Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen dan Peneliti

Takbir dan Kesucian Hati

Agama | 2026-03-14 19:15:12

Ramadan sebentar lagi akan berpamitan, Idul Fitri akan datang menggantikan. Suara takbir nanti akan ramai dikumandangkan dari mushalla dan masjid di seluruh pelosok bumi. Di tengah persiapan menyambut Idul Fitri, pernahkah muncul sebuah pertanyaan yang mengusik batin: "Apakah yang sedang dipersiapkan adalah kemenangan jiwa, atau justru sebuah pesta yang akan melelahkan?"

Tanpa disadari, Ramadan tahun ini mungkin terasa begitu riuh. Bukan riuh oleh lantunan doa yang syahdu, melainkan riuh oleh serbuan informasi dan godaan belanja yang menyelinap lewat layar ponsel di genggaman telapak tangan.

Ilustrasi kebahagiaan merayakan Idul Fitri (Sumber: Gemini Google)

Idul Fitri kini berada di persimpangan jalan dan tidak lagi sekadar ritual meyembuhkan luka batin, tapi perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan harta dan rupa yang sering kali terasa hambar.

Pengepungan Mata dan Pikiran

Dunia modern kini sedang melakukan "agresi visual" yang luar biasa. Di hari-hari terakhir puasa, mata manusia seolah tidak diizinkan untuk beristirahat. Sejak mata terbuka untuk sahur hingga terpejam di tengah malam, mata setiap orang dikepung oleh iklan diskon, promo baju Lebaran, hingga video-video pendek yang memancing keinginan besar untuk terus membeli.

Diskon hari raya bukan lagi sekadar potongan harga, melainkan cara halus yang membuat pikiran terus-menerus memikirkan barang baru. Akhirnya, keheningan yang seharusnya menjadi teman akrab selama puasa, sebuah ruang sunyi untuk mendengarkan bisikan hati, pecah berantakan. Mata dipaksa bekerja lembur melihat ribuan gambar, sementara batin dibiarkan kelaparan akan makna yang sesungguhnya.

Sering kali, muncul rasa tertekan untuk menampilkan hidup yang sempurna di media sosial. Rumah harus terlihat cantik, pakaian harus baru dan sesuai zaman, hingga meja makan harus ditata sedemikian rupa penuh makanan dan minuman, demi foto-foto yang menarik untuk segera diunggah di media sosial. Inilah yang menciptakan kenikmatan semu.

Pikiran menjadi sibuk membandingkan diri dengan hidup orang lain. Idul Fitri yang sejatinya adalah momen untuk menundukkan kepala dan merasa kecil di hadapan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam, justru bergeser menjadi ajang untuk merasa lebih besar dari sesama lewat materi. Kita lebih sibuk memikirkan teknik pengambilan foto daripada bagaimana cara meminta maaf yang tulus dari lubuk hati terdalam.

Ketika Ritual Menjadi Barang Komersial

Kenikmatan semu semakin menjadi-jadi karena ibadah kini telah dikemas menjadi barang komersial. Kata-kata seperti Ramadan, Sahur, Iftar, THR, dan banyak lagi, sering kali hanya dijadikan label untuk menjual barang. Suara diskon terdengar jauh lebih kencang daripada panggilan untuk membantu mereka yang sedang kesulitan.

Acara buka puasa bersama yang seharusnya menjadi penyambung tali kasih, terkadang berubah menjadi ajang kilatan cahaya kamera, pamer pencapaian atau sekadar obrolan duniawi yang kosong. Makna sakral dari menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh selama Ramadan sering kali kalah oleh keriuhan suara dan tawa tamu restoran atau kafe.

Masalah terbesarnya adalah hilangnya ruang antara atau jeda dalam hidup. Keheningan adalah tempat di mana seseorang bisa memproses rasa, merenungkan kesalahan, dan mengobati luka batin. Selama Ramadan, jeda itu seolah dicuri. Waktu luang diisi dengan gawai, waktu sahur ditemani acara TV yang penuh tawa, waktu berbuka habis di tengah keramaian pusat belanja.

