Tafsir atau Tafsir-tafsiran
Agama | 2026-04-12 12:51:47
Ada satu perubahan yang pelan-pelan terjadi dalam cara manusia memahami agama—dan sering kali luput disadari.
Hari ini, belajar agama terasa semakin mudah. Cukup membuka TikTok, menggulir layar beberapa detik, lalu satu ayat terasa sudah dipahami. Beralih ke Instagram, menemukan potongan hadis yang menyentuh, lalu disimpan dan diyakini. Di YouTube, ceramah singkat ditonton, dan entah mengapa terasa sudah cukup.
Di titik ini, muncul satu pertanyaan penting: apakah yang dipahami benar-benar ilmu, atau sekadar sesuatu yang terasa benar?
Dulu, belajar agama bukan sesuatu yang instan. Ada proses yang dijalani dengan perlahan—datang, duduk, mendengar, lalu merenungkan. Ada bimbingan, ada sanad, ada arah yang dijaga. Ilmu tidak hanya diterima, tetapi juga dituntun.
Kini, segalanya menjadi cepat—terlalu cepat. Dan yang serba cepat itu sering kali tidak memberi ruang bagi kedalaman.
Media sosial memang membuka akses yang luas. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Nurrohim, kemudahan ini juga membawa risiko besar berupa distorsi makna agama akibat pemahaman yang parsial (Nurrohim, 2025). Ayat dipotong, makna dipadatkan, dan kesimpulan dilompatkan.
Padahal Al-Qur’an sendiri telah memberi peringatan yang sangat tegas:“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85).
Ayat ini seperti cermin yang memantulkan realitas hari ini—ketika sebagian ayat diambil karena terasa cocok, sementara bagian lain diabaikan. Di sinilah bahaya itu bermula.
Pemahaman yang dibangun dari potongan tidak pernah benar-benar utuh. Dan sesuatu yang tidak utuh sangat mudah disalahartikan. Dalam kajian lain, Ahmad Nurrohim juga menegaskan bahwa literasi keagamaan di era digital masih lemah, sehingga banyak orang menerima informasi tanpa verifikasi yang cukup (Nurrohim, 2024). Apa yang terlihat meyakinkan sering kali langsung dianggap benar.
Di era ini, siapa saja bisa berbicara dan menafsirkan. Namun tidak semua memiliki dasar yang cukup. Padahal Al-Qur’an telah memberi arah yang jelas:“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).
Ini bukan sekadar anjuran, melainkan prinsip. Bahwa dalam memahami agama, ada otoritas keilmuan yang harus dijaga. Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak orang merasa cukup belajar dari apa yang muncul di layar. Seolah-olah algoritma bisa menggantikan bimbingan.
Padahal, menurut Ahmad Nurrohim, tafsir tidak bisa dilepaskan dari metodologi dan otoritas keilmuan. Tanpa itu, makna bisa bergeser jauh dari maksud aslinya (Nurrohim, 2019).
Al-Qur’an kembali mengingatkan:“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya ” (QS. Al-Isra: 36).
Ayat ini menjadi garis batas—bahwa tidak semua yang viral layak diikuti. Karena pada akhirnya, agama bukan tentang apa yang terasa benar, tetapi tentang apa yang memang benar.
Fenomena ini juga membawa dampak yang lebih luas. Kesalahan pemahaman tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi bisa menyebar ke banyak orang. Ahmad Nurrohim dalam salah satu kajiannya menunjukkan bagaimana penyebaran makna jihad yang keliru di media sosial dapat membentuk pemahaman yang menyimpang (Nurrohim, 2023).
Al-Qur’an menggambarkan hal ini dengan sangat serius:“ dan mereka memikul dosa-dosa orang yang mereka sesatkan ” (QS. An-Nahl: 25).
Di titik ini, persoalannya tidak lagi sederhana. Ini bukan hanya tentang salah paham, tetapi tentang tanggung jawab.
Namun demikian, media sosial bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan. Ia tetap bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Bahkan, Ahmad Nurrohim juga menegaskan bahwa digitalisasi membuka peluang besar dalam pengembangan studi Islam, selama diiringi dengan pemahaman yang benar (Nurrohim, 2025).
Masalahnya bukan pada akses, melainkan pada kedalaman. Sering kali, proses belajar berhenti di permukaan.
Padahal Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan pemahaman yang instan:“Agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya ” (QS. Shad: 29).
Tadabbur berarti masuk lebih dalam—tidak berhenti di arti, tetapi mencari makna.
Di sinilah letak perbedaannya: antara sekadar tahu dan benar-benar paham.
Belajar agama tanpa bimbingan bukan hanya berisiko kehilangan arah. Yang lebih berbahaya, arah yang salah sering kali tidak disadari—karena terasa benar, terasa cukup, dan terasa meyakinkan.
Padahal belum tentu.
Karena itu, mungkin yang dibutuhkan hari ini bukan lebih banyak konten, tetapi lebih banyak kesadaran: kesadaran untuk tidak langsung percaya, untuk mencari sumber yang jelas, dan untuk mengakui bahwa memahami agama adalah proses panjang.
Pada akhirnya, setiap orang memang sedang belajar.
Namun pertanyaannya tetap sama: yang dipahami hari ini—benar-benar tafsir, atau hanya tafsir-tafsir-an?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
