Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image haura Insiyah

Idul Fitri dan Luka Umat: Kapan Kemenangan Itu Nyata?

Guru Menulis | 2026-03-20 17:47:30

Oleh: Ina Winahyu

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, memberikan peringatan keras kepada Iran bahwa toleransi terhadap serangan yang menyasar negaranya dan negara-negara di Teluk kini sangat terbatas. Pangeran Faisal mendesak Teheran untuk segera melakukan kalkulasi ulang terhadap strategi militernya. Ia menegaskan bahwa Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya memiliki kekuatan militer yang sangat besar, yang siap dikerahkan kapan saja jika mereka memutuskan untuk mengambil tindakan tersebut (https://www.cnbcindonesia.com.news).

Hubungan diplomatik di Timur Tengah berada di titik nadir setelah gelombang serangan udara yang dilakukan Iran menghantam sejumlah fasilitas energi vital di kawasan Teluk. Iran telah meluncurkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Suriah, sebagai serangan balasan atas serangan yang dilancarkan Israel dengan dukungan militer AS belum lama ini (https://internasional.kompas.com).

Ketegangan dan situasi memanas masih terus terjadi di kawasan Teluk selama Ramadhan dan bahkan saat Idul Fitri pun belum mengisyaratkan akan berhenti. Konflik masih terus terjadi, dan yang membuat prihatin adalah pihak yang bertikai merupakan sesama umat Muslim yang hari ini tersekat-sekat oleh negara bangsa. Dan yang pasti, dampak dari konflik antarnegara Teluk yang dipicu oleh serangan Israel ke Iran ini adalah umat Muslim itu sendiri.

Ramadhan tidak hanya latihan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu semata, tetapi harus dimaknai sebagai bulan perjuangan bagi umat Islam. Umat Islam yang hari ini masih terpecah-pecah dalam berbagai negara bahkan banyak negeri Muslim yang bersekutu dengan negara kafir harbi. Pemimpin-pemimpin negeri Muslim di kawasan Teluk adalah bukti bersekutunya mereka dengan kafir harbi dengan mengizinkan Amerika Serikat membangun pangkalan militer di wilayah negerinya.

Mereka mengakomodasi kepentingan AS untuk menjaga dan mengawasi kawasan Teluk dari hegemoninya. Bahkan kondisi terbaru, negeri-negeri Muslim di kawasan Teluk merasa terganggu dengan serangan Iran ke berbagai pangkalan militer AS di negerinya dan menimbulkan ketegangan diplomatik di sana. Sungguh kondisi yang ironis, seharusnya umat Muslim dunia bersatu melawan musuh Islam, bukan malah saling curiga dan saling menyerang di antara negeri Muslim.

Sudah saatnya umat Muslim menyadari bahwa tidak adanya persatuan umatlah yang menyebabkan kekacauan dan ketidakrukunan umat Muslim hari ini. Paham nasionalisme telah merusak fondasi persatuan umat Muslim dunia yang seharusnya dijunjung demi terciptanya kedamaian dan kesejahteraan di tengah umat. Hari ini seluruh umat Muslim harus berjuang mengembalikan kehidupan Islam yang belum terwujud. Butuh usaha yang semakin besar untuk meraih kemenangan hakiki yang senantiasa dirindukan umat di tengah konflik antarumat Muslim saat ini dan di sisi lain menghadapi gempuran serangan dari musuh-musuh Islam.

Kesadaran umat Islam dalam memaknai Ramadhan sebagai bulan perjuangan belum sampai pada kesadaran untuk mengambil ideologi Islam sebagai pandangan hidup. Hal ini masih menjadi PR dan tantangan dakwah hari ini. Oleh karenanya, prioritas dakwah harus membangun kesadaran politik ideologi umat dengan Islam kaffah. Ideologi Islam akan mendorong terwujudnya kesadaran akan urgensi persatuan hakiki di bawah institusi khilafah. Kehidupan yang berstandarkan syariat. Peradaban agung yang tercermin dalam penerapan syariat di setiap sendi kehidupan.

Ramadhan dan Idul Fitri bisa dijadikan momentum untuk mengonsolidasi dan memobilisasi kekuatan serta kesatuan umat Islam. Sehingga posisi umat Islam sebagai khairu ummah (umat terbaik) dapat terwujud, sebagaimana firman Allah ta’ala di dalam TQS Ali ‘Imran ayat 110, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah .”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image