Kajian Puasa: Mengapa Jiwa dan Raga Butuh untuk Bersitirahat
Agama | 2026-03-12 08:17:49
Oleh : Indar Cahyanto, M.Pd
Guru SMAN 25 Jakarta, Pengurus PC Muhammadiyah Ciracas
Sebagai umat yang beriman dan meyakini konsep keimanan Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullah artinya Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah.Keyakinan itu terpatri dalam setiap ucapan dan giat kehidupan manusia di muka bumi.
Hadirnya Ramadhan bagi kaum beriman kepada Allah merupakan proses mengistirahatkan jiwa dan raga selama satu bulan penuh hanya untuk berproses belajar untuk beribadah kepada Allah SWT. Selama sebelas bulan sebelum Ramadhan tubuh ini terus bergerak tanpa istrirahat untuk memikirkan kehidupan duniawi maka Ketika Ramadhan datang kita beristirahat sejenak berfikir tadabbur ayat-ayat Allah SWT.
Ramadhan merupakan madrasah kehidupan yang didalamnya akan dicetak atau dikader manusia bertaqwa sebagaimana Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah ketakwaan. Nilai ketakwaan tersebut tidak terlepas dari dimensi kesehatan, karena puasa melatih disiplin, pengendalian diri, dan pengaturan pola hidup yang berdampak langsung pada kesehatan fisik dan mental pribadi seseorang hamba yang beriman.
Allah SWT juga menegaskan prinsip moderasi kehidupan khususnya dalam konsumsi jasmani atau tubuh fisik manusia yakni: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini menjadi dasar penting bagi pola hidup sehat dalam Islam, termasuk dalam pelaksanaan puasa. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa itu adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa puasa berfungsi sebagai pelindung, baik dari perbuatan buruk maupun dari hal-hal yang merusak kesehatan jasmani dan rohani. Dalam hadis lain disebutkan: “Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat.” (HR. Thabrani). Hadis tersebut menunjukkan adanya hubungan antara puasa dan kesehatan. Para ulama memahami hadis ini sebagai dorongan agar puasa dilaksanakan dengan cara yang benar, seimbang, dan sesuai tuntunan syariat.
Banyak orang yang hidup di dunia hanya mengira puasa hanyalah ritual "memindahkan jam makan". Namun, Ibnu Al-Jauzi seorang ulama besar abad ke-12 telah membagi puasa ke dalam tiga dimensi yang sangat selaras dengan temuan sains modern tentang kesehatan mental dan fisik.
Menurut Ibnu Al-Jauzi berkata: Puasa itu ada tiga tingkatan...Pertama. Puasa Jasad: Detoksifikasi Seluler. Puasa anggota tubuh meliputi menahan diri dari makan, minum, dan kebutuhan biologis Dalam kajian Ilmiah pada saat kita berhenti makan selama 12-16 jam, tubuh memasuki fase Autofagi. Ini Adalah mekanisme "pembersihan mandiri" di mana sel-sel tubuh memakan bagian yang rusak dan menggantinya dengan yang baru. Ibarat mesin mobil yang diservis, puasa membuang "sampah" biologis yang memicu penuaan dan penyakit. Lapar adalah pengingat yang jujur bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Di balik rasa perih di lambung, ada pesan syukur: "Betapa berharganya seteguk air yang sering kita lupakan nikmatnya." Puasa jasad mengajarkan kita untuk tidak diperbudak oleh perut.
Urusan perut dalam kehidupan umat manusia memiliki persoalan yang sangat penting dan utama. Karena kehidupan manusia pada umumnya mencari uang yang utama terkait dengan urusan perut atau makan. Sehingga persoalan makan memberikan dampak psikologis bagi kehidupan manusia dalam membangun peradabannya.
Maka Ketika bulan Ramadhan kita berhenti sejenak pada siang hari untuk tidak makan dan minum. Agar jiwa atau tubuh kita dapat merasakan lapar dan haus hanya untuk beribadah kepada Allah. Serta merasakan bagaimana rasanya pada saat lapar dan haus sebagai wujud empati kepada sesaman manusia yang kekurangan. Kondisi puasa memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan, meningkatkan sensitivitas insulin, membantu proses detoksifikasi alami, serta merangsang mekanisme autofagi, yaitu proses pembersihan dan pembaruan sel. Selain itu, puasa juga berkontribusi terhadap stabilitas emosi, penurunan stres, dan peningkatan kesehatan mental
Proses makan dan minum yang berlebihan dapat mengakibatkan rasa kenyang memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan kantuk, dan melemahkan semangat ibadah. Ketika kita berhenti makan untuk puasa memberikan fungsi untuk menundukkan hawa nafsu dan menyehatkan tubuh, karena berlebihan dalam makan menjadi sumber berbagai penyakit. Pola pengendalian makan melalui puasa akan memperkuat kejernihan hati dan kesehatan jasmani.
