Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rivaldo Putra Laksana

Perkembangan Robot Humanoid: Jadi Ancaman atau Peluang?

Teknologi | 2026-04-16 20:23:42
Ilustrasi Robot Humanoid. Foto: Rui Dias via Pexels

Perkembangan robot humanoid dalam satu dekade terakhir melaju jauh melampaui ekspektasi siapa pun. Kita mungkin masih ingat robot Sophia buatan Hanson Robotics yang viral pada 2016 robot yang bisa berbicara dan merespons pertanyaan sederhana. Itu 10 lalu. Kini robot humanoid berlari melintasi padang pasir, memasang komponen di lini produksi, bahkan bersaing dengan manusia dalam lomba lari setengah maraton.

Perkembangan Robot Humanoid: Bukan Lagi Sekadar Prototipe

Dulu robot humanoid identik dengan demo pameran teknologi yang lebih mirip pertunjukan sirkus daripada inovasi serius. Sekarang ceritanya berbeda. Berdasarkan laporan World Economic Forum, tahun 2024–2025 menandai pergeseran nyata: dari demonstrasi di laboratorium menuju uji coba lapangan dan kerja komersial terbatas. Robot Digit dari Agility Robotics kini bekerja di gudang logistik sungguhan. Atlas dari Boston Dynamics berlari, melompat, dan bermanuver di medan tidak rata. Tesla Optimus sudah bekerja di dalam pabrik Tesla sendiri, menangani sel baterai secara mandiri.

Yang membuat perkembangan robot humanoid ini berbeda dari hype teknologi biasa adalah cara mereka belajar. Berdasarkan analisis World Economic Forum, didukung AI mutakhir, robot humanoid kini mampu memahami lingkungan sekitarnya, mengambil keputusan, merencanakan aksi, dan menjalankan tugas kompleks secara mandiri serta belajar dan beradaptasi dengan cepat. Mereka bukan lagi mesin yang sekadar menjalankan perintah. Mereka belajar dari pengalaman, seperti manusia.

Tiongkok melangkah lebih jauh. Berdasarkan laporan Kompas.id, robot STAR1 buatan perusahaan Robot Era mampu berlari hampir 13 kilometer per jam melintasi berbagai medan padang rumput, kerikil, hingga aspal dan prosesor AI-nya menjalankan 275 triliun operasi per detik. Laptop terbaik saat ini hanya mampu 45–55 triliun operasi per detik. Selisihnya bukan tipis.

Berdasarkan laporan Tempo, di World Robot Conference 2025 di Beijing, lebih dari 200 perusahaan robotika hadir dan meluncurkan sekitar 100 produk baru hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Ini sinyal bahwa industri sedang bergerak serius.

Pandangan Visioner Para Tokoh Teknologi

Elon Musk punya keyakinan besar soal ini. Berdasarkan pernyataannya di US-Saudi Investment Forum, November 2025, ia menyebut robot humanoid akan menjadi industri terbesar dalam sejarah melampaui smartphone atau produk apa pun yang pernah ada, karena pada akhirnya setiap orang akan menginginkannya. Berdasarkan laporan Axios dari World Economic Forum di Davos, Januari 2026, Jensen Huang dari Nvidia juga satu suara: industri humanoid akan menjadi salah satu industri terbesar yang pernah ada.

Prediksi para miliarder teknologi memang perlu disaring dengan kepala dingin. Tapi ketika dua orang yang memimpin perusahaan paling berpengaruh di dunia AI bicara senada dan keduanya punya taruhan besar di industri ini ada sesuatu yang layak kita perhatikan.

Ancaman dan Peluang Perkembangan Robot Humanoid bagi Indonesia

Menyebut robot humanoid semata sebagai ancaman adalah penyederhanaan yang malas. Ya, pekerjaan fisik dan repetitif memang paling rentan tergantikan. Tapi di sisi lain, robot humanoid justru membuka pintu bagi hal-hal yang selama ini terlalu berbahaya untuk manusia.

Berdasarkan laporan Halo Robotics, di Indonesia, teknologi ini sudah mulai dijajaki untuk inspeksi di lokasi berbahaya dan operasi penyelamatan pasca bencana alam. Di sektor kesehatan, robot humanoid bisa merawat lansia di daerah yang kekurangan tenaga medis. Di tambang dan konstruksi, ia masuk ke zona yang tidak seharusnya dimasuki manusia.

Berdasarkan analisis Kompas.id, untuk negara seperti Indonesia, dengan populasi muda yang besar dan upah tenaga kerja yang relatif rendah, argumen bahwa robot akan langsung menggantikan manusia dalam waktu dekat kurang masuk akal secara ekonomi. Namun tekanan itu akan datang perlahan, tapi pasti. Dan yang paling berbahaya bukan saat robotnya sudah ada, melainkan saat kita tidak siap.

Peluangnya juga besar. Indonesia punya talenta digital yang terus tumbuh, riset robotika universitas yang mulai berkembang, dan posisi strategis sebagai pasar sekaligus mitra produksi potensial. Kita bisa bukan sekadar konsumen teknologi ini.

Sophia mungkin terasa jauh dan eksentrik ketika pertama kali muncul sepuluh tahun lalu. Tapi ia adalah petanda. Kini generasi robot yang jauh lebih canggih sudah berjalan di pabrik, gudang, dan padang pasir dan sebentar lagi, mungkin di lingkungan kita sendiri.

Pertanyaannya bukan lagi apakah robot humanoid akan mengubah dunia. Pertanyaannya adalah: kita mau jadi penonton, atau ikut membentuk perubahannya?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image