Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image galuh rosmaniar

Bully Verbal pada Anak, Bagaimana Agar Orangtua Dapat Menguatkan Mental Ananda?

Parenting | 2026-04-16 09:45:27

Penulis memiliki anak laki-laki berusia 11th. Ditengah perjalanan menginjak usia remaja, adalah kewajaran ketika pertemanan tak lagi setenang masa kanak-kanak. Apalagi ditengah gaya hidup modern hari ini dimana peran orangtua tergantikan oleh media sosial. Tak jarang oleh-oleh pulang sekolah selalu seputar teman yang usil dan jahil karena tumbuh tanpa hadirnya orangtua.

Walau berada di lingkungan sekolah agama, bullying bukan sesuatu yang lenyap begitu saja. Mau tidak mau kita harus sepakat, jika agama hanya dibebankan kepada indvidu, maka kerusakan moral tak bisa berhenti begitu saja. Sifat manusia yang sering lalai dan khilaf takkan bisa hilang hanya karena ia rajin beribadah. Bisa terkontrol, tapi tidak sepenuhnya hilang sifat-sifat buruknya.

Seperti koruptor yang tidak serta merta takut mengkorupsi uang negara setelah disumpah dibawah kitab suci. Namun, jika isi dalam kitab suci -Al Quran misalnya- diterapkan, maka hukum pasung karena tidak menjaga amanah rakyat tentu lebih pasti membuat jera. Intinya, iman individu tidak cukup menjadi parameter seseorang pasti tidak berbuat jahat, namun perlu aturan ketat yang bisa membuat kejahatan berhenti atau minimal terkendali.

Kembali kepada anak berusia 11th. Singkat cerita, walau anak penulis berada dalam sekolah agama, toh verbal bullying tetap ada. Mencela dengan ejekan fisik, bentuk potongan rambut bahkan memanggil tanpa makna hanya sekedar karena ingin membully kerap terjadi. Kadang bisa ditolerir, kadang cukup membuat telinga orangtua jadi getir. Apalagi jika si anak pulang dengan tetesan airmata karena kesal terus menerus dibully. Lantas, bagaimana tindakan orangtua?.

Yang pertama pastikan tidak ada tindakan fisik. Jika tindakan fisik terjadi beranikan diri untuk pasang badan menolong buah hati. Apalagi jika anak masih dibawah usia remaja, tidak jadi soal jika orangtua ikut turun. Darisitu anak jadi belajar bahwa orangtuanya selalu hadir untuk dirinya. Namun perlu diingat, ini hanya berlaku jika ada gesekan fisik dan memang anak kita menjadi korban, bukan malah pelakunya.

Kemudian kedua, ajarkan anak bahwa lisan tidak akan pernah menyakiti kita. Sekeras apapun ejekan itu, itu hanyalah kata-kata kosong yang tidak bisa menyakiti kita secara real. Masalah hati sangat bisa kita kontrol dengan kekuatan akal. Maka diskusi aktif dengan buah hati bisa menajamkan akalnya dan menguatkan hatinya. Contoh, jika anak diejek hitam kita bisa berdialog dengannya. Apakah kulit hitam adalah keburukan?, apakah kulit hitam membuat orang susah?, apakah kulit hitam membuatmu boleh dipenjara?.

Tentu saja tidak, karena warna kulit bukan pilihan kita. Ia muncul karena kehendak Tuhan dan menghinanya sama dengan menghina Tuhan. Dan kejahatan sesungguhnya adalah merasa memiliki fisik paling sempurna namun lisan yang buruk. Dengan diskusi-diskusi seperti itu anak belajar memahami benar salah dengan standar akal sehat yang berlandaskan agama, bukan dengan hati.

Ketiga, ajari ia berani bertindak masa bodoh. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Pembully verbal layaknya anjing yang menyalak, ia hanya menggertak dengan gonggongan tanpa makna. Maka sebagai anak yang berakal, ketika di gonggong oleh anjing tentu tindakan yang tepat adalah berlalu saja, bukan ikut menyalak.

Terakhir tak kalah penting, ajari anak-anak kita tentang betapa berharga dirinya. Pahamkan pada mereka makna nama indah yang kita sebagai orangtua sematkan. Pakaian layakyang kita berikan padanya, juga doa-doa penuh harapan yang kita panjatkan atas nama ananda. Beri penjelasan diri mereka terlampau berharga untuk merasa rendah di depan lisan yang hina. Jangan sampai keistimewaan yang ada pada dirinya luntur, padahal dia teramat istimewa bagi orang-orang yang menghargainya.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image