Etika Lisan sebagai Cermin Kualitas Diri dalam Perspektif Islam
Agama | 2026-03-23 15:05:04Etika Lisan sebagai Cermin Kualitas Diri dalam Perspektif Islam
Dalam pandangan hemat penulis, kualitas seseorang tidak semata diukur dari aspek intelektual atau capaian material, melainkan juga dari kematangan akhlaknya, terutama dalam menjaga lisan. Fenomena banyaknya individu yang gemar berbicara tanpa mempertimbangkan manfaat dan konteks menunjukkan adanya krisis etika komunikasi di tengah masyarakat modern. Ungkapan yang menyatakan bahwa “kerendahan seseorang terlihat dari banyaknya bicara yang tidak berguna serta berbicara tanpa diminta” sejatinya sejalan dengan nilai-nilai fundamental dalam ajaran Islam.
Merujuk pada ajaran Nabi Muhammad SAW, prinsip berkata baik atau diam merupakan standar moral yang sangat tinggi dalam komunikasi. Hal ini menegaskan bahwa setiap ucapan tidak hanya memiliki dimensi sosial, tetapi juga dimensi spiritual yang akan dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, berbicara bukan sekadar aktivitas verbal, melainkan manifestasi dari kesadaran iman dan kualitas kepribadian seseorang.
Lebih lanjut, dalam perspektif keilmuan Islam sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang paling berpotensi menjerumuskan manusia pada kesalahan. Oleh karena itu, pengendalian diri dalam berbicara menjadi bagian dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Seseorang yang mampu menahan diri dari perkataan yang tidak bermanfaat menunjukkan kedewasaan spiritual sekaligus kecerdasan emosional.
Dalam konteks kekinian, etika lisan menjadi semakin relevan di era digital, di mana komunikasi tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui media sosial. Banyaknya ujaran yang tidak produktif, bahkan cenderung provokatif, memperlihatkan bahwa nilai-nilai adab dalam berbicara mulai terabaikan. Oleh karena itu, rekonstruksi kesadaran etis dalam berkomunikasi menjadi sebuah keniscayaan, baik dalam ruang privat maupun publik.
Dengan demikian, dalam hemat penulis, menjaga lisan adalah indikator utama kemuliaan akhlak. Seseorang yang bijak tidak akan berbicara kecuali ada nilai kebaikan di dalamnya. Sebaliknya, banyak bicara tanpa makna justru mencerminkan kelemahan karakter. Maka, membangun budaya komunikasi yang santun, selektif, dan bermakna merupakan bagian dari upaya membentuk pribadi yang unggul secara moral dan spiritual.
Banjar, 23 Maret 2026 / 3 Syawwal 1447 H
PenulisDr. Hisam AhyaniDosen Institut Miftahul Huda Al Azhar (IMA) Kota Banjar, Jawa Barat
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
