Kejujuran dan Kebajikan sebagai Hakikat Iman
Agama | 2026-02-23 23:43:38الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan, bulan pembinaan iman dan penyucian jiwa. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan utama dalam kejujuran dan kebajikan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Saya ingin memulai Kultum ini dengan satu cerita menarik dan inspiratif :
Ada enam mahasiswa, mereka para mahasiswa pascasarjana King Saud University– bertamu ke kediaman Syaikh Dr. Ashim bin Muhammad Al-Luhaidan. Sosok ini bukan sekadar ulama. Beliau adalah Qadhi (Hakim) di Kota Riyadh. Juga Imam dan Khatib di Masjid Jami' Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Awwad. Beliau tipe pendidik ulung. Tahu betul cara mengikat leher audiensnya agar tidak menoleh ke mana-mana.
Begitu mereka duduk, tidak ada ceramah pembuka yang bertele-tele. Beliau langsung melempar teka-teki.
"Ada satu ibadah," ujar Syaikh Ashim, matanya menatap tamunya satu per satu, "yang kalau kamu pegang, Allah jamin 20 ibadah lainnya ikut beres."
Mereka semua terdiam. Berpikir keras. Otak mereka memutar memori tentang ratusan jenis ibadah. Suasana hening sejenak.
Salah seorang diantara mereka memecah keheningan. "Takwa?" Syaikh menggeleng. "Bukan. Takwa itu melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya."
"Dzikir?" tebak yang lain. Masih salah.
"Tilawah Al-Qur'an?" Beliau tetap menggeleng.
Dan satu lagi mahasiswa memberanikan diri setelah melihat teman-temannya buntu.
"Ikhlas?" jawabnya.
Syaikh menatap. "Bukan. Tapi jawabanmu sudah dekat," kata beliau.
Mereka makin penasaran. Apa yang lebih dekat dari ikhlas?
Syekh Asim lantas membuat perumpamaan yang telak secara logika. Bayangkan sebuah gedung pencakar langit. Dua puluh lantai. Mungkinkah kita masuk ke lantai dua atau tiga tanpa melewati lantai dasar?
Mustahil. Sepakat? Sepakat.
Satu ibadah misterius ini adalah lantai dasarnya. Ground floor-nya. Kalau lantai dasar ini keropos, jangan harap bisa naik ke lantai atas. Kalau shalat Anda bermasalah, kalau Anda pelit bersedekah, kalau Anda sering gelisah dan depresi, jangan obati gejalanya di lantai atas. Perbaiki lantai dasarnya.
Apa itu?
Jawabannya mengejutkan: As-Sidq. Kejujuran.
Syekh Asim tidak sedang berteori kosong. Beliau menyodorkan dalil yang kuat. Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang masyhur:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan (Al-Birr), dan kebaikan itu menuntun kepada surga."
Kuncinya ada pada kata Al-Birr (kebajikan). Syekh Asim mengajak mereka yang hadir menghitung matematika iman lewat Surah Al-Baqarah ayat 177. Di sana, Allah mendefinisikan apa itu Al-Birr.
Mari kita bedah ayatnya:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ
Ayat ini merangkum rukun iman. Merangkum sedekah. Merangkum shalat. Merangkum zakat. Menepati janji. Merangkum kesabaran saat miskin maupun sakit. Totalnya ada belasan item ibadah berat.
Lantas, apa kesimpulan akhir ayat tersebut? Siapa orang yang sanggup melakukan semua itu?
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
"Mereka itulah orang-orang yang jujur, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
Terjawab sudah. Jujur adalah induknya. Pantas saja tebakan mereka para mahasiswanya tidak ada yang tepat. Bahkan jawaban terakhir tentang Ikhlas tadi dibilang dekat. Karena ikhlas tidak mungkin ada tanpa kejujuran niat di dalam hati.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Di bulan Ramadhan ini, kita tidak hanya dilatih menahan lapar dan dahaga, tetapi juga diuji kejujuran dan kualitas iman kita. Allah SWT memberikan gambaran yang sangat komprehensif tentang makna kebajikan dalam QS. Al-Baqarah ayat 177 sebagaimana disebutkan diatas :
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi ”
Ayat ini menegaskan bahwa kebajikan (al-birr) bukan sekadar simbol atau formalitas ibadah, melainkan integrasi antara akidah yang benar, ibadah yang konsisten, dan akhlak sosial yang nyata.
1. Kebajikan: Integrasi Iman dan Amal
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini turun untuk meluruskan pemahaman umat agar tidak terjebak pada simbol lahiriah semata, tetapi memahami bahwa hakikat al-birr adalah kesempurnaan iman yang diwujudkan dalam amal saleh dan akhlak mulia.
Ibnu Katsir menekankan bahwa kebajikan mencakup:
Keimanan yang kokoh,
Pengorbanan harta karena Allah,
Penegakan shalat dan zakat,
Menepati janji,
Sabar dalam kesulitan.