Tanpa adanya jeda, manusia kehilangan kemampuan untuk mendengar suara hatinya sendiri. Gerbang Idul Fitri pun yang akan dimasuki, dikerumuni pikiran yang penuh sesak oleh suara-suara bising penggoda iman dari luar, tanpa sempat memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh jiwa.

Kebahagiaan ketika berbuka puasa. (Sumber: Gemini Google)

Kelelahan, Bukan Ketenangan

Lalu, apa yang sebenarnya dibawa pulang saat Lebaran usai? Jika hanya mengikuti arus keriuhan ini, maka yang didapat setelah hari raya bukanlah kedamaian, melainkan kelelahan yang luar biasa. Banyak orang yang keluar dari bulan Ramadan dengan perasaan kosong. Perhatian terlalu habis untuk mengurus bungkus luar seperti baju baru dan makanan enak, namun lupa mengurus isi di dalam hati. Idul Fitri akhirnya hanya menjadi puncak dari rasa lelah itu.

Silaturahmi dilakukan hanya sebatas jabat tangan, sementara pikiran tetap sibuk memikirkan jumlah likes atau komentar di media sosial. Inilah sebuah ironi: Merasa menang atas rasa lapar, namun kalah telak oleh keinginan untuk pamer.

Maka, di sisa waktu yang sedikit ini, sudah saatnya membangun benteng di dalam hati. Perlu disadari bahwa kemewahan Idul Fitri yang sejati tidak ada pada baju baru, melainkan pada perasaan cukup dan damai dengan diri sendiri. Rantai suara bising di kepala harus diputus. Mematikan notifikasi HP, meletakkan gawai, dan duduk diam sejenak di malam takbiran adalah cara terbaik untuk melawan agresi visual yang melelahkan.

Ruang antara itu harus direbut kembali, agar suara batin bisa kembali terdengar setelah sekian lama tertimbun hiruk-pikuk pemasaran.

Membawa Kemenangan ke Kehidupan Nyata

Ujian yang sebenarnya adalah saat Lebaran telah usai. Kehidupan pasca-Idul Fitri sering kali kembali menjadi riuh dan melelahkan. Namun, jika keheningan itu berhasil ditemukan saat hari raya, setiap orang akan membawa oleh-oleh yang sangat mahal harganya: ketenangan batin.

Dengan hati yang tenang, seseorang tidak akan mudah ikut-ikutan tren yang tidak penting atau merasa minder melihat hidup orang lain. Manusia tidak lagi menjadi budak dari kecantikan palsu di layar ponsel. Kemenangan sejati adalah membawa kedamaian puasa ke dalam hiruk-pikuk pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Idul Fitri adalah tentang kejujuran batin. Ini adalah waktu untuk meruntuhkan tembok kepalsuan yang sering dibangun demi terlihat hebat di mata orang lain. Biarlah takbir nanti menjadi tanda bahwa diri telah benar-benar bersih, bukan hanya dari dosa, tapi juga dari polusi pikiran yang meracuni hati.

Ilustrasi suasana saling bermaafan setelah shalat Idul Fitri. (Sumber: Copilot)

Biarkan Idul Fitri kali ini terasa sunyi di luar hati, namun sangat ramai di dalam hati oleh rasa syukur yang tulus. Tidak butuh tepuk tangan dunia untuk merasa menang setelah Ramadan; hanya butuh rasa damai di dada untuk tahu bahwa diri telah kembali ke fitrah yang suci.

Mari melangkah lebih lambat di hari raya Idul Fitri nanti. Tatap mata orang tua lebih lama saat bersimpuh memohon ampun, peluk keluarga dengan lebih hangat, dan rasakan setiap doa dengan lebih dalam. Itulah cara terbaik merayakan kemenangan.

Setelah Idul Fitri ini, biarlah yang tersisa bukan sekadar kenangan makan besar, melainkan jiwa yang telah belajar untuk diam yang dipelajari di saat Ramadan, melihat dengan bening, dan merasa cukup. Itulah kemenangan yang tak butuh jepretan kamera, karena indahnya terpancar langsung dari hati yang telah menemukan kembali ketenangannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image