Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image dedy Suherman

Zaman Fitnah dan Jalan Sunyi Menjadi Ta'ifah Mansurah

Khazanah | 2026-02-23 11:24:17

Konflik berkepanjangan di Bilad al-Syam—Palestina, Suriah, dan sekitarnya—sering disebut dalam literatur hadis sebagai wilayah ujian. Dalam riwayat sahih disebut akan selalu ada ṭā’ifah manṣūrah, kelompok yang teguh di atas kebenaran hingga datang ketentuan Allah.

Ulama seperti Imam Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa mereka bukan organisasi tertentu, melainkan siapa pun yang konsisten menjaga kebenaran, ilmu, dan akhlak di zamannya.

Hari ini, kita mungkin jauh dari Syam secara geografis. Namun secara digital, kita berada di pusaran yang sama. Setiap hari linimasa dipenuhi gambar perang, potongan ceramah, klaim akhir zaman, dan provokasi yang memantik emosi. Di sinilah relevansi berbicara tentang zaman fitnah—bukan sekadar sebagai nubuat, tetapi sebagai ujian kualitas iman, akal sehat, dan akhlak.

Iman: Tenang, Berilmu, Tidak Reaktif

Iman di zaman fitnah tidak cukup dengan semangat. Ia memerlukan kedalaman. Nabi mengingatkan bahwa fitnah membuat yang benar tampak salah dan yang salah tampak benar. Maka iman harus ditopang ilmu, bukan potongan video 30 detik. Ia harus dilatih dengan sabar, bukan kemarahan kolektif.

Menjaga iman berarti menolak fatalisme apokaliptik. Fatalisme apokaliptik adalah sikap mental yang meyakini bahwa dunia sudah berada di ambang kehancuran (akhir zaman), sehingga usaha manusia dianggap tidak lagi berarti atau tidak perlu.

Kita tidak dipanggil untuk sibuk menentukan kronologi akhir zaman, melainkan memastikan diri tetap jujur, adil, dan sabar. Bahkan jika kiamat tiba sementara di tangan kita ada benih, kita tetap diminta menanamnya. Spirit ini adalah optimisme produktif—bukan histeria.

Akal Sehat: Melawan Polarisasi

Zaman fitnah ditandai kaburnya batas dan membesarnya polarisasi. Di media sosial, isu kompleks direduksi menjadi hitam-putih. Solidaritas kemanusiaan sering berubah menjadi fanatisme buta. Kritik dianggap pengkhianatan, kehati-hatian dicurigai sebagai kelemahan.

Menjaga akal sehat berarti berlatih tabayyun, memeriksa sumber, menunda reaksi. Geopolitik global selalu kompleks; ada kepentingan negara, ekonomi, ideologi, dan sejarah panjang di dalamnya. Islam tidak mengajarkan kita menjadi naif atau emosional, melainkan adil—bahkan kepada pihak yang tidak kita sukai.

Akal yang jernih membuat kita peduli tanpa menjadi brutal, tegas tanpa menjadi liar.

Akhlak: Tidak Ikut Bahasa Kebencian

Barangkali ujian terberat adalah akhlak. Ketika emosi memuncak, bahasa mudah tergelincir. Kita bisa benar dalam posisi, tetapi salah dalam cara. Padahal Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Akhlak di zaman fitnah berarti tidak merayakan kematian manusia, tidak menggeneralisasi kebencian, tidak mudah mengkafirkan atau menyesatkan. Ia adalah kemampuan menjaga lisan dan jari, bahkan ketika hati sedang panas. Inilah benteng pertama dari ekstremisme.

Ketahanan Pangan: Membangun dari yang Lokal

Menjadi ṭā’ifah manṣūrah dari jauh tidak selalu berarti berada di garis depan konflik. Dalam penjelasan para ulama, mereka adalah orang-orang yang menjaga kebenaran dan kemaslahatan. Di Indonesia, salah satu bentuknya adalah membangun ketahanan komunitas, termasuk ketahanan pangan.

Mengapa pangan?

Karena komunitas yang rapuh secara ekonomi mudah terseret emosi global. Ketergantungan yang tinggi membuat masyarakat rentan terhadap guncangan harga, krisis distribusi, dan politik bantuan.

Membangun kebun komunitas, menguatkan koperasi pangan, mendukung petani lokal, menghidupkan lumbung desa—semua itu adalah amal strategis. Ia mungkin tidak viral, tetapi ia memperkuat martabat. Ia membuat umat tidak hidup dari sensasi, tetapi dari produksi nyata.

Dalam kaidah Islam, menjaga kemaslahatan umum (maslahah ‘ammah) adalah prioritas. Ketahanan pangan adalah bagian dari menjaga jiwa (hifz al-nafs) dan menjaga harta (hifz al-mal). Ini jihad sunyi yang jarang diberi sorotan.

Prinsip Kunci: Slow, Deep, Local

Zaman fitnah bergerak cepat dan global. Ketahanan dibangun dengan prinsip sebaliknya:

Slow — tidak reaktif, tidak tergesa membagikan setiap kabar.

Deep — memperdalam ilmu, memperkuat spiritualitas, membangun analisis matang.

Local — bekerja dari komunitas terdekat: keluarga, masjid, kampung.

Dari prinsip inilah lahir keteguhan. Ketika dunia gaduh, kita memilih sunyi yang produktif. Ketika linimasa panas, kita memilih kebun yang ditanam. Ketika debat tak berujung, kita memilih pendidikan dan pemberdayaan.

Menjadi ṭā’ifah manṣūrah mungkin bukan tentang siapa yang paling keras bersuara. Ia adalah siapa yang paling kokoh integritasnya. Mereka mungkin tidak trending, tetapi mereka menjaga arah sejarah dengan kesabaran dan karya nyata.

Syam mungkin menjadi episentrum ujian. Namun setiap tempat adalah medan pembuktian. Jika ini zaman fitnah, maka kemenangan bukan pada yang paling gaduh—melainkan pada yang paling jernih, paling adil, dan paling setia pada kemaslahatan.

Dan dari kejauhan, dengan langkah perlahan, dalam, dan lokal, kita tetap bisa menjadi bagian dari kelompok yang ditolong.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image