orang kaya saja. Kalau kebutuhan hidup terjamin, lapangan kerja terbuka, dan ekonomi stabil, orang nggak akan nekat cari uang lewat jalan haram atau tergoda judi online. Kesenjangan sosial bisa ditekan sampai hilang.
3. Negara yang Tegas Melarang dan Memberantas Dalam sistem Khilafah, negara hadir bukan cuma sebagai pengatur, tapi sebagai pemimpin (raa'in) dan pelindung (junnah) yang sesungguhnya. Judi online dan segala bentuk perjudian itu diharamkan total dan diberantas sampai ke akar-akarnya. Negara nggak akan main-main soal ini, karena ini jelas-jelas merusak akal dan moral masyarakat. Nggak ada istilah dibiarkan demi ekonomi, karena yang haram tetaplah haram.
4. Hukum yang Berat dan Menjerakan Negara Islam menerapkan sanksi (uqubat) yang sangat tegas. Ada hukum hadd untuk pencuri, ada hukum qishash atau hukuman mati bagi pembunuh. Hukum ini bersifat zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). Begitu tegas dan beratnya hukuman yang diterapkan, orang akan berpikir puluhan kali sebelum berbuat jahat. Ini yang bikin efek jera itu benar-benar ada, sehingga rantai kejahatan bisa diputus.
Kasus pembunuhan di Lahat itu adalah alarm bahaya bahwa sistem yang kita pakai sekarang sudah sakit parah. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, yang mementingkan materi di atas segalanya, dan yang lemah dalam penegakan hukum, pasti akan melahirkan generasi yang rusak.
Kita nggak bisa berharap hasil berbeda kalau caranya masih sama. Solusinya cuma satu: kembalikan kehidupan ini pada aturan Allah. Tegakkan syariat Islam, jamin ekonomi rakyat, dan basmi judi serta kejahatan dengan hukum yang seberat-beratnya. Baru setelah itu kita bisa tidur tenang tanpa takut ada anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri.
Wallahu a'lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
