Menyegerakan Amal Sholih dan Larangan Taswif
Agama | 2026-02-28 09:49:40Suwardi Rosyid
Menunda amal adalah salah satu "tantara" Iblis yang paling mematikan. Seringkali kita merasa memiliki waktu yang panjang, padahal ajal tidak pernah mengetuk pintu sebelum bertamu.
1. Perintah Bersegera dalam Kebaikan
Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk tidak sekedar berjalan, melainkan “berlomba-lomba” dan “bersegera” ketika urusannya adalah pengampunan dan surga.
Dalil Al-Qur'an (QS. Ali Imran : 133):
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“ Dan bersegeralah kamu kepada pengampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini menggunakan kata Wasaari'uu (bersegeralah). Dalam urusan dunia, Allah berpesan untuk berjalan ( famsyu ), namun untuk urusan akhirat, Allah meminta kita berlari. Menunda amal shalih berarti membiarkan kesempatan emas untuk meraih pengampunan lewat begitu saja.
2. Memanfaatkan Kesempatan Sebelum Datang Kesempitan
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa keadaan manusia selalu berubah. Kesehatan bisa menjadi sakit, dan waktu luang bisa menjadi sibuk.
Hadits Nabi SAW:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا، هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا Layanan yang Dapat Membantu Diatur أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا
“ Bersegeralah beramal sebelum datang tujuh perkara: Kemiskinan yang melupakan, kekayaan yang mengelilinginya, sakit yang merusak, masa tua yang melonjak, atau kematian yang mendadak ” (HR. Tirmidzi)
Kita sering menunda shalat atau sedekah dengan alasan “nanti kalau sudah sukses” atau “nanti kalau sudah pensiun”. Hadits ini menegaskan bahwa setiap fase hidup memiliki ujiannya sendiri. Jangan menunggu kondisi ideal untuk beribadah, karena kondisi itu mungkin tidak akan pernah datang.
3. Nasihat Ibnu Umar: Jangan Menunggu Pagi atau Sakit
Ini adalah prinsip hidup yang sangat disiplin mengenai waktu. Kita mengajarkan untuk hidup seolah-olah ini adalah hari terakhir kita.
Hadits Riwayat Bukhari:
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah SAW memegang pundakku lalu bersabda: "Jadilah engkau di dunia ini ibarat-akan orang asing atau pengembara." Kemudian Ibnu Umar berkata:
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
" Jika kamu berada di sore hari, janganlah menunggu datangnya pagi. Dan jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR.Bukhari)
Nasihat ini mengandung dua makna mendalam:
- Kependekan Angan-angan ( Qashrul Amal ): Tidak menggantungkan harapan pada umur yang panjang.
- Efisiensi Amal: Jika ada kebaikan yang bisa dilakukan sekarang, lakukanlah. Menundanya ke waktu pagi/sore hanya akan menumpuk beban amal yang akhirnya seringkali tidak terkerjakan.
4. Bahaya Penyesalan di Akhir Terkait Penundaan
Al-Qur'an menggambarkan bagaimana orang-orang yang gemar menahan amal akan memohon untuk kembali ke dunia meski hanya sesaat.
Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Munafiqun: 10):
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
" ...Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan mengakhiri (kematianku) sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih."
Mengapa mereka meminta penghentian kematian untuk "bersedekah"? Karena mereka baru menyadari saat sakaratul maut bahwa amal shalih yang mereka tunda-tunda dahulu adalah satu-satunya penyelamat. Namun Allah berfirman bahwa ajal tidak akan diundur jika sudah waktunya.
Dari bahasan dapat disimpulkan bahwa akhir amal adalah bentuk yang tertipu oleh dunia. Ibnu Jauzi rahimahullah pernah berkata bahwa banyak penghuni neraka yang berteriak karena kata "Sauf" (Aku akan...).
- " Aku akan tobat nanti."
- " Aku akan mulai mengaji nanti."
Mari kita jadikan prinsip Ibnu Umar sebagai pedoman: Lakukan sekarang, karena hari esok belum tentu menjadi milik kita
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
