Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Rohman Fadilah

Seorang yang Hebat

Sastra | 2026-03-07 06:25:17

Mengapa? Mengapa kamu ingin sekali jadi guru matematika?'' tanya Bu kansa .

''Sejak aku bertemu Bu Fitri, kelas 3 SD dulu, aku sudah ingin menjadi guru Matematika, Bu. Itulah harapan terbesar hatiku, karena aku merasa, menjadi guru matematika adalah alasan di dunia ini, aku, Siti Fatimah Az-zahra, ada.''

''Tapi kamu bisa dikirim ke pelosok loh, Fatimah, ke kampung yang tidak ada Listrik, aduh seramnya!.''

''Indonesia perlu guru matematika, Bu, apa boleh buat, aku siap bertugas di mana saja.”

''Meski ke pulau penampakannya?''

''Siap, Bu.''

''Berapa umurmu sekarang?''

''Mau masuk enam belas Bu.''

''Kamu bisa menjadi dokter, insyinyur, sarjana hukum atau sarjana apa saja yang kamu mau dengan mudahnya, macam membalikan tangan!''

''Terima kasih, Bu, tapi saya hanya ingin menjadi guru.''

''Lihatlah dirimu, Fatimah, ramping, peringkat satu di sekolah, juara Musabaqah, juara renang, cantik bukan main pula.

''Bu, Negeri ini kekurangan guru matematika, terutama di kampung-kampung. Pemerintah sedang menyiapkan program yang sangat bagus, buat mencetak generasi untuk membangun teknologi masa depan, Bu, kita harus mendukung.''

''Idealis,'' gerutu Kepala Sekolah sambil menggeleng-geleng putus asa.

Yang berbicara adalah ibu Dedeh kusmawati, kepala SMA, dan Siti Fatimah Az-zahra, muridnya yang paling pintar dan baru lulus sebagai lulusan terbaik. Saking cerdasnya, Fatimah bisa masuk perguruan tinggi yang menyediakan bangku khusus buat anak-anak superpintar, karena nilai ijazahnya sangat cemerlang. Namun Fatimah memilih Pendidikan diploma 3 yang diselenggarakan pemerintah untuk mencetak guru-guru matematika. Nanti lulusannya akan diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan harus bekerja di seluruh wilayah Indonesia.

Ibu Dedehpun datang ke rumah Fatimah atas undangan Ibu Fatimah yang sudah kehabisan cara untuk membujuk anak gadisnya, Ibunya pengen Fatimah itu masuk fakultas kedokteran, atau masuk fakultas ekonomi, belajar bisnis, agar bisa melanjuatkan usaha dagang ayahnya.

''Kamu yakin pengen jadi guru, Fatimah? Lihat sanab-nasib guru itu!''

''Ya iyalahh, mana bisa kita menilai profesi agung seorang guru hanya dengan imalan ke ketulusan materi seperti itu!.''

''Apa kamu juga yakin, gak mau melanjutkan usaha ayahmu? Lihatlah toko ayahmu semakin maju. Memajukan toko seperti itu butuh orang pintar, dan kamulah orang pintar itu, Fatimah, toko besar ayahmu akan menjadi milikmu nanti.''

Ayahnya pun mendengarnya, ada dibalik dinding dan menguping pembicaraan itu, tersenyum senyum sejak tadi. Karena dia tau kedua Perempuan setengah baya itu tak akan pernah dapat menaklukan putri kecilnya, yang lahir dini hari saat Listrik negara putus dan sebuah gunung merapi di asia timur meletus.

