Antara Gaya Dan Syariat : Kita Ada di Mana?
Agama | 2026-04-16 22:56:58
Di tengah perkembangan tren yang begitu cepat, hijab tidak lagi hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga bagian dari gaya hidup. Berbagai model, warna, dan cara pemakaian terus bermunculan, menawarkan keindahan sekaligus identitas.
Namun, di balik itu semua, ada satu pertanyaan yang tidak bisa kita hindari:
Apakah kita masih berada dalam koridor syariat, atau perlahan mulai bergeser?
Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapapun. Termasuk diri saya sendiri, yang masih terus belajar dan berproses. Karena pada akhirnya perjalanan dalam menutup aurat adalah perjalanan yang tidak terlalu mudah.
Ada keinginanan untuk tampil rapi. Untuk terlihat menarik. Untuk merasa percaya diri. Dan itu adalah hal yang manusiawi.
Namun, tanpa disadari, keinginan itu kadang membawa kita pada titik di mana batas antara gaya dan syariat mulai terasa kabur.
Hijab yang seharusnya menutup, terkadang masih menyisakan bagian yang terlihat. Leher yang terbuka, Lekuk yang masih tergambar, atau cara berpakaian yang lebih menonjolkan daripada menyamarkan.
Mungkin terlihat kecil.
Namun, dalam pandangan Allah, tidak ada yang benar-benar kecil ketika itu berkaitan dengan ketaatan.
Allah berfirman:
"... dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya ..." (QS. An-Nur: 31)
Ayat ini bukan sekedar perintah, tetapi juga bentuk penjagaan. Bahwa hijab bukan hanya simbol, melainkan perlindungan bagi kehormatan, bagi hati, dan bagi diri kita sendiri.
Karena menutup aurat bukan tentang sebagian, tetapi keseluruhan.
Disinilah dilema itu sering muncul. Kita ingin mengikuti perkembangan, tetapi juga ingin tetap taat. Kita ingin diterima oleh lingkungan, tetapi tidak ingin melanggar batas yang telah ditetapkan. Dan tanpa sadar, kita mulai berkompromi. Sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya, kita terbiasa. padahal, ketaatan tidak pernah menuntut kita untuk sempurna. Namun, ia selalu mengajak kita untuk terus memperbaiki.
Bukan tentang siapa yang paling baik, tetapi tentang siapa yang mau kembali.
Mungkin hari ini kita belum sepenuhnya sesuai. Mungkin masih ada yang perlu diperbaiki. Dan itu tidak apa-apa, selama kita tidak berhenti melangkah.
Karena yang berbahaya bukanlah ketidaksempurnaan, tetapi ketika kita merasa sudah cukup. Maka, pertanyaan itu kembali kepada diri kita masing-masing :
Di antara gaya dan syariat, kita sebenarnya sedang berdiri di mana?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