Ramadhan adalah madrasah yang mengintegrasikan seluruh unsur ini. Puasa melatih iman batin, zakat dan sedekah melatih kepedulian sosial, dan kesabaran dilatih sepanjang hari.
2. Kejujuran sebagai Bukti Keimanan
Kemudian Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 15:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar (ash-shadiqun).”
Kata ash-shadiqun (orang-orang yang benar/jujur) menunjukkan bahwa kejujuran adalah indikator keimanan sejati.
Dalam Tafsir Ath-Thabari, dijelaskan bahwa kejujuran dalam ayat ini bukan hanya ucapan, tetapi keselarasan antara keyakinan hati, pengakuan lisan, dan pembuktian melalui pengorbanan nyata.
Ramadhan adalah momentum pembuktian itu. Tidak ada manusia yang mengawasi kita ketika berpuasa, namun kita tetap menahan diri. Di situlah nilai kejujuran spiritual terbentuk.
Syekh Asim bahkan menyebut kejujuran sebagai obat anti-depresi paling ampuh. Orang yang jujur imannya, tidak akan ragu. Tidak akan overthinking. Tidak akan was-was.
Dalilnya? Surah Al-Hujurat ayat 15:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu... Mereka itulah orang-orang yang benar/jujur."
Ragu adalah penyakit. Obatnya adalah Sidq.
Maka ngeri sekali lawan katanya: Dusta. Dusta bukan sekadar dosa lisan. Ia adalah gerbang menuju kehancuran.
Syekh mengutip peringatan keras dalam Surah Al-Hajj ayat 30, di mana Allah menyandingkan dosa menyembah berhala dengan dosa berkata dusta dalam satu tarikan napas:
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
"Maka jauhilah kekejian berhala-berhala dan jauhilah perkataan dusta."
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,
Bayangkan. Syirik dan dusta. Disebut beriringan.
Seorang penuntut ilmu, seorang profesional, atau siapa saja, jika ia pembohong, habislah sudah. Sifat munafik akan melekat. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
"Dan apabila ia bertengkar (berdebat), ia berbuat kejahatan (fujur)."
Dan fujur asalnya dari dusta.
Lalu bagaimana kalau kita sudah terlanjur sering bohong? Adakah jalan putar balik?
Syekh Asim memberikan resep praktis kepada para mahasiswanya sebelum mereka pulang: Tobat. Menyesal. Mengakui. Bersedekah. Shalat dua rakaat. Dan buat perjanjian dengan diri sendiri: Stop bohong. Tidak ada istilah bohong putih. Bohong ya bohong.
Kejujuran bukan sekadar tidak menipu orang. Ia adalah ketulusan tauhid kepada Allah. Tidak bergantung pada makhluk. Tidak cari muka.
Jika Lantai Dasar ini kokoh, bangunannya akan menjulang tinggi. Wajah akan bercahaya. Hidup akan tenang. Mimpi buruk akan hilang.
Sederhana. Tapi beratnya luar biasa.
3. Ramadhan: Ujian Integritas
Hadirin sekalian,
Puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi latihan integritas. Kita bisa saja berpura-pura di hadapan manusia, tetapi tidak di hadapan Allah. Maka, Ramadhan mendidik kita menjadi pribadi yang:
Jujur dalam pekerjaan,
Amanah dalam tanggung jawab,
Konsisten antara ucapan dan perbuatan.
Jika kejujuran hanya muncul di masjid, tetapi hilang di kantor dan pasar, maka ruh QS. Al-Baqarah 177 belum benar-benar meresap dalam diri kita.
4. Aktualisasi dalam Kehidupan Saat Ini
Di tengah tantangan zaman—krisis kepercayaan, manipulasi informasi, dan godaan materialisme—umat Islam dituntut menghadirkan kembali makna al-birr dan ash-shidq.
Ramadhan harus melahirkan pribadi yang:
Tidak koruptif,
Tidak manipulatif,
Tidak mengkhianati amanah,
Menjadi teladan etika di ruang publik.
Karena iman yang benar akan melahirkan kebajikan sosial.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum transformasi diri. Bukan hanya memperbanyak ibadah ritual, tetapi memperbaiki kualitas iman dan kejujuran kita.
Semoga kita termasuk golongan yang disebut Allah sebagai ash-shadiqun — orang-orang yang benar imannya, lurus amalnya, dan nyata kebajikannya.
اللهم اجعلنا من الصادقين، ومن أهل البر والتقوى.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Wallahu a’lam bishshawab
*Materi ini disampaikan pada Kultum Ramadhan pada hari Senin, 6 Ramadhan 1447 H/21 Februari 2026, di Masjid Al Hikmah, Penjaringan - Jakarta Utara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