Ayah bangga karena putrinya mewarisi pendirian itu darinya, Kini dia lelaki Bahagia karena bisa berdagang dan dikaruniai anak anak yang pintar, kakanya Fatimah segera menyelesaikan di fakultas fakultas kedokteran. Tapi yang paling pintar diantara ketiganya adalah si bungsu cantik rupawan itu: Siti Fatimah Az-Zahra.

~~~

Dua minggu setelah pembicaraan tadi, Fatimah mulai kuliah, Macam bebek bertemu kolam dia langsung bergelimang matematika setiap hari. Dia menikmati perjuangan, persaingan, diskusi serta perdebebatan dengan dosen-dosen dan kawan-kawannya yang juga cerdas. Lambat laun -mahasiswa-mahasiswa tersebut berguguran karena system DropOut, karena mereka tidak mencapai standar IPK.

Lalu tibalah saat yang mendebarkan , yakni undian pembagian Lokasi pengajaran. Ibu Rektor berdiri didekat pintu dan membawa stoples berisi gulungan-gulungan kertas yang berisi Lokasi diseluruh wilayah Indonesia.

‘’Tolong jangan dibuka ya , sebelum ibu keluar dari ruangan ini, karena Ibu tidak kuat mendengar suara teriakan teriakan kalian.

‘’Baik, Bu.’’ Ucap seluruh calon guru muda Indonesia.

Mulailah satu persatu mengambil gulungan-gulungan tersebut, Salamah mengambil kertas undian dengan langkah kaki seperti dibebani serratus batu, Ibu Rektor harus menundukkan badannya agar salamah mudah dalam mengambil gukungan tersebut, karena tubuh salamah seperti anak SD, lalu Salamah Kembali ke tempat duduknya, gemeteran tubuhnya, setelah Salamah, Siti Fatimah Az-Zahra maju kedepan.

‘’Ayoooo, lulusan terbaik boleh memilih tempat mengajar, entah itu di kampung halaman, atau di kota teramai, boleh dimana saja sesuai hati kalian.’’

Fatimah tersenyum, karena kenyataannya dia adalah lulusan cumlaude dari Pendidikan itu.

‘’Terima kasih, tapi aku ingin mengundi seperti kawan-kawan saja,Bu.’’

‘’MasyaAllah, belum ada loh yang tidak mengambil kesempatan emas ini.’’

Fatimah mengambil gulungan kertas undian di dalam stoples lalu Kembali ke tempat duduknya.

Pengundian selesai.

‘’Selamat untuk kalian, maaf, Ibu tidak bisa menghibur kalian yang mendapat Lokasi pengajaran di pelosok, Ibu akan meninggalkan ruangan ini dalam 10 detik, hitung dalam hati kalian masing-masing ya.’’

Ibu Rektor mulai keluar ruangan, para lulusan tegang menghitung dalam hati.

‘’Batam! Batam!’’

mengangkat kertasnya tinggi-tinggi.

‘’Pekan Baru!’’ sorak si Bujang, lulusan terbaik kedua setelah Fatimah yang kepalanya botak duluan sebelum jadi professor.

‘’Bengkulu! Bengkulu! Sorak lulusan lainnya.

‘’Jatibarang!’’

‘’Prabumulih!’’

‘’Metro!’’

‘’Bukittinggi!’’

Kelaspun menjadi gaduh karena teriakan-teriakan tadi, dan Fatimah membuka gulungan kertasnya dia tersenyum Bahagia melihat tulisan Palembang, bagus sekali nasibnya, dia akan bertugas di salah satu kota yang cukup maju dan Makmur.

Semua lulusan tadi sudah mengetahui lokasi pengajaran, lalu melihat air mata mereka kepada salamah yang sedang menangis terisak-isak. Rizki pun bertanya kepada Salamah ''Kenapa kamu menangis?'', tanpa jawaban Salamah, Rizki sudah mengetahui sebab dia menangis, Rizki terkejut melihat nama sebuah tempat yang dicorat-coret oleh Salamah.

''Pulau Sembilan?'', oooii ada yang pernah denger pulau Sembilan??'' tanya Rizki. Semua saling memandang, mengangkat bahu, menggeleng-geleng.

''Emang pulau itu masih dalam wilayah hukum Republik Indonesia?'' tanya salah satu lulusan. Lalu ada yang menebak-nebak, ada yang bilang didekat daerah Singapura, ada yang bilang, dekat Selat Malaka, semakin banyak yang menebak Salamah menangis semakin terisak-isak.

Datanglah Fatimah menghadap Salamah, ''Tak apa-apa mah, kita tukeran tempat saja, aku di Pulau Sembilan, kamu mengajar di Palembang''. ''Sudahi mah, Sinetron layar lebarmu!, aku rela demi sahabat sejatiku''.

Salamah berdiri lalu mendekap Fatimah, sepertinya lucu, Fatimah yang jangkung memeluk anak kecil, ''Hapus air matamu!''.

~~~~

Di dalam ruangan yang dipenuhi pengunjung, Calon-calon guru Matematika mengangkat sumpah jabatan mereka sebagai pegawai Negeri dalam suasana tentram dan khidmat.

''Hai bung,, apakah ada Sepatu khusus buat calon guru matematika?'', cakap Ayah Fatimah kepada tukang Sepatu.

'' Ini dia! Sepatu olahraga bergaris-garis merah, Salah satu produk kami yang terbaik, mengajar matematika harus perlu guru yang tahan banting, maka Sepatu gurunya juga harus tahan banting, buktinya, saya sendiri sudah memakai Sepatu jenis ini selama 12 tahun hehehe''.

''Pakailah Sepatu ini besok, Fatimah, perjalananmu akan panjang, kamu harus pakai sepatu yang nyaman,'' kata Ayah Fatimah. Senang sekali Fatimah mendapat hadiah dari Ayahnya.

''Kenapa kamu sangat senang, Fatimah?'' tanya Ayahnya.

''Aku sangat senang karena aku dapat hadiah Sepatu dari Ayah, sama mendapat hadiah baju dari Ibu''. Ujar Sang anak gadis tercinta.

''Tunggu sebentar ya Yah, Bu.''

Fatimah masuk ke kamar membawa sepatu itu. Kemudian dia Kembali, dia telah memakai baju dan Sepatu yang diberikan kedua orangtuanya.

''Bagaimana Ayah, cocok tidak style baru aku?''

''Sudah cocok seperti Guru Matematika belum yah?''

Ayahnya terpana akan keanggunan paras, serta paduan baju Muslimah yang diberikan ibunya

‘’Bangganya aku punya anak seorang guru’’

Keesokan harinya, Ibu Fatimah, Ayah, sanak keluarga, serta beberapa tetangga menunggu kedatangan bus, dan akhirnya bus tersebut datang. Fatimah memanggul tas besar miliknya dan akhirnya Fatimah menaiki bus.

TAMAT.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image