Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Frila Wahyuni Muliyasari

Swasembada Beras atau Impor Beras?

Kabar | 2026-03-03 13:26:20

Di Tahun 2025 Indonesia sukses tidak melakukan impor beras karena telah memenuhi capaian swasembada beras, produksi beras mencapai 34,34 Juta ton dan kebutuhan konsumsi beras domestik sebesar 30,97 juta ton beras. Sedangkan di Tahun 2026 ini Kementrian mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sejumlah 3,5 Juta ton dan akan naik sekitar 15% pada bulan Maret karena adanya panen Raya. Namun di tengah pencapaian swasembada Pemerintah juga akan mengimpor beras yang berasal dari AS sebesar 1.000 ton per tahun akibat perjanjian perdagangan timbal balik (Agreements or Reciprocals Trade). Pemerintah menjelaskan beras yang diimpor memiliki kualisifikasi khusus yakni beras ketan, japonica (beras dari Jepang), dan basmati (beras dari India). (Sumber : https://www.bbc.com/indonesia/articles/c74307d18rmo)

Ketika Swasembada beras dinilai sudah berhasil mengapa pemerintah justru melakukan impor, walaupun yang diimpor bukan beras konsumsi nasional tetapi kedepannya akan mempengaruhi harga jual di pasar. Pemerintah seharusnya lebih cermat mengambil keputusan karena program swasembada dan food estate yang sedang berlangsung. Pada Proyek swasembada pangan dan energi di Merauke pemerintah telah menggunduli sebesar 2,47 Juta Hektar Lahan Basah, Sabana dan Hutan Alam. Ini juga yang pasti kedepannya akan merusak alam.

Perjanjian tersebut seharusnya di kaji ulang ini untuk kepentingan bangsa atau hanya untuk kepentingan segelintir orang. Di dalam ekonomi Islam pasti pemerintah akan berupaya untuk mensejahterahkan rakyatnya, ketika swasembada beras sudah dapat di lakukan maka pemerintah akan berupaya untuk menstabilkan harga beras itu sendiri agar masyarakat dapat menikmati dan merasakan semua. Dan pemerintah juga akan melakukan perhitungan yang teliti ketika ingin mengimpor beras dari luar. Karena pemerintah di dalam ekonomi islam hanya berfikir untuk kemaslahatan umat bukan untuk kepentingan perseorangan ataupun kelompok.

Beginilah jika kita tidak memakai ekonomi islam di dalam negara yang mayoritas beragama islam, sistem yang berasal dari Allah pasti akan mesejahterahkan rakyat. Justru akan sangat berbeda ketika sistem dari Allah ini dipakai, bukan seperti saat ini swasembada beras yang dapat di capai tetapi harga beras masih tinggi dan tidak semua masyarakat dapat merasakan makan kenyang setiap hari. Pada saat Umar memimpin ada seorang ibu yang memasak batu untuk anak-anaknya maka Umar memberinya gandum dan membawanya sendiri karena takut akan azab Allah ketika dia tidak dapat memberikan makanan terbaik untuk umatnya. Tetapi hari ini banyak umat mati kelaparan dan juga tidak mendapatkan makanan dengan layak karena penguasa tidak memakai aturan Allah. Sudah saatnya kita kembali memakai hukum Allah sistem yang di buat oleh Allah yang pasti akan memberikan nikamat kepada umatnya, seperti yang terkandung pada Surah Ibrahim Ayat 7

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan : "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmatku, sesungguhnya azabku benar-benar sangat keras.

(Wallahualam bishawab)

https://www.nusabali.com/berita/209926/indonesia-swasembada-beras

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image