Antara Konten dan Kesadaran: Tren Halal Selebgram Saat Ramadhan
Edukasi | 2026-04-04 17:18:26
Bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah, tetapi juga mempengaruhi dinamika gaya hidup, termasuk di ruang digital. Salah satu fenomena yang menarik adalah perubahan gaya berbusana sejumlah selebgram yang tampil lebih tertutup dan bernuansa Islami selama Ramadhan dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Berdasarkan hasil pengamatan pada platform seperti Instagram dan TikTok, terlihat adanya pergeseran konten yang cukup signifikan. Sejumlah kreator yang sebelumnya berpenampilan kasual atau terbuka mulai mengenakan hijab serta pakaian longgar. Konten yang diunggah pun cenderung beralih ke tema religius seperti aktivitas ibadah, refleksi diri, dan pesan-pesan keislaman. Berdasarkan pengamatan sederhana, sebagian mahasiswa juga menyadari perubahan tersebut, namun menganggapnya sebagai hal yang wajar dalam konteks media sosial.
Fenomena ini dapat dipahami dari dua sisi. Dari sisi religius, Ramadhan sering dimaknai sebagai momen refleksi dan perbaikan diri, sehingga perubahan gaya berpakaian dapat dilihat sebagai bentuk upaya mendekatkan diri pada nilai-nilai Islam. Dalam konsep ekonomi Islam, perilaku konsumsi dan gaya hidup idealnya berorientasi pada falah, yaitu kesejahteraan yang tidak hanya bersifat material tetapi juga spiritual.
Namun di sisi lain, dinamika media sosial menunjukkan adanya logika industri yang kuat. Konten kreator cenderung menyesuaikan diri dengan tren dan preferensi audiens untuk meningkatkan engagement. Dalam konteks ini, busana Islami tidak hanya merepresentasikan nilai religius, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi personal branding.
Dalam perspektif ekonomi industri halal, fenomena ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai halal telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup (halal lifestyle). Tren berbusana Islami yang ditampilkan oleh selebgram secara tidak langsung berkontribusi dalam meningkatkan eksposur modest fashion dan memperluas pasar produk halal, khususnya di kalangan generasi muda.
Meski demikian, fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan terkait konsistensi. Perubahan yang bersifat temporer berpotensi memunculkan persepsi bahwa nilai-nilai Islami hanya dijadikan tren musiman, bukan sebagai prinsip yang berkelanjutan. Dalam ekonomi Islam, konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai tersebut menjadi penting karena berkaitan dengan integritas dan tujuan jangka panjang dalam mencapai keberkahan.
Dengan demikian, tren berbusana Islami di kalangan selebgram selama Ramadhan mencerminkan adanya persinggungan antara kesadaran religius dan kepentingan industri konten digital. Oleh karena itu, masyarakat sebagai konsumen media perlu bersikap lebih kritis dan selektif dalam memahami serta menyikapi konten yang dikonsumsi, agar tidak hanya terjebak pada tren, tetapi juga mampu menangkap nilai yang lebih substansial.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
