Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Roehan Ustman

Indonesia dalam Spektrum Abu-abu: Antara Harmoni dan Ambiguitas

Agama | 2026-02-22 11:34:13

Indonesia dalam Spektrum Abu-Abu: Antara Harmoni dan Ambiguitas

Prof. Budi Hardiman pernah melontarkan tesis menarik: "Di Indonesia, baik dan buruk itu abu-abu, tidak hitam-putih." Pernyataan ini diamini oleh para antropolog yang melihat bahwa realitas sosial kita tidak dibangun di atas garis tegas, melainkan dalam ruang-ruang negosiasi yang lentur. Karakter "abu-abu" ini adalah ruang penuh permainan. Ia lahir dari benturan antara aturan formal (hukum/agama) dengan realitas kultural yang sarat akan rasa ewuh pakewuh, pencampuran profesionalisme dengan emosi, serta tumpang tindihnya kepentingan publik dan pribadi.

1. Labirin Norma Sosial: Relasi di Atas Aturan: Dalam kehidupan sehari-hari, wilayah abu-abu ini mewujud dalam beberapa konsep: Pekewuh & Sungkan: Kita sering sulit berkata "tidak". Batas antara keikhlasan dan keterpaksaan menjadi kabur demi menjaga perasaan orang lain. Sinkretisme Tradisi & Agama: Ritual seperti ruwatan atau sesajen sering berada di titik tengah. Secara dogma agama mungkin diperdebatkan, namun secara kultural dianggap sebagai bentuk penghormatan pada leluhur.. Etika Hutang Budi: Dalam budaya kita, bantuan bukan sekadar transaksi. Membantu kerabat mendapatkan posisi (jalur orang dalam) secara profesional mungkin salah, namun secara tradisional, menolaknya dianggap "tidak tahu budi.". Keadilan Restoratif (Kekeluargaan): Kedamaian warga sering kali lebih diutamakan daripada hukuman penjara. Kasus kecil diselesaikan lewat musyawarah, mengesampingkan hukum formal negara demi harmoni desa.

2. Estetika dan Ritual: Ruang Antara yang Nyata dan Gaib. Seni pertunjukan kita pun mencerminkan ambivalensi ini: Trans (Trance) & Seni: Dalam Kuda Lumping atau Tari Sanghyang, batas antara akting dan supranatural menjadi tipis. Kita berada di antara rasa takut dan kagum. Dualisme Gender: Tari Lengger atau Bissu menunjukkan bahwa gender tidak selalu hitam-putih (pria-wanita), melainkan simbol keseimbangan alam semesta. Kompromi Sakral & Profan: Upacara adat yang kini dipanggungkan untuk turis menunjukkan pergulatan antara menjaga kesucian ritual dan tuntutan ekonomi pariwisata.

3. Kritik Global: Hitam-Putih yang Mematikan. Menariknya, terjadi perdebatan antar pakar. Sebagian menganggap karakter "abu-abu" ini adalah kelemahan yang harus diluruskan. Namun, para etnograf justru membela: cara pandang Barat yang terlalu "hitam-putih" (warisan tradisi tertentu yang kaku) sering kali memicu konflik, dehumanisasi, dan kesepian sosial. Asia, dengan ruang interpretasi yang longgar, menawarkan alternatif kehidupan yang lebih manusiawi.

Risiko Fundamentalisme

Prof. Budi Hardiman memperingatkan bahaya jika bangsa Indonesia dipaksa mengadopsi konsep hitam-putih secara ekstrem. Dengan basis massa beragama yang besar, cara pandang hitam-putih berisiko melahirkan fundamentalisme religius. Prinsip "Kami benar, kalian salah" yang disebarkan masif lewat media sosial dapat mengikis budaya asli kita yang luwes.

Budaya abu-abu Indonesia bukanlah ketidakkonsistenan, melainkan keluwesan untuk menjaga agar tradisi tetap relevan dan harmoni tetap terjaga di tengah perubahan zaman. Sejarah telah membuktikan bahwa berkat karakter yang "tidak kaku" ini, Indonesia tidak pernah melahirkan fasisme ekstrem. Pada akhirnya, kebenaran di tanah ini bersifat relatif terhadap situasi dan, yang terpenting, terhadap hubungan antarmanusia.

Menemukan "Rasa" di Balik Layar Hitam-Putih Dan Menjelajahi Kearifan Abu-Abu dalam Budaya Kita

Indonesia bukan sekadar gugusan pulau; ia adalah ruang kompleks yang ditenun dari jutaan warna. Namun, belakangan ini, ada kecenderungan kita terjebak dalam pola pikir hitam-putih (all-or-nothing thinking). Padahal, hidup di Nusantara menuntut kelenturan. Ketika kita memaksakan segalanya menjadi "benar atau salah," kita kehilangan sesuatu yang berharga: kebijaksanaan.

