Rawon Bukan Tumor
Sastra | 2026-04-01 12:47:51
Rawon tumor ini sebuah skenario fiktif sekaligus pengocok perut yang membuncit. Bayangkan kepanikan yang terjadi saat bungkusan kresek yang tertukar itu dibuka oleh Inces dan mbak Bunga.
Pada suatu hari seorang wanita cantik sebut saja namanya Inces, keluar dari sebuah rumah sakit di Makassar dengan membawa sebuah bungkusan dalam kantong kresek berwarna hitam.
Sesampainya ditepi jalan raya, inces menghentikan sebuah angkot jurusan Pasar Sentral ke sekitar wilayah Sudiang sekaligus mengarah ke rumahnya, ia pun bergegas menaiki angkot, lalu duduk disamping penumpang yang juga membawa kresek hitam, disimpanlah kresek tadi bersebelahan dengan penumpang angkot.
Jeng Inces ini tampilannya modis tapi wajahnya agak pucat, maklum ia baru saja mengurus operasi keluarganya di rumah sakit.
Sementara Bunga adalah Ibu-ibu enerjik, pemilik warung makan Rawon khas kuliner Jawa Timur.
Keduanya di dalam angkot yang berguncang keras. Inces dan Bunga duduk bersebelahan, masing-masing memegang kantong kresek hitam yang identik.
Akhirnya terjadilah percakapan seru antara Inces dan mbak Bunga diatas angkot.
Inces memulai percakapan dengan senyum manisnya. Maaf, bisa bergeser sedikit mbak, kata inces kepada bunga. "Iya...mbak," ujar bunga sembari membalas senyum Inces.
"Terimakasih," timpal inces, sembari berkenalan.
Keakraban mulai mencair, lalu Inces menghela napas panjang.
"Aduh, Mbak... rasanya kaki saya mau copot. Seharian di rumah sakit itu mental bener-bener diuji," keluhnya kepada teman yang baru dikenalnya itu.
Mbak Bunga menimpali ucapan Inces. Wah, dari rumah sakit ya, Jeng? Sakit apa? Saya juga ini baru dari pasar sentral, ngejar daging bagus buat jualan rawon.
Lanjut Inces, ini, Mbak... sepupu saya baru operasi pengangkatan tumor. Tadi dokternya kasih ini (menunjuk kresek di pangkuannya), katanya daging tumornya harus dibawa pulang buat dikubur sendiri. "Saya sampai ngeri liatnya, tapi ya mau gimana lagi, sudah tradisi keluarga kalau organ tubuh yang diangkat harus "diistirahatkan" dekat rumah," ungkap Inces.
Bunga, (Bergidik) Duh, Jeng Inces kuat ya. Kalau saya mah sudah pingsan. Tapi bener itu, harus dikubur baik-baik. Kalau saya bawa ini (mengangkat kresek miliknya), isinya malah bikin lapar. Daging sapi beratnya 2 kilo! Mau saya masak rawon buat jualan di warung yang dikelola suami. Masak dagingnya harus empuk, kalau nggak, pelanggan bisa marah!.
Inces, Wah, rawonnya pasti enak banget ya, Mbak Bunga? Wangi kluweknya saja sudah tercium sampai sini. "Kapan-kapan, kalau kelar urusanku, saya singgah ke warungnya mbak bunga, untuk nyicip rawon masakan mbak Bunga sama suaminya," kata Inces sambil senyum.
Bunga membalas kata-kata Inces, Oh iya harus dong!. Rahasianya ada di cara motong dagingnya. Harus pas seratnya. Eh, Jeng, itu bungkusan tumornya nggak bau amis?.
Inces, Nggak sih, kan dibungkus plastik berlapis-lapis di dalam kresek hitam ini. Saya taruh bawah ya Mbak, pegal banget tangan saya.
Bunga, Iya, saya juga pegel nih, taruh bawah sini biar nggak tumpah darah dagingnya. Eh, denger-denger dokter di sana bagus ya? Sepupu Jeng gimana kondisinya?
Mereka pun tenggelam dalam obrolan seru tentang biaya rumah sakit, resep rawon, sampai gosip tetangga.
Angkot tiba-tiba mengerem mendadak.
Sopir mengingatkan penumpang, "Sudiang! Sudiang! yang turun depan gerbang!".
Inces, (Terperanjat) Eh, itu rumah saya! Mbak Bunga, saya duluan ya! Seru banget ngobrolnya sampai nggak berasa sudah sampai.
Bunga, Iya Jeng Inces, salam buat keluarganya ya! Semoga cepat sembuh! Saya juga mau turun di depan situ ndak jauh kok jeng, mau langsung tak eksekusi daging untuk rawonnya!
Dengan terburu-buru, Inces menyambar kresek hitam di dekat kakinya. Begitu juga Bunga, dia mengambil kresek hitam yang tersisa tanpa melihat lagi isinya.
Inces turun dahulu dengan senyum lebar, sementara Bunga masih di dalam angkot dan tak lama turun persis depan warungnya.
****
Satu Jam Kemudian...
Sesampainga di rumah, Inces segera ke belakang rumah (Memegang cangkul kecil di halaman belakang) "Bismillah, semoga tenang ya..." (Inces membuka kresek hitam untuk proses pemakaman, matanya membelalak).
"Lho? Kok tumornya segar banget? Ada lemaknya... lho, ini kan... daging sapi milik mbak Bunga buat bahan rawon?!"