Kedua. Puasa Akal: Menata Ulang Sirkuit Otak (Puasa akal: Menyelisihi hawa nafsu) Sisi Ilmiah: Dalam dunia medis, ini disebut dengan Neuroplastisitas dan kontrol diri. Saat kita menahan amarah atau keinginan impulsif, kita sedang melatih bagian otak bernama Prefrontal Cortex (pusat kebijaksanaan) untuk mengalahkan Amigdala (pusat emosi liar). Ini adalah latihan "otot" mental agar kita tidak reaktif terhadap stres. Pernahkah Anda merasa menyesal setelah marah besar? Puasa akal adalah jeda. Ia memberi kita ruang untuk berpikir sebelum bertindak. Menyelisihi hawa nafsu bukan berarti menyiksa diri, tapi memerdekakan akal agar tidak didikte oleh ego yang seringkali menjerumuskan.
Puasa akal dapat meningkatkan produksi Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) merupakan sebuah protein yang mendukung kelangsungan hidup neuron, pertumbuhan, dan diferensiasi sel saraf yang dimiliki manusia. Penguatan Akal ini apabila semakin sedikit energi yang digunakan untuk menuruti nafsu, semakin besar energi yang tersedia bagi akal untuk mengenali kebenaran dan menata kehidupan secara logis dan taqwa. Hasil dari puasa akal adalah terciptanya pribadi yang lebih beradab, disiplin, dan mampu mengendalikan emosi serta dorongan diri dari dalam yang semakin kuat.
Dalam membangun kerangka konseptual puasa pikiran maka dibutuhkan Kembali untuk menyelami kandungan ayat-ayat Suci Alquran dan merefleksikan kembali literasi pada diri kaum muslim hal ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan diri. Ppuasa pikiran menuntut kemampuan untuk menjaga jarak dari ego diri.. Puasa pikiran seharusnya melatih kerendahan hati yang epistemik, membangun kesadaran bahwa pemahaman kita sejatinya selalu terbatas karena ada jarak dan nilai-nilai yang diyakini dalam memahami persoalan hidup. Maka dengan jarak itulah seseorang tetap dapat memegang prinsipnya tanpa terjebak pada keangkuhan intelektual. Sikap ini perlu dalam masyarakat yang plural, agar perbedaan tidak selalu lantas melahirkan polarisasi yang ekstrem.
Puasa pikiran adalah upaya melatih kemampuan menerima dinamika hidup tanpa keterkaitan berlebihan pada hasil. Persoalan kecemasan itu lahir dari hasrat untuk mengontrol masa depan dan persoalan menggapai cita-cita. Ketika prose cita-cita sukses, maka seseorang larut dalam euphoria kegembiraan, akan tetapi ketika gagal, lantas tenggelam dalam penyesalan. Puasa pikiran mengajarkan proporsionalitas, dimana manusia berupaya secara optimal, tetapi menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali diri. Ini bukanlah sikap fatalisme (jabariyah), melainkan sikap kedewasaan eksistensial dan intelektual.
Puasa pikiran berarti upaya menunda penilaian dan meredam suatu prasangka. Pada dimensi ini setiap orang hidup dalam kerangka pengalaman dan konsep tertentu yang dikembangkan dan dipikirkan secara nalar.Sehingga suatu kerangka atau konsepsi itu membantu memahami dunia, sekaligus membatasi. Ketika seseorang terlalu melekat pada asumsinya yang dimiliki,maka ia cendering memaksakan diri terhadap suatu realitas agar selaras dengan konstruksi mentalnya. Puasa pikiran dalam hal ini dapat melatih kejernihan, hadir pada kenyataan sebelum memberi label kepada orang lain maka manusia harus melihat kearah dirinya sendiri. Dalam konteks sosial, sikap ini mencegah diskriminasi dan menguatkan empati.
