Sunah di Hari Raya Idul Fitri, Apa yang Beda dengan Idul Adha?
Agama | 2026-03-20 17:16:00
Amalan sunah tidak boleh lagi dipahami sebagai amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa atau tidak berdosa. Semestinya sunah diartikan sebagai amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat kerugian. Mengapa rugi? Karena melewatkan kesempatan mendapatkan pahala, sementara kita tidak boleh terlalu percaya diri telah memiliki tabungan pahala yang memadai untuk menghadap Allah Ta’ala. Itulah sebabnya setiap kesempatan kita harus berusaha mengerjakan amalan-amalan sunah selama kita tidak mengubah statusnya menjadi amalan wajib.
Apalagi jika itu sunah yang berhubungan dengan dua hari raya yakni Idul Fitri dan Idul Adha, sayang sekali jika hari raya yang hanya masing-masing sekali dalam setahun ini tidak disempurnakan dengan amalan-amalan sunah. Maka kali ini penulis akan sajikan apa saja amalan sunah di hari raya Idul Fitri dan apa yang berbeda dengan Idul Adha. Beberapa terjemah kitab hadits menjadi rujukan penulis dalam merangkai sunah-sunah di hari raya Idul Fitri ini.
Berhias Diri pada Hari Raya
Hal ini sesuai dengan hadits yang ditulis oleh Imam Syafi’i dalam Al-Umm Jilid I. Beliau berkata bahwa Ibrahim telah mengabarkan kepada kami dari Ja’far, dari ayahnya, dari kakeknya, “Bahwa Nabi saw memakai burduh habarah (baju buatan negeri Yaman) pada setiap hari raya.” (Tartib Musnad Imam Syafi’I, hadits ke. 141)
Makan Sebelum Berangkat ke Tempat Salat
Hal ini juga sesuai dengan riwayat yang dituliskan Imam Syafi’i dalam Al-Umm Jilid I. Beliau berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Musayyib ia berkata, “Kaum muslimin makan pada hari raya Idul Fitri sebelum mereka berangkat ke tempat salat, namun mereka tidak melakukan hal itu pada hari raya Kurban.” Imam Syafi’i lalu berkata: Diriwayatkan dari Safwan bin Salim, “Bahwa Nabi saw makan sebelum keluar ke tempat salat pada hari raya Idul Fitri, dan memerintahkan manusia akan hal itu.” (Tartib Musnad Imam Syafi’I, hadits ke. 143).
Nabi sallallaahu alaihi wasallam (saw) makan beberapa buah kurma sebelum berangkat ke tempat salat Id sebagaimana dua hadits yang dituliskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Bhulugul Maram:
Pertama, “Anas radhiyalaahu anhu (ra) berkata, “Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah saw tidak berangkat salat Id hingga makan beberapa buah kurma terlebih dahulu.” (HR. Bukhari).
Kedua, “Dari Abu Buraidah, dari ayahnya, ‘Dulu Nabi saw tidak keluar dari rumah pada hari raya Idul Fitri (untuk salat Id) sebelum makan. Dan pada hari raya Idul Adha, beliau tidak menyantap makanan sebelum shalat Id” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. Hadits ini dianggap shahih oleh Ibnu Hibban).
Tidak Melaksanakan Salat Sunah Baik Sebelum Maupun Sesudah Salat Id
Sunah ini berdasarkan hadits mutawatir dari Ibnu Abbas ra yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Bhulugul Maram. Beliau menuliskan bahwa: “Nabi saw salat Id dua rakaat. Beliau tidak melaksanakan salat sunah baik sebelum maupun sesudahnya.” (HR. Imam yang Tujuh).
Menempuh Jalan Berbeda Ketika Pulang Salat
Ternyata ada hadits shahih terkait sunah ini dan dahulu ini yang dilakukan oleh para orang tua terdahulu. Sunah ini ditemukan dalam hadits dari Jabir ra yang ditulis oleh Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin bahwa: “Rasulullah saw jika menunaikan salat hari raya menempuh jalan yang berbeda yakni jalan berangkat dan jalan pulang.” (HR. Bukhari)
Lalu apa amalan sunah yang membedakan antara Idul Fitri dengan Idul Adha sebagaimana riwayat atau hadits-hadits di atas? Jawabannya adalah makan sebelum berangkat salat Idul Fitri. Hikmah kita disunahkan makan untuk membedakan dengan hari-hari sebelum Idul Fitri yang kita jalani dengan berpuasa. Adapun saat akan berangkat Idul Adha kita justru disunahkan tidak makan. Hikmahnya juga untuk membedakan dengan hari-hari sebelum Idul Adha karena kita terbiasa menyantap makanan di pagi hari. Wallaahu a’lam.
Semoga kita diberi kekuatan mengamalkan sunah-sunah Nabi saw termasuk di saat dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
