Aku, Ramadhan, Idul Fitri, dan Kenangan yang tak Pernah Usai
Sastra | 2026-03-21 14:09:32
OPINI - Maka Ramadhan pun datang—bukan sekadar sebagai waktu yang berulang dalam hitungan kalender, melainkan sebagai isyarat yang mengetuk kesadaran. Ia hadir tanpa suara, namun menggema di dalam dada. Seakan ada sesuatu yang lama tertinggal, perlahan dipanggil pulang.
Malam pertama Tarawih bukanlah sekadar awal ibadah. Ia adalah gerbang—tempat dunia luar mulai meredup, dan dunia batin mulai menyala. Di antara derap langkah menuju masjid, di sela tawa yang kian jarang terdengar seperti dahulu, ada sesuatu yang diam-diam bergerak: kenangan yang bangkit, dan rasa yang tak lagi sama.
Barangkali, Ramadhan memang tidak pernah berubah.Kitalah yang perlahan menjauh dari maknanya.
Dahulu, segala terasa sederhana—namun justru di situlah rahasia kebahagiaan bersemayam. Kita berpuasa tanpa banyak tanya, beribadah tanpa beban makna yang rumit. Hati masih bening, menerima tanpa curiga, mencintai tanpa syarat. Apa yang dilakukan terasa cukup—karena jiwa belum dipenuhi oleh hiruk yang memecah keheningan.
Kini, kita kembali pada Ramadhan dengan diri yang berbeda. Lebih dewasa, namun juga lebih penuh.Lebih tahu, namun seringkali lebih jauh.
Di tengah riuh dunia yang tak pernah benar-benar diam, manusia modern kehilangan satu hal yang paling hakiki: keheningan. Padahal, dalam tradisi jiwa, keheningan adalah pintu. Tanpa diam, tiada dengar. Tanpa hening, tiada hadir.
Maka i’tikaf menjadi lebih dari sekadar berdiam di masjid. Ia adalah perjalanan pulang—sebuah upaya menanggalkan dunia yang melekat terlalu erat. Dalam sunyi malam, ketika tubuh ditahan dari gerak dan lidah dijaga dari sia-sia, yang tersisa hanyalah diri yang telanjang di hadapan Tuhan.
Di situlah, seringkali, manusia mulai melihat dirinya sendiri.
Ada ruang dalam jiwa yang selama ini tertutup oleh kesibukan. Ada luka yang tak sempat disapa. Ada rindu yang tak pernah diakui. Dan di balik semua itu, ada kerinduan yang lebih dalam—kerinduan untuk kembali kepada asal.
Sebab pada hakikatnya, manusia bukan sekadar makhluk yang hidup di dunia. Ia adalah pengembara. Dunia hanyalah persinggahan, dan Ramadhan adalah penunjuk arah.
Dalam sujud yang panjang, dalam dzikir yang nyaris tak terdengar, ada momen ketika batas antara hamba dan Tuhannya terasa begitu dekat. Bukan karena jarak itu benar-benar hilang, tetapi karena kesadaran mulai menipis—dan ego perlahan runtuh.
Di saat itulah, kesunyian berubah makna.
Ia bukan lagi kesepian yang menakutkan, melainkan kehadiran yang menenteramkan. Bukan kehampaan, melainkan keluasan.Bukan kehilangan, melainkan perjumpaan.
Namun, tidak semua orang sampai pada titik itu. Banyak yang melewati Ramadhan seperti melewati hari-hari biasa—berpuasa, berbuka, lalu kembali tenggelam dalam rutinitas. Ibadah menjadi gerakan, bukan perjumpaan. Doa menjadi kata-kata, bukan panggilan jiwa.
Lalu pertanyaan itu datang, perlahan namun pasti:apakah kita benar-benar hidup dalam Ramadhan, atau hanya melintas di atasnya?
Kenangan tentang masa lalu—tentang buku diktat, tentang tawa di halaman masjid, tentang suara yang terbata membaca ayat—bukan sekadar nostalgia. Ia adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa pernah ada masa ketika hati lebih dekat, ketika ibadah lebih jujur, ketika Tuhan terasa lebih hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Barangkali yang kita rindukan bukan masa itu.Melainkan keadaan jiwa kita pada masa itu.
Dan Ramadhan, dalam kebijaksanaannya, tidak pernah menuntut kita untuk kembali menjadi anak-anak. Ia hanya mengajak kita untuk kembali menjadi hamba.
- Hamba yang sadar, - Hamba yang hadir, - Hamba yang pulang.
Maka jika pada suatu malam, di antara lelah dan sunyi, engkau merasa ada yang menggetarkan hatimu tanpa sebab yang jelas—jangan tergesa menepisnya. Bisa jadi itu bukan sekadar perasaan.
Bisa jadi itu adalah panggilan.
Dan jika engkau menjawabnya—meski dengan langkah yang gemetar—makaengkau akan mengerti:bahwa Ramadhan bukan sesuatu yang datang dan pergi.
Ia adalah perjalanan yang tak pernah usai.
Dengan demikian, Idul Fitri bukan hanya tentang kembali suci, tetapi juga tentang tampil sebagai insan yang membawa nilai rahmatan lil ‘alamin—menebarkan kasih sayang, kedamaian, dan kebermanfaatan bagi semua. Inilah puncak dari metamorfosis itu: dari kepompong kesadaran menuju kehidupan yang lebih bermakna, sebagai manusia yang utuh, taat, berkepekaan sosial tinggi, dan hadir sebagai rahmat bagi semesta.
**Penulis: Tonny Rivani, sebagai Alumni program Thomson Foundation (Inggris) dan anggota Hostwriter, jaringan jurnalis lintas negara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
