Menjaga Marwah di Ruang Digital: Tiga Pilar Etika 'Dumay' ala MAN 3 Bantul
Agama | 2026-03-12 07:51:58
BANTUL (MAN 3 Bantul) – Di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali menggerus nilai-nilai kesantunan, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul (MANTABA) hadir membawa oase penyejuk. Melalui program SUWAIBA (Asupan Jiwa MANTABA) Episode 21 yang disiarkan via YouTube pada Kamis (12/03/2026), madrasah ini membedah urgensi etika berkomunikasi di dunia maya atau yang populer disebut "Dumay".
Hadir sebagai narasumber, Guru Informatika MAN 3 Bantul, Budi Hartono, S.Pd., menegaskan bahwa kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan kematangan akhlak. Menurutnya, dunia maya bukan sekadar ruang hampa tanpa aturan, melainkan perluasan dari kehidupan nyata yang tetap memikul tanggung jawab moral dan ukhrawi.
1. Tabayun: Perisai dari Jerat Penipuan Digital
Dalam paragraf pembukanya, Budi Hartono menyoroti fenomena kerentanan data pribadi yang sering berujung pada tindak kriminal. Merujuk pada Al-Qur'an, beliau menekankan pentingnya prinsip Tabayun (verifikasi). Budi mengisahkan pengalaman pribadinya saat hampir menjadi korban penipuan yang mencatut nama sang anak.
"Dunia maya sangat riskan. Kita tidak boleh menelan mentah-mentah informasi, baik teks maupun suara. Check and recheck adalah harga mati agar kita tidak terjebak dalam hoaks yang bisa merugikan materiil maupun psikologis," ungkapnya. Di era deepfake dan manipulasi informasi, tabayun menjadi disiplin ilmu yang wajib dimiliki setiap Muslim.
2. Transformasi Lisan Menjadi Tulisan
Poin krusial kedua yang dibahas adalah pergeseran lisan menjadi jempol. Mengutip hadis Rasulullah SAW tentang keselamatan manusia yang bergantung pada kemampuannya menjaga lisan, Budi mengingatkan bahwa setiap ketikan di WhatsApp, Facebook, maupun media sosial lainnya akan dimintai pertanggungjawaban.
"Saat ini, mulutmu harimaumu telah bertransformasi menjadi jempolmu harimaumu. Bahasa gaul yang sering kali sarkastik atau merendahkan bisa menjadi bumerang yang memutus tali silaturahmi," jelasnya. Ia mengajak generasi zilenial untuk mempraktikkan filsafat "berkata baik atau diam" dalam setiap interaksi kolom komentar, demi menjaga harmoni sosial di ruang publik digital.
3. Mewaspadai Penyakit Hati di Balik Layar
Lebih dalam, Budi menyentuh aspek spiritual yang sering terabaikan: Penyakit 'Ain dan Riya. Media sosial secara alami mendorong penggunanya untuk memamerkan pencapaian atau kenikmatan (riya). Namun, ia memperingatkan bahwa pamer yang berlebihan, seperti mengunggah menu makanan mewah atau gaya hidup hedonis, tidak hanya memancing kecemburuan sosial, tetapi juga potensi bahaya 'ain—pandangan mata yang didasari rasa iri.
Beliau mengutip QS. Al-Falaq untuk mengingatkan bahwa kejahatan orang yang dengki itu nyata. "Jangan sampai status kita menjadi ladang dosa bagi orang lain yang melihatnya dengan rasa iri. Gunakanlah media sosial dengan penuh kerendahan hati," tambahnya.
Kesimpulan: Teknologi Sebagai Ladang Amal
Menutup kajian SUWAIBA tersebut, Budi Hartono memberikan pesan reflektif bagi keluarga besar MAN 3 Bantul dan masyarakat luas. Teknologi hanyalah alat; arah gunanya ditentukan oleh kemudi iman penggunanya. Dengan memegang teguh tiga pilar—Tabayun, Menjaga Lisan, dan Menjauhi Riya—interaksi di dunia maya diharapkan mampu bertransformasi menjadi amal jariyah, bukan justru menjadi sumber fitnah.
Kepala MAN 3 Bantul, Dr. Suryanto, S.Ag., M.S.I., dalam kesempatan terpisah menyambut baik edukasi literasi digital berbasis religi ini, mengingat tantangan zaman yang menuntut santri tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga bijak secara digital. (Ris)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
