Solusi Islam Menangani Krisis Kesehatan Jiwa pada Anak
Agama | 2026-03-13 03:55:07
Baru-baru ini Pemerintah mengeluarkan SKB(Surat Keputusan Bersama) yang ditandatangani 9 Kementrian dan Lembaga guna perkuat Penanganan Kesehatan Jiwa Anak. Langkah tegas ini dilakukan Pemerintah, karena krisis kesehatan jiwa pada anak Indonesia semakin meningkat. (kemenpppa.go.id, 6/3/2026). Menurut data berbasis daring Kemenkes Healing119.id dan KPAI, ada 4 faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup, diantaranya: konflik keluarga sebanyak 24–46 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen. Serta data dari CKG menunjukkan bahwa gejala depresi pada anak dan remaja lima kali lebih tinggi dibandingkan dewasa dan lansia. Skrining pada anak usia 7-17 tahun menunjukkan 4,8 persen mengalami depresi dan 4,4 persen mengalami kecemasan. Meningkatnya krisis kesehatan jiwa pada anak ini sudah sepatutnya menjadi alarm peringatan yang harus segera ditangani, karena anak merupakan kepanjangan tangan generasi berikutnya. Jika tidak segera diatasi, kita tidak akan bisa membayangkan bagaimana kondisi generasi ke depannya.
Mengapa Krisis Kesehatan Jiwa pada Anak Semakin Meningkat?
Sebenarnya yang memiliki andil besar bagi penyebab meningkatnya krisis kesehatan jiwa pada anak saat ini adalah dampak dari diterapkannya sistem kehidupan sekuler liberal dalam segala lini. Paradigma dan nilai-nilai Islam tergerus habis oleh paradigma dan nilai-nilai sistem sekuler liberal ini lewat hegemoni media-medianya. Banyak bertebarannya konten-konten yang menormalisasi gaya hidup bebas, kekerasan, hedonis, seks, bahkan konten bunuh diri dan itu mudah diakses siapapun. Sehingga ketika itu sering ditonton oleh anak, mereka akan menganggap apa yang dilihatnya adalah sesuatu hal yang wajar, bahkan mereka terpengaruh untuk mencontohnya.
Minimnya komunikasi, simpati dan empati dari keluarga sebagai orang terdekat dan lingkungan sekitar juga memberikan sumbangsih. Seorang ibu yang seharusnya memiliki peran penuh di dalam rumahnya ikut disibukkan dengan bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka termasuk dalam pemenuhan pendidikan dan kesehatan atau hanya sekedar pemenuhan ego akan pengakuan eksistensi diri di tengah-tengah lingkungannya karena ditanamkannya pemahaman bahwa wanita yang tidak bekerja adalah wanita yang tidak produktif, sehingga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk membersamai anaknya dalam pembinaan di rumah. Anak seperti anak ayam kehilangan induknya, tidak ada lagi tempat bertanya daan berlindung. Sementara itu, lingkungan sosialnya juga tidak memberikan contoh yang baik, banyak aktivitas yang melanggar norma agama ataupun sosial tanpa saling mengingatkan.
Ditambah lagi pendidikan di keluarga, di sekolah dan di lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam, minim akan pemahaman yang benar tentang akidah, makna hidup, mengenal jati dirinya sebagai seorang muslim. Parameter sukses diukur dari kesuksesan yang bersifat materi. Sehingga ketika parameter itu tidak terpenuhi, menganggap itu adalah masalah yang sangat besar, hidup berasa seperti beban berat yang benar-benar menghimpit mereka, merasa menjadi orang yang gagal, tidak berguna dan tidak bisa diterima. Adanya tekanan dan tuntutan yang bertubi-tubi sementara pelampiasan luapan emosi tidak tersalurkan, karena pengabaian orang-orang sekitar dan nasihat serta solusi tidak pernah tersampaikan, akhirnya membuat anak yang kapasitas pemikirannya belum sempurna mengalami depresi. Pada akhirnya ketika kekuatan benteng diri melemah solusi mudah yang dipilih adalah mengakhiri semuanya.
Bagaimana Islam Memberikan Solusi?
Ada empat pilar solusi tuntas dan menyeluruh terkait krisis kesehatan jiwa pada anak dalam Islam yang harus diterapkan. Diantaranya pertama individu anak, yakni dengan menanamkan keimanan yang kuat dan mengenalkan syariah Islam sejak dini menjadikan anak memiliki mental dan prinsip yang kuat dan hanya takut kepada Allah.
Kedua keluarga, peran keluarga dalam mendidik dan membersamai anak sejak dini, serta perhatian dan kasih sayang penuh juga sangat mempengaruhi kepribadian anak ketika dia besar dan mulai berbaur dengan lingkungan yang mungkin berbeda dengan prinsip keluarganya. Anak-anak yang pilar pertamanya sudah terpenuhi, kemudian dididik agar pola pikir dan pola sikapnya sesuai syariah, dilatih berjiwa kepemimpinan, maka akan dihasilkan anak-anak yang memiliki prinsip dengan standar aturan Allah dan tidak akan minder ketika berbeda dengan lingkungan yang salah(ikut-ikutan) bahkan justru akan bisa merubah sekitar ke arah yang baik.
Ketiga masyarakat, kontrol masyarakat juga sangat dibutuhkan sebagai bentuk pemenuhan hak bertetangga dan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, kepedulian terhadap sekitar dalam rangka perbaikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
Dan yang keempat yang utama adalah negara, bagaimanapun kuatnya kita memproteksi keluarga dengan ide-ide Islam dan pembinaan intensif kepada anak kita, jika sistem yang berlaku di tengah kehidupan keluarga tidak menggunakan hukum syariah, sementara gempuran dari luar akibat dampak diterapkannya sistem sekuler liberal senantiasa menghadang, maka sulit bagi bangunan keluarga yang kokoh bisa bertahan. Maka negara wajib menjalankan tanggung jawabnya sebagai raa’in(pengurus urusan rakyat) dan junnah(pelindung/perisai) dengan menerapkan Islam secara menyeluruh. Penerapan sistem Islam akan meringankan beban orangtua dan masyarakat. Negara akan membendung serangan musuh-musuh Islam dan menjaga masyarakat agar tetap dalam keimanan dan tatanan yang sesuai dengan aturan Islam, mengatur tegas konten media yang merusak generasi bahkan instasi penerangan dalam negara akan mandiri memfasilitasi pengadaan media demi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, mengembalikan kurikulum Pendidikan bebas biaya dan berbasis aqidah yang fokus mencetak generasi berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan sikap Islam, membenahi perekonomian rakyat dan pemenuhan kesejahteraannya serta jaminan kesehatan, sehingga dapat mengembalikan peran seorang ibu dalam memberi perhatian, mendidik dan memberi teladan yang baik bagi anak-anak. Wallahu a’lam bishshowwab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
