Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen dan Peneliti

Idul Fitri dan Penemuan Kembali Diri

Agama | 2026-03-20 17:37:20

Ramadan selalu datang membawa kerinduan yang sama: Suasana sahur yang hampir tanpa kata, lantunan tadarus yang menggetarkan, dan kehangatan berbuka bersama orang-orang tersayang. Jika kita mau jujur pada eksistensi kita, ada sesuatu yang kita rasakan berbeda belakangan ini.

Kegembiraan anak-anak menyambut Idul Fitri. (Sumber: Copilot)

Di balik semua keindahan itu, Ramadan modern kini diwarnai oleh keramaian yang kadang justru membuat jiwa lelah. Bukan keramaian yang menyejukkan, melainkan kebisingan yang memaksa, hape yang selalu aktif dan notifikasi pesan tanpa henti, promosi belanja yang agresif, dan tekanan untuk tampil "sempurna" di media sosial.

Ajang Penuh Godaan

Tanpa kita sadari, Ramadan perlahan bergeser menjadi ajang unjuk penampilan. Linimasa media sosial penuh dengan foto meja makan yang mewah, konten tadarus yang dihitung jumlah juznya, hingga unggahan buka bersama puasa yang tampak lebih seperti pameran daripada syukur.

Ada istilah yang mungkin terasa asing tapi nyata: Spiritual FOMO, atau rasa takut "ketinggalan" dalam hal ibadah. Kita mulai membandingkan perjalanan spiritual kita dengan orang lain, sesuatu yang justru bertentangan dengan esensi puasa itu sendiri, yang sejatinya adalah urusan paling pribadi antara seorang hamba dan Tuhannya.

Sesuatu yang lebih mengkhawatirkan muncul di depan mata, musuh terbesar Ramadan kini bukan lagi godaan yang terasa berat dan nyata. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: Layar ponsel yang menyedot perhatian, rekomendasi konten yang tidak ada habisnya, hingga iklan yang dengan cerdik memanfaatkan rasa lapar kita.

Perut memang berpuasa, tapi pikiran kita berbuka berkali-kali sepanjang hari, yaitu dengan gosip, hiburan kosong, dan belanja impulsif. Industri tahu betul bahwa Ramadan adalah momen paling menguntungkan dalam setahun, dan mereka tidak segan memanfaatkannya.

Puncak Konsumsi

Data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pernah mencatat lonjakan signifikan volume sampah makanan menjelang Idul Fitri, yaitu ratusan ton lebih banyak dari hari biasa. Angka ini bukan sekadar statistik lingkungan. Ia adalah cermin dari kebiasaan balas dendam saat berbuka.

Setelah seharian menahan lapar, kita justru menjadi sangat berlebihan dalam makan dan berbelanja. Ramadan yang seharusnya melatih pengendalian diri, tanpa sadar berubah menjadi puncak konsumsi tahunan.

Lalu muncul pertanyaan yang sederhana tapi dalam: Mengapa perubahan baik yang kita rasakan selama Ramadan sering kali langsung menguap begitu lebaran tiba? Jawabannya mungkin ada pada cara kita menjalani Ramadan selama ini, yaitu lebih sebagai rutinitas kolektif yang mengikuti arus, bukan sebagai perjalanan pribadi yang sungguh-sungguh direnungkan.

Ketika lingkungan sekitar mendukung, kita merasa "baik". Tapi ketika lingkungan kembali normal, kita pun ikut kembali seperti semula. Perubahan yang sejati butuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tekanan sosial.

Keberanian untuk Kembali ke Fitrah

Di sinilah momen Idul Fitri, peristiwa kembalinya fitrah setelah puasa yang mendalam, menawarkan sudut pandang yang sangat relevan, bahkan seolah berbicara langsung kepada kondisi zaman ini. Ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali memimpin perayaan Idul Fitri, yang terjadi bukan sebuah pertunjukan. Tidak ada penonton, tidak ada sorak-sorai. Hanya keheningan hati, kesederhanaan yang dipilih, dan sebuah pertemuan yang mengubah sejarah. Idul Fitri lahir justru dari keberanian untuk kembali ke fitrah, sesuatu yang terasa mewah di era kita yang serba ramai ini.

