Pasca Lebaran, Banyak Keluarga Terlilit Utang: Sistem Islam Solusinya
Ekonomi Syariah | 2026-04-12 12:40:14Momentum Idul Fitri yang seharusnya disambut dengan sukacita oleh keluarga muslim, justru dibayangi kecemasan karena tagihan utang. Mirisnya, ini bukan kali pertama terjadi.
Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH), menyebutkan bahwa di balik 'ritual' tahunan menjelang Lebaran, rakyat justru dihimpit masalah hidup akibat harga barang yang kian melambung. Kondisi ini tetap terjadi meski pemerintah telah berulang kali menerapkan berbagai program seperti diskon, bantuan sosial (bansos), hingga pasar murah dengan alokasi anggaran yang cukup fantastis. "Fenomena tahunan itu menunjukkan rapuhnya daya tahan ekonomi rumah tangga Indonesia ketika bertemu dengan kenaikan harga, ongkos mobilitas, tekanan kurs, dan jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran," kata Achmad Nur di Jakarta, Sabtu ( Nusantara news.net, 14/3/2026).
Di tengah rapuhnya daya beli keluarga, era digitalisasi memberikan alternatif solusi utang yang makin membahayakan ekonomi keluarga. Perputaran ekonomi rakyat justru difasilitasi utang di tengah menurunnya petumbuhan upah. Hal ini menjadikan kondisi keluarga bergantung pada utang ribawi untuk memenuhi kebutuhan rutin dan semi rutin. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam sistem saat ini, kebutuhan ekonomi masyarakat sering kali tidak mampu dipenuhi oleh kemampuan finansial yang dimiliki sehingga utang menjadi solusi.
Belum lagi dalam sistem kapitalisme, ramadhan dan lebaran tidak lagi dipandang sebagai momentum spiritual, melainkan komoditas ekonomi. Tekanan sosial untuk tampil "layak" pada hari raya, mulai dari baju baru hingga sajian istimewa adalah hasil fabrikasi industri yang masif. Akibatnya, keluarga-keluarga muslim tersandera antara kewajiban syariat dan ekspektasi sosial yang melampaui daya beli. Media sosial dan kebutuhan untuk diakui secara sosial pun telah mendorong banyak orang untuk menempuh cara instan atau bahkan berutang demi memenuhi ekspektasi penampilan saat lebaran. Fenomena Flexing ini mengubah lebaran menjadi momen sosial yang menonjolkan aspek materialistis.
Inilah dampak diterapkannya sistem kapitalisme. Ramadhan dan lebaran dikapitalisasi menjadi ajang konsumsi besar-besaran. Perputaran ekonomi rakyat tidak digerakkan oleh pendapatan riil yang produktif, melainkan oleh utang ribawi yang mencekik. Rakyat berutang untuk memenuhi kebutuhan harian yang pada gilirannya semakin memiskinkan mereka lewat bunga yang berlipat.
Kondisi ini bukan sekedar fenomena sosial, melainkan bukti nyata pengabaian negara terhadap fungsinya sebagai pelayan rakyat (raa'in). Negara hanya berperan sebagai pendukung kepentingan kapitalis global. Negara memberikan legitimasi terhadap praktik riba bahkan turut melegalkan dan mengatur lembaga pinjaman berbasis riba.
Dalam Islam, gaya hidup dan ibadah bukan dua hal terpisah, melainkan satu kesatuan yang berlandaskan prinsip qana’ah dan kesederhanaan. Ibadah (seperti puasa Ramadan) seharusnya melahirkan sifat tawadu’ (rendah hati). Jika setelah sebulan berpuasa kita justru merasa perlu pengakuan lewat materi saat mudik, berarti esensi pengendalian diri saat puasa belum sepenuhnya meresap dalam jiwa.
Islam tidak melarang berpakaian bagus karena Allah menyukai keindahan, tetapi Islam melarang berlebihan. Kesuksesan di perantauan bukan diukur dari merk kendaraan atau pakaian, melainkan dari kehalalan rezeki dan sikap mau berbagi.
Islam menjamin kebutuhan pokok (pangan, sandang, dan papan) tiap individu terpenuhi, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Distribusi harta harus merata dan adil sebagaimana yang Allah perintahkan dalam Al-Qur’an:
" (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu ”(QS Al-Hasyr: 7).
Selain distribusi yang adil, Islam menggunakan mata uang berbasis emas dan perak (dinar dan dirham) yang tahan terhadap inflasi. Stabilitas ini mencegah keluarga terjatuh dalam kemiskinan sistemik akibat lonjakan harga barang saat hari raya.
Negara wajib mengelola sumber daya alam milik umum secara mandiri untuk mendanai layanan publik secara gratis. Negara juga menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya sehingga rakyat tidak perlu berutang untuk sekadar bertahan hidup.
Fenomena kepungan utang ini bukan sekadar masalah gaya hidup individu, melainkan kegagalan sistemik dalam mendistribusikan kekayaan. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan sekadar imbauan hidup hemat.
Keluarga membutuhkan sistem yang mampu menyejahterakan secara nyata. Sistem yang mengembalikan fungsi asli negara sebagai pelindung dan penjamin kesejahteraan. Dalam pandangan Islam, fungsi pengurusan ini hanya bisa terwujud jika negara menerapkan syariat kaffah dalam institusi politik Islam. Wallahu’alam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
