Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Amira Hasna Salsabila

Kota dan Dua Wajah Gizi

Update | 2026-04-13 19:08:03
Sumber: NutraIngredients

Di tengah gedung-gedung tinggi dan melimpahnya akses makanan di perkotaan, masalah gizi tidak serta-merta hilang. Ia justru berubah wajah menjadi lebih kompleks dan kerap luput dari perhatian. Di satu sudut kota, anak-anak masih tumbuh dengan keterbatasan asupan gizi. Di sudut lain, konsumsi makanan tinggi kalori justru meningkat seiring berkurangnya aktivitas fisik. Fenomena ini dikenal sebagai double burden of malnutrition, yaitu ketika kekurangan dan kelebihan gizi terjadi secara bersamaan dalam satu populasi. Kondisi ini semakin nyata terlihat di wilayah perkotaan, seperti Jakarta.

Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting di DKI Jakarta masih berada di kisaran 17,3%, dengan 5,7% di antaranya termasuk kategori stunting berat. Sementara itu, pada saat yang sama, tren kelebihan berat badan dan obesitas, terutama di kelompok remaja dan dewasa, justru terus meningkat. Bahkan, menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, kasus obesitas di DKI Jakarta mencapai 45,7% pada kelompok usia 15 tahun ke atas. Hal serupa juga disampaikan salah satu pakar gizi Indonesia, yaitu Prof. Aman Bhakti Pulungan pada 30 Oktober 2024.

“Saat ini, Indonesia tengah menghadapi Double Burden of Malnutrition (DBM), di mana suatu populasi mengalami malnutrisi ganda, yaitu kekurangan gizi, seperti stunting dan wasting, serta kelebihan gizi, seperti obesitas. Fenomena ini semakin umum ditemui di negara-negara Asia Tenggara yang mengalami perubahan sosial-ekonomi, urbanisasi, dan pola makan yang berubah,” ujar Prof. Aman Bhakti Pulungan pada acara Bincang Asik Bersama Pakar di Jakarta.

Perkotaan, salah satunya Jakarta, menjadi panggung utama perubahan ini. Kemudahan akses makanan yang ada tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas gizi. Makanan cepat saji dan ultra-processed food yang tinggi gula, garam, dan lemak, tetapi rendah zat gizi penting semakin mudah dijangkau. Sementara itu, ritme hidup yang cepat membuat aktivitas fisik kian terpinggirkan. Pekerjaan yang didominasi duduk dalam waktu lama juga memperkuat gaya hidup sedentari. Kedua kombinasi ini meningkatkan risiko obesitas, terutama pada remaja dan orang dewasa.

Di sisi lain, wajah berbeda kota juga menyimpan cerita yang kontras. Di balik hiruk-pikuk modernitas, masih ada kelompok masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Ketimpangan ekonomi menyebabkan tidak semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap pangan bergizi. Dalam satu lingkungan yang sama, bahkan dalam satu keluarga, bisa ditemukan anak dengan stunting dan orang dewasa dengan kelebihan berat badan. Kondisi ini menegaskan bahwa masalah gizi bukan sekadar soal ketersediaan makanan, melainkan juga kualitas dan distribusinya.

“Masalah-masalah ini (ketimpangan gizi) ada semuanya di Indonesia dan jumlahnya cukup besar. Salah satu penyebab utamanya adalah asupan makanan. Kita makan banyak dan enak, tetapi belum tentu cukup dan seimbang,” kata Prof. Endang L. Achadi pada acara Talkshow Hai Fest bertajuk “Bicara Gizi: Dari Piring Keluarga ke Kebijakan Negara” di Balai Kartini Expo, Jakarta, Selasa (9/12/2025). Ia menekankan bahwa masyarakat di Indonesia, terutama perkotaan, sering terjebak pada makanan tanpa memperhitungkan kualitas gizi makanan tersebut.

Dampak dari beban ganda malnutrisi ini tidak sederhana. Anak dengan stunting akan berisiko mengalami penurunan kemampuan belajar serta memiliki peluang lebih rendah untuk mencapai pendidikan dan pekerjaan yang optimal di masa dewasa. Sementara itu, obesitas meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung koroner. Bahkan, pada beberapa kasus di perkotaan, remaja dengan obesitas sudah mulai menunjukkan gejala resistensi insulin dan tekanan darah tinggi sejak usia muda. Jika terjadi bersamaan dalam satu populasi, kondisi ini tentu akan memperberat beban sistem kesehatan dan menurunkan kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.

Upaya mengatasi double burden of malnutrition tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar karena perubahan justru bisa berangkat dari hal sederhana dalam keseharian. Kita dapat memulainya dengan lebih cermat memilih makanan, tidak sekadar kenyang, tetapi juga memperhatikan kandungan gizinya. Selain itu, konsumsi makanan segar dan beragam, serta membatasi asupan gula, garam, dan lemak berlebih menjadi langkah awal yang realistis. Bahkan, kebiasaan sederhana, seperti berjalan kaki, berolahraga ringan, atau mengurangi waktu duduk terlalu lama juga dapat membantu menjaga keseimbangan energi tubuh.

Namun, perubahan perilaku individu tersebut tidak cukup tanpa dukungan lingkungan yang memadai. Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial. Kebijakan, seperti penyediaan pangan bergizi dengan harga terjangkau, pengendalian makanan olahan, penyediaan sarana olahraga, hingga edukasi gizi yang masif, menjadi pondasi penting dalam upaya penanganan beban ganda masalah gizi. Sejumlah negara telah lebih dulu melangkah. Jepang, misalnya, mengintegrasikan edukasi gizi melalui program Shokuiku sejak usia sekolah. Sementara itu, Meksiko memilih pendekatan berbeda dengan mengenakan pajak pada minuman berpemanis untuk menekan konsumsi gula. Langkah-langkah tersebut terbukti mampu mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat.

Fenomena double burden of malnutrition pada akhirnya menunjukkan bahwa masalah gizi bukan lagi persoalan sederhana, melainkan hasil dari perubahan pola hidup, lingkungan, dan ketimpangan yang saling berkaitan. Kemajuan di perkotaan tidak menjamin kualitas kesehatan yang baik, karena permasalahan gizi yang ada tidak lagi sekadar tentang kekurangan makanan, melainkan tentang ketidakseimbangan dalam pola hidup dan konsumsi. Penanganannya pun harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Tanpa penanganan yang tepat, kota modern justru berisiko menjadi tempat berkembangnya masalah gizi yang semakin kompleks.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image