Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fatimah Azzahra

Krisis Mental Anak dan Pentingnya Kembali pada Syariat

Rubrik | 2026-03-15 13:01:40
Penandatanganan SKB 9 Menteri (Sumber: kemenpppa)

Pemerintah kembali menunjukkan perhatian terhadap isu kesehatan mental anak dengan menyepakati Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang kesehatan jiwa anak yang melibatkan sembilan kementerian dan lembaga. Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa persoalan kesehatan mental generasi muda semakin serius dan membutuhkan penanganan lintas sektor.

SKB tersebut diteken oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi antar lembaga dalam menangani persoalan kesehatan mental anak yang semakin mengkhawatirkan.

Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan berdasarkan laman healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan adanya empat faktor utama yang memicu keinginan anak mengakhiri hidup. Faktor tersebut antara lain konflik keluarga yang berkisar antara 24–46 persen, masalah psikologis sebesar 8–26 persen, perundungan (bullying) sebesar 14–18 persen, serta tekanan akademik sekitar 7–16 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa tekanan yang dialami anak tidak hanya berasal dari satu aspek, melainkan dari berbagai lingkungan kehidupan mereka.

Krisis Kesehatan Jiwa Anak Saat Ini

Meningkatnya gangguan kesehatan mental pada anak tidak bisa dilepaskan dari kondisi sistem kehidupan yang melingkupi masyarakat saat ini. Dalam sistem sekuler liberal yang mendominasi dunia modern, kehidupan dipisahkan dari nilai-nilai agama. Akibatnya, standar kebahagiaan dan kesuksesan seringkali diukur dengan ukuran material semata.

Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang menuntut pencapaian akademik tinggi, prestasi sosial, serta kesuksesan materi sejak usia dini. Tekanan untuk “menjadi berhasil” seringkali mengabaikan kesiapan psikologis dan spiritual mereka. Di sisi lain, perkembangan media digital yang dikuasai oleh industri kapitalisme global juga memainkan peran besar dalam membentuk pola pikir generasi muda. Berbagai konten yang beredar di media sosial membawa nilai-nilai individualisme, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas yang seringkali bertentangan dengan nilai-nilai moral dan spiritual.

Hegemoni budaya global ini secara perlahan menggerus nilai-nilai keislaman yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Akibatnya, banyak anak tumbuh tanpa landasan nilai yang kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Pendidikan yang Kehilangan Arah Nilai

Persoalan kesehatan mental anak juga berkaitan erat dengan sistem pendidikan yang berlaku saat ini. Pendidikan seringkali lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan kompetisi prestasi daripada pembentukan kepribadian yang utuh. Di banyak keluarga, kesuksesan anak masih diukur dari nilai rapor, peringkat kelas, atau keberhasilan menembus sekolah dan universitas favorit.

Tekanan ini tidak jarang membuat anak merasa gagal ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi lingkungan. Padahal dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih mendasar, yaitu membentuk manusia yang berkepribadian Islam (syakhsiyah islamiyah), yakni pribadi yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak.

Ketika pendidikan di keluarga, sekolah, maupun masyarakat tidak lagi berpijak pada akidah dan syariat Islam, maka orientasi hidup anak pun mudah terombang-ambing oleh standar kesuksesan yang ditentukan oleh budaya materialistik.

Menghadapi Akar Masalah Sistemik

Langkah pemerintah melalui SKB kesehatan jiwa anak tentu patut diapresiasi sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi generasi muda. Namun, penanganan persoalan kesehatan mental tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis atau program sektoral semata. Krisis kesehatan jiwa anak juga berkaitan dengan krisis nilai yang bersumber dari sistem kehidupan yang sekuler dan liberal.

Sistem kapitalisme global yang menempatkan materi sebagai tujuan utama kehidupan telah melahirkan budaya kompetisi tanpa batas, tekanan sosial yang tinggi, serta krisis makna hidup. Dalam konteks ini, sistem sekuler liberal kapitalistik menjadi tantangan besar yang dihadapi umat saat ini. Nilai-nilai yang lahir dari sistem ini tidak hanya memengaruhi bidang ekonomi, tetapi juga merambah ke dunia pendidikan, keluarga, hingga budaya masyarakat. Karena itu, perjuangan dakwah umat tidak cukup hanya pada tataran moral individu, tetapi juga perlu diarahkan pada upaya membangun kembali sistem kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Peran Negara sebagai Pelindung Generasi

Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga masyarakat dari kerusakan nilai. Negara tidak hanya berfungsi sebagai pengatur administrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara berkewajiban memastikan bahwa sistem pendidikan, sistem kesehatan, serta sistem ekonomi berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Dengan demikian, seluruh kebijakan negara diarahkan untuk menjaga akidah, moral, dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam sistem pendidikan Islam misalnya, pembentukan kepribadian yang berlandaskan akidah menjadi tujuan utama. Anak dididik agar memiliki ketahanan spiritual, pemahaman makna hidup, serta kemampuan menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan perspektif keimanan. Sementara itu, sistem kesehatan dalam Islam tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan spiritual. Negara memastikan layanan kesehatan dapat diakses secara luas dan mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Di bidang ekonomi, Islam juga menolak sistem kapitalisme yang menciptakan kesenjangan dan tekanan sosial. Pengelolaan ekonomi yang adil akan membantu menciptakan stabilitas sosial yang lebih sehat bagi pertumbuhan generasi muda.

Menyelamatkan Masa Depan Generasi

Kesehatan mental anak merupakan fondasi penting bagi masa depan bangsa. Generasi yang tumbuh dengan tekanan psikologis, kehilangan arah nilai, dan krisis makna hidup akan menghadapi kesulitan besar dalam membangun peradaban yang kuat. Karena itu, upaya menjaga kesehatan mental anak tidak bisa dilepaskan dari upaya membangun kembali sistem kehidupan yang sehat secara nilai dan moral.

Umat Islam memiliki ajaran yang lengkap dalam mengatur kehidupan, termasuk dalam membangun keluarga yang harmonis, pendidikan yang membentuk kepribadian mulia, serta negara yang melindungi rakyat dari berbagai kerusakan sosial. Dengan menjadikan syariat Islam sebagai landasan dalam berbagai aspek kehidupan, dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi, masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang generasi.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan jiwa anak bukan sekadar tanggung jawab keluarga atau sekolah, tetapi juga tanggung jawab masyarakat dan negara secara keseluruhan. Hanya dengan sistem kehidupan yang berlandaskan nilai yang benar, yakni Islam, masa depan generasi dapat benar-benar terlindungi. Wallahu'alam bish shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image