Puasa pikiran mengarahakan pada keseimbangan antara ikhtiar dan penerimaan. Proses kebiasaan kerap kali muncul dari upaya menganalisis segala kemungkinan secara berlebihan yang memunculkan suatu rasa kecemasan. Pikiran kemudian bekerja tanpa henti hal itu seolah-olah seluruh masa depan dapat dipastikan melalui perhitungan. Padahal hidup didunia mengandung hal ketidakpastian.
Dengan puasa pikiran itu, seseorang umat manusa untuk kembali belajar dalam memahami batas analisisnya, tentang kapan perlu berpikir mendalam, kapan harus bertindak. Kapan berbicara, kapan sebaiknya diam. Kapan untuk mendamaikan kesemasan hati. Hal ini nantinya dapat menjaga proses keseimbangan dalam menjaga kesehatan mental sekaligus memperdalam kedewasaan spiritual.
Dalam Musnad Imam Ahmad dari sahabat Usamah Ibn Shurayk, Rasul Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan sebuah penyakit melainkan Ia menurunkan obatnya. Ada di antara hamba-Nya yang mengetahui obat tersebut, dan ada juga yang tidak mengetahuinya.” Dalam redaksi lain ditambahkan: “... kecuali satu jenis penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu penyakit ketuaan.” Penyakit yang disinyalir Rasul tersebut mencakup semua penyakit dan obatnya, baik penyakit hati, rohani, jiwa, atau, fisik
Ketiga Puasa Ruh: Ketenangan di Tengah Badai (Puasa ruh: Memendekkan angan-angan) Sisi Ilmiah: Secara psikologis, sumber stres terbesar manusia adalah Anticipatory Anxiety kecemasan berlebih tentang masa depan yang belum tentu terjadi (angan-angan kosong). Fokus pada saat ini terbukti secara klinis menurunkan hormon kortisol (hormon stres). Dunia sering membuat kita merasa "tidak pernah cukup". Puasa ruh mengajak kita berhenti mengejar fatamorgana. Saat kita sadar bahwa hidup ini singkat, kita tidak lagi sibuk menumpuk harta atau dendam, melainkan sibuk menanam kebaikan. Inilah puncak kedamaian: saat hati merasa cukup dengan Tuhan.
Allah yang menciptakan jiwa manusia, Allah jugalah yang paling mengetahui apa yang akan membuatnya bahagia dan apa pula yang dapat membuatnya sengsara, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS as-Syams: 7-10
Dalam buku Al Quran dan Kesehatan Jiwa karanagan Prof. Dr. HM. Hasballah Thaib, M. A Dr. H. Zamakhsyari bin Hasballah Thaib, Lc. MA IbnU Qayyim al-jauziyyah pernah mengatakan; “Jiwa manusia kadangkala menyuruh berbuat kejahatan, kadangkala menyesali perbuatan, dan kadangkala pula menjadi tenang. Bahkan mungkin saja dalam satu hari, dalam satu jam, jiwanya dapat berubah-ubah dari sifat yang satu ke sifat yang lain. Maka dilihat bagaimana keadaan dominan jiwa tersebut. Jika ia tenang, itu merupakan pujian untuknya. Jika ia menyuruh berbuat kejahatan, itu merupakan cercaan untuknya. Sedangkan jika ia menyesali perbuatannya, maka terbagi dua; ada yang baik dan ada yang buruk tergantung apa yang disesalinya.
Dalam Shahih Muslim dari sahabat Jabir Ibn ‘Abdullah, Rasullullah Saw bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya, jika obat tersebut benar maka penyakit tersebut akan sembuh dengan izin Allah.”
Dalam hadist yang lain Rasulullah saw. Bersabda, “Ada tiga hal yang apabila terdapat dalam seseorang niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; bahwa ia tidak mencintai seseorang melainkan semata karena Allah; dan bahwa ia membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam neraka. ” (HR Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik)
Kesimpulan:
Harmoni yang Sempurna Puasa bukan sekadar "diet" tubuh, tapi "diet" bagi emosi dan ambisi yang berlebihan. Ibnu Al-Jauzi merangkumnya dengan indah: Jasad yang lapar akan sehat. Akal yang terkendali akan bijak. Ruh yang tenang akan bahagia.mTanpa ketiganya, puasa kita hanyalah rasa haus yang sia-sia. Namun dengan ketiganya, puasa menjadi perjalanan pulang menuju jati diri kita yang paling mu
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