Sesuatu yang jarang direnungkan dari peristiwa Idul Fitri adalah konteks psikologis Rasulullah SAW setelah menyelesaikan puasa. Beliau adalah seorang yang gelisah melihat kemerosotan moral masyarakatnya, lelah dengan kebisingan dan ketidakadilan yang merajalela, lalu memilih untuk berkontemplasi, menyendiri dan merenung.

Dalam bahasa hari ini, Nabi Muhammad saw melakukan apa yang saat ini kita sebut sebagai digital detox jauh sebelum istilah itu ada: Melepaskan diri dari hiruk-pikuk, memilih sunyi, dan membuka ruang agar fitrah yang murni bisa masuk. Idul Fitri tidak dirayakan oleh orang yang sibuk berteriak, tapi kepada jiwa yang tenang dan siap mendengar panggilan Tuhan.

Pesan kemenangan Idul Fitri berupa takbir Allahu Akbar pun sering dipahami sempit sebagai seruan kemenangan. Padahal, para ulama menafsirkan maknanya jauh lebih luas: Membaca tanda-tanda alam, membaca kondisi masyarakat, membaca diri sendiri, dan membaca perilaku orang lain.

Dalam konteks Ramadan yang kita jalani hari ini, takbir itu bisa berarti: Bacalah dirimu sendiri dengan jujur. Bacalah seberapa banyak waktu yang kamu habiskan di media sosial dibanding merenungkan Al-Quran. Bacalah seberapa sering kamu berbuka dengan kesyukuran dibanding dengan nafsu. Idul Fitri mengundang kita untuk menjadi pembaca yang lebih kritis, baik tertulis maupun tidak tertulis, termasuk terhadap diri sendiri.

Hikmah Berkelanjutan

Ada hikmah lain dari Idul Fitri yang hampir tidak pernah dibicarakan: Kemenangan fitrah tidak datang sekaligus, melainkan berangsur-angsur, berlanjut, selama kehidupan. Ini bukan tanpa makna. Allah SWT telah mengajarkan bahwa perubahan yang bermakna tidak bisa dipaksakan dalam semalam, tidak bisa dibungkus dalam tagar tiga hari lebaran, dan tidak bisa diukur dari berapa banyak konten ibadah yang kamu unggah.

Perubahan sejati adalah proses yang sabar, konsisten, dan berlangsung jauh melampaui hari Idul Fitri. Idul Fitri mengajarkan kita untuk berdamai dengan proses, sesuatu yang sangat sulit diterima oleh generasi yang terbiasa dengan segala sesuatu yang instan.

Maka Ramadan yang diterangi hikmah Idul Fitri seharusnya mendorong kita untuk satu langkah sederhana yang justru paling berat: Mematikan layar hape memilih sunyi, dan hadir sepenuhnya dalam shalat, dalam berbuka, dalam obrolan bersama keluarga, teman dan tetangga.

Bukan untuk mendapat likes atau meminta subscribe, juga bukan untuk mengunggah foto selfie. Semata karena jiwa kita butuh ruang untuk bernapas, persis seperti kesederhanaan perayaan pertama yang memberikan ruang bagi lahirnya sebuah peradaban. Keberhasilan Ramadan bukan diukur dari seberapa banyak yang kita lakukan secara terlihat, melainkan dari seberapa dalam kita berubah secara diam-diam, yaitu di tempat yang tidak ada hape, tidak ada penonton, hanya kita dan Tuhan.

Ramadan adalah undangan, bukan kewajiban pertunjukan. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya: Apa yang benar-benar berubah dalam diri kita? Langkah nyatanya cukup sederhana dan tidak harus dramatis: Cukup mulai dengan mematikan notifikasi sejam sebelum, ketika, dan setelah sahur, mengganti satu sesi yang tadinya terpaku pada media sosial dan menggantinya dengan membaca Al-Quran, atau sekadar duduk diam sebentar setelah shalat, berdoa, berzikir, tanpa langsung meraih ponsel.

Kedaulatan atas diri sendiri dimulai dari pilihan-pilihan kecil itu. Diharapkan Ramadan tahun ini bisa menjadi titik balik yang sesungguhnya, bukan karena kita paling produktif atau paling ramai berkonten, tapi karena kita akhirnya berani untuk diam, mendengar, dan berubah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image