Peluang Emas Berkarier di Sektor Pertanian Modern Jepang
Bisnis | 2026-10-12 13:28:35Bekerja di luar negeri kini tak lagi sekadar alternatif mencari nafkah. Selain menawarkan lompatan finansial, tak kalah pentingnya dari bekerja di luar negeri adalah pilihan karier strategis dan peningkatan kompetensi global.
Salah satu destinasi lapangan kerja yang menjadi magnet terkuat bagi generasi muda Indonesia adalah Jepang. Jepang merupakan negara maju yang menjadi incaran bagi pekerja migran Indonesia. Faktor kedekatan budaya dan kemajuan teknologi merupakan di antara daya tariknya.
“Bekerja di Jepang selain menjanjikan nominal gaji yang bagus, juga memberikan investasi keterampilan, kedisiplinan, dan adopsi teknologi pertanian modern yang nantinya bisa dibawa pulang ke Tanah Air. Beberapa hal ini meningkatkan kompetensi global pekerja migran,” kata Direktur Global Experience, Sahmullah Rivqi, di Tokyo, Jepang, akhir Agustus 2026 lalu.
Apalagi, kata Rivqi, Jepang sedang membuka pintu lebar-lebar bagi tenaga kerja terampil asal Indonesia. Arus tenaga kerja Indonesia ke Jepang saat ini tak lagi tren musiman, melainkan pergerakan struktural yang masif. Data terbaru Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menunjukkan, jumlah total pekerja migram Indonesia di Jepang telah menembus angka 180 ribu orang. Jumlah ini tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan pengirim tenaga kerja tercepat dibandingkan negara lainnya.
Lonjakan jumlah pekerja migran Indonesia ke Jepang ini sejatinya berkesesuaian dengan kebutuhan tenaga kerja di negeri Sakura tersebut. “Ada kecocokan kebutuhan atau perfect match antara kedua negara,” kata Rivqi.
Pemerintah Jepang menargetkan bakal menerima pekerja asing hingga 1,2 juta orang hingga tahun 2028. Hal ini mengingat karena Jepang sedang mengalami krisis demografi. Populasi usia produktif mereka menyusut drastis atau diistilahkan sebagai fenomena super-aging society.
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Jepang yang dirilis September 2026, jumlah penduduk Jepang yang berusia di atas 100 tahun untuk kali pertama melebihi 100 ribu orang. Angka tepatnya mencapai 107.677 jiwa per September 2026.
Rinciannya, sekitar 88 persen dari total penduduk berusia lebih seabad tersebut adalah perempuan. “Perempuan tertua bernama Kishimoto Fuyo berusia 114 tahun berasal dari Kyoto, laki-laki tertua adalah Kato Hikaru 112 tahun berasal dari Kumamoto,” papar Rivqi.
Perfect match terjadi karena pada saat bersamaan, Indonesia mengalami bonus demografi. Indonesia memiliki limpahan usia muda produktif yang siap bersaing. Melalui skema visa Tokutei Ginou atau Specified Skilled Worker (SSW), perlindungan hukum bagi pekerja asing kian diperketat, tapi jalur birokrasi semakin dipermudah. Pemerintah Indonesia, kata Rivqi, punya komitmen untuk terus menaikkan proporsi penempatan tenaga kerja terampil di Jepang secara signifikan.
Adapun terkait dengan peluang pekerja di sektor pertanian, Jepang bisa menjadi salah satu kiblat teknologi pertanian modern. Mekanisasi dan modernisasi pasca-panen memanfaatkan teknologi tinggi yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Gudang menerapkan sistem yang memungkinkan komoditas hasil pertanian terkelola secara bersih, rapi, dan dikemas dengan baik.
Semisal, produk nira atau kucai di Saitama, wilayah Nagano, Ibaraki. “Ibaraki merupakan daerah penghasil nira terbesar di Jepang,” ungkap Fujita, pengurus asosiasi petani asal Ibaraki.
Nira yang dihasilkan dari Nagano mencapai 100-an ton per hari. Kebutuhan nira di seluruh Jepang mencapai melebihi angka tersebut. Alhasil, produksi nira di wilayahnya kerap habis terserap pasar.
Untuk memenuhi produksi nira ini, kata Fujita, dibutuhkan tenaga kerja andal. “Pekerja asal Indonesia merupakan favorit petani Jepang karena dikenal kerja keras, disiplin, dan berdedikasi tinggi,” kata Fujita.
Dia mengungkapkan, pekerja asal Indonesia di sektor pertanian di Ibaraki mencapai 300 orang selama lima tahun terakhir. Jumlah yang tidak kecil untuk sebuah wilayah seluas 13,5 ribu kilometer persegi, prefektur terbesar ke-4 di Jepang.
Terlebih, pekerja asal Indonesia di sektor pertanian didukung insentif finansial yang sangat kompetitif. Di sektor pertanian modern ini, kisaran gaji yang mereka terima setidaknya Rp 20 juta per bulan.
“Gaji kotor ditambah dengan kerja lembur, setidaknya bisa lebih dari Rp 20 juta kami terima,” kata Aji, pekerja migran asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini. Angka yang tidak kecil bila dibandingkan profesi serupa di Indonesia.
Dengan kondisi ini, keuntungan pekerja migran Indonesia tak hanya mengantongi tabungan bernilai ratusan juta rupiah, tapi juga menggendong keahlian teknologi pertanian yang modern, budaya disiplin, serta mentalitas global yang berguna dalam berkompetisi dengan pekerja asing lainnya.
Menurut Rivqi, pengalaman bekerja di negara yang aman seperti Jepang ini akan menumbuhkan kultur kerja profesional yang membentuk karakter unggul. “Peluang besar terbuka lebar untuk bekerja di Jepang dalam beragam sektor, tinggal persiapkan mental, fisik, dan kemampuan bahasa melalui jalur-jalur resmi untuk menjemput kesukesan di negeri Sakura,” kata Rivqi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