Jebakan Hitam-Putih dalam Kehidupan Sosial

Saat kita hanya melihat dua sisi, dunia menjadi sempit. Mentalitas "kami vs mereka" tumbuh subur, menghancurkan ruang musyawarah yang menjadi akar budaya kita. Akibatnya, penghakiman moral menjadi kaku.

Bayangkan seseorang yang absen dalam upacara adat karena kesulitan ekonomi, namun langsung dicap "lupa daratan." Di sini, hitam-putih mematikan empati dan kreativitas. Tradisi yang seharusnya adaptif justru menjadi beban psikologis, menciptakan rasa takut salah yang menghambat inovasi budaya. Padahal, kekuatan bangsa ini justru terletak pada kemampuannya mengelola kontradiksi—menjadi modern tanpa kehilangan akar mistisnya. Dalam tradisi spiritual kita, ada dialog abadi antara yang "Hitam-Putih" (Formalitas) dan yang "Abu-Abu" (Esoteris):

Perspektif Hitam-Putih (Syariat/Hukum): Berfokus pada kepatuhan mutlak, halal-haram, dan surga-neraka. Ia penting sebagai fondasi disiplin dan kepastian. Namun, jika berdiri sendiri, ia cenderung kaku dan mudah menghakimi konteks yang berbeda.

Perspektif Abu-Abu (Hakikat/Rasa): Inilah wilayah Ngèlmu Kasunyatan atau Tasawuf. Fokusnya adalah kedalaman rasa dan konteks. Di sini, seorang pemimpin bijak mampu merangkul tradisi lama, memberikan warna baru tanpa menghancurkan strukturnya—seperti lakon pewayangan yang seringkali melanggar aturan baku demi tujuan luhur (Dharma).

Ringkasnya hitam-putih memberi kita kompas moral, namun area abu-abu memberi kita kemanusiaan. Tanpa hitam-putih kita kehilangan arah; tanpa abu-abu kita kehilangan hati.

Moderasi dalam Beragama: Islam Wasathiyah

Dalam napas Islam di Indonesia, dinamika ini terekam jelas dalam hubungan antara Fikih dan Tasawuf.

Fikih menyediakan pagar "hitam-putih" yang jelas (seperti kewajiban shalat dan larangan mencuri) agar identitas muslim tetap terjaga. Namun, di antara keduanya, Rasulullah mengingatkan adanya wilayah Syubhat—wilayah remang-remang yang menuntut kita untuk bersikap Wara’ (berhati-hati), bukan menghakimi.

Wali Songo adalah teladan nyata dalam mengelola area abu-abu ini. Mereka tidak menghancurkan tradisi lokal, melainkan mengisinya dengan nilai baru. Inilah esensi Islam Wasathiyah (Moderat): memegang prinsip secara hitam-putih untuk disiplin pribadi, namun bersikap "abu-abu" (toleran dan maklum) terhadap orang lain.

Fenomena "Konservatisme Baru" saat ini memang cenderung menarik kita ke arah hitam-putih yang kaku. Namun, sejarah membuktikan bahwa Indonesia bertahan karena kemampuannya merangkul perbedaan. Menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya berarti berani berdiri di area abu-abu: tetap memiliki prinsip yang kokoh di dalam dada, namun memiliki kelenturan hati untuk merangkul setiap kelemahan dan keragaman manusiawi di sekitar kita.

Pudarnya Warna di Tengah Kita: Mengapa Dunia Menjadi Hitam-Putih?

Belakangan ini, kita seolah kehilangan kemampuan untuk melihat spektrum warna. Dunia yang dulunya penuh dengan nuansa "abu-abu"—ruang di mana kebijaksanaan, empati, dan tradisi bertemu—perlahan bergeser menjadi polaritas yang tajam: Hitam atau Putih. Benar atau Salah. Halal atau Haram.

Fenomena ini bukanlah tanpa alasan. Secara psikologis, manusia yang hidup di tengah ketidakpastian global cenderung mencari pegangan yang kokoh. Di sinilah narasi hitam-putih masuk menawarkan kepastian instan. Didukung oleh algoritma media sosial yang rakus akan konten bombastis, penjelasan yang bersifat filosofis dan mendalam sering kali tenggelam oleh fatwa singkat yang memberikan rasa aman semu bagi pengikutnya. Ditambah lagi, pendidikan yang terlalu formalistik membuat kita terbiasa melