Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rival Agustina

Ngaji di Tengah Notifikasi: Siapa yang Sebenarnya Kita Dengar?

Agama | 2026-04-03 10:05:38

Pernah nggak sih

lagi buka Al-Qur’an atau dengerin kajian, tiba-tiba "ting" notifikasi masuk. Awalnya cuma lihat sebentar, tapi ujung-ujungnya pindah ke chat, lalu scroll, lalu lupa lagi ngapain. Tiba-tiba waktu udah habis, tapi yang dibaca cuma dua ayat itu pun sambil setengah sadar.

Kita sering bilang, “aku lagi belajar,” tapi jujur aja, fokus kita kebagi. Bahkan mungkin bukan kebagi, tapi kalah.

Lucunya, kita hidup di zaman di mana suara itu banyak banget. Ada suara dari konten, opini orang, komentar, tren, bahkan standar hidup yang nggak pernah kita minta tapi terus muncul di layar. Semua terasa penting. Semua terasa harus didengar.

Tapi pertanyaannya simpel,

di antara semua suara itu kita lagi denger siapa, sih?

Al-Qur’an itu sebenarnya bukan sekadar bacaan. Dia lebih kayak “suara” yang ngajak kita berhenti sebentar. Kayak ada yang bilang, “eh, balik lagi ke diri kamu.” Tapi suara ini beda, dia nggak maksa, nggak teriak, nggak viral. Justru karena dia tenang, sering kali kalah sama yang rame.

Kayak lagi di ruangan penuh orang ngomong. Yang paling keras pasti paling kedengeran. Padahal yang paling penting belum tentu yang paling berisik.

Kadang kita ngerasa kosong, padahal setiap hari kita “isi” diri kita dengan banyak hal. Tapi mungkin yang kita isi bukan yang kita butuhin. Kayak minum air laut, semakin diminum, semakin haus.

Dan di situ, Al-Qur’an datang bukan buat nambah “isi”, tapi buat ngerapihin. Bukan buat bikin kita terlihat baik, tapi buat bikin kita jadi baik, pelan-pelan.

Masalahnya, kita sering memperlakukan Al-Qur’an kayak notifikasi juga, dibuka sebentar, terus lewat. Padahal dia bukan sesuatu yang harus “dikejar cepat”, tapi sesuatu yang harus “dihadirin pelan”.

Coba bayangin ini,

kita bisa hafal lirik lagu yang kita putar berulang-ulang, bahkan tanpa sadar. Tapi kenapa ayat terasa susah nempel?

Mungkin bukan karena ayatnya sulit. Tapi karena kita jarang benar-benar mendengarkan.

Ada bedanya antara “dengar” dan “masuk”. Yang satu lewat, yang satu tinggal.

Dan mungkin, selama ini kita terlalu sering memberi ruang ke hal-hal yang cuma lewat.

Jadi, bukan soal kita kurang waktu. Tapi soal kita kasih waktu itu ke siapa.

Di tengah semua notifikasi yang nggak pernah berhenti, sebenarnya ada satu panggilan yang selalu sama, nggak berubah, nggak ikut tren, nggak butuh validasi. Tapi dia nunggu.

Bukan buat diprioritaskan karena kewajiban.

Tapi karena kita butuh.

Mungkin kita nggak perlu langsung berubah jadi sempurna. Nggak harus langsung khatam, nggak harus langsung paham semuanya. Cukup mulai dari satu hal kecil: benar-benar hadir.

Satu ayat, tapi didengar.

Satu momen, tapi tanpa distraksi.

Karena bisa jadi, hidup kita nggak berubah bukan karena kurang petunjuk, tapi karena kita terlalu sibuk mendengar yang lain.

Dan kalau suatu hari kita mulai memilih untuk benar-benar mendengar

mungkin kita akan sadar, suara yang paling menenangkan itu ternyata bukan yang paling keras,

tapi yang paling jujur memanggil kita pulang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image