Inces bingung di halaman belakang rumah, hampir saja menguburkan daging sapi kualitas premium yang harganya lagi mahal-mahalnya.
Tak kalah heboh, di Warung Rawon Mbak Bunga.
Bergegas Bunga ke dapur, (Sambil mengasah pisau dengan semangat) "Bapaknya! Sini, dagingnya sudah datang! Siapkan panci besarnya!" (Bunga membuka kresek hitam dengan mantap, lalu mendadak pucat pasi) "Bapaaakkk! Iki daging opo kok bentuke kayak kembang kol, tapi berdarah?! Rawon kita bakal dadi horor iki, pak!!!".
Bunga pun nangis-nangis histeris, karena mengira dia bawa "potongan tubuh" orang, sampai suaminya ikut panik, kebingungan.
Usai kekacauan kemarin, keseruan "daging yang tertukar" di angkot jurusan Pasar Sentral ternyata belum menemui titik akhir.
Takdir seolah punya selera humor yang tinggi.
Keesokan harinya, di bawah terik matahari Makassar yang menyengat, Inces kembali menaiki angkot yang sama menuju rumah sakit. Siapa sangka, di bangku sudut yang bergetar itu, ia kembali bertemu Mbak Bunga. Dua perempuan itu tertegun sejenak sebelum akhirnya saling berpelukan erat. Di tengah deru mesin angkot, mereka bertukar ma'af sembari bercerita tentang kresek yang tertukar, seolah saling mengingatkan agar lebih teliti sebelum turun dari angkot atau dimana pun berada.
Mbak Bunga bercerita dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir. "Jeng Inces, suamiku sampai pucat pasi lho. Orang-orang di rumah mengira aku membawa potongan tubuh manusia. Hampir saja urusannya sampai ke polisi kalau suamiku tidak segera menjelaskan itu tumor hasil operasi yang tertukar," isaknya.
Inces menghela napas panjang, membayangkan betapa kacau, miris antara komedi dan tragedi.
"Sama, Mbak. Saya pun hampir menguburkan daging sapi kualitas premium itu di halaman belakang. Padahal harganya lagi mencekik leher. Saya pikir itu... ah, sudahlah," Inces tertawa kecil menutupi rasa ngeri.
"Untung belum tak bumbui keluak. Kalau tidak, warung Mbak bakal viral dengan menu paling horor sejagat raya, Rawon Tumor," Sahut Bunga terkekeh dalam tangisnya.
"Iya, Jeng. Bayangkan pelanggan makan sambil merinding. Tapi syukurlah, daging sapi sampeyan masih aman di pendingin?," Inces menenangkan hati mbak Bunga.
"Daginge masih ada to jeng Inces," kata Bunga sedikit panik.
"Masih, Mbak. Tersimpan rapi di kulkas menanti diolah yang benar," jawab Inces haru.
Sepulang dari pasar sentral, Mbak bunga pun mampir di rumahnya Inces untuk mengambil kresek yang tertukar di angkot. Selanjutnya, Inces ikut ke rumahnya Mbak Bunga untuk membawa pulang daging tumor milik saudaranya.
Untuk menebus kesalahannya, Inces pun menemani bunga ke rumah sekaligus warung.
Sesampainya di warung sederhana milik Mbak Bunga, suasana berubah menjadi khidmat. Inces menyerahkan kembali daging sapi kualitas premium itu, dan Mbak Bunga menyerahkan bungkusan tumor medis yang sempat singgah di warung rawon mbak Bunga untuk segera dikubur secara layak.
Mbak Bunga kemudian masuk ke dapur dan keluar membawa dua mangkuk rawon panas yang aromanya mengepul nikmat. Bukan dari daging tumor yang tertukar itu, melainkan dari sisa stok terakhir yang ia punya.
"Iki jeng Inces," ujar Bunga sambil menyodorkan mangkuk rawon yang lagi anget-angetnya untuk disantap siang.
"Hidup ini persis seperti daging yang tertukar kemarin. Seringkali kita menerima sesuatu yang buruk, yang pahit, bahkan yang mengerikan seperti tumor, padahal kita mengharapkan daging yang lezat. Kita sering protes pada Tuhan, kenapa 'bungkusan' hidup kita isinya masalah?," beber Mbak Bunga.
Inces terdiam, teringat lelahnya mengurus operasi saudaranya di rumah sakit yang baru saja ia tinggalkan.
Bunga melanjutkan dengan senyum tulus, "Tapi ternyata, semua itu cuma ujian kesabaran. Kalau kemarin aku langsung marah-marah atau Jeng Inces langsung membuang daging itu tanpa tabayyun (klarifikasi), kita tidak akan duduk di sini makan rawon bersama. Masalah berat itu seperti tumor, harus dibuang. Tapi berkah itu seperti rawon ini, harus dinikmati bersama."
Mereka berdua makan dengan lahap di warung lokasinya tepat di pinggir jalan, mengabaikan debu jalanan. Di balik tawa mereka yang pecah, ada rasa syukur yang mendalam.
Mereka sadar bahwa seberat apa pun beban hidup, entah itu urusan rumah sakit yang menguras energi atau kepulan asap dapur yang harus terus dijaga, semuanya akan terasa ringan jika dihadapi dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
Siang menjelang sore itu, di warung kecil itu, tidak ada Rawon Tumor, yang ada hanyalah Rawon Persahabatan, pengingat bahwa di balik setiap kekacauan takdir, selalu ada rencana Tuhan yang lebih nikmat untuk disantap bagi mereka yang mau bersabar dan bersyukur.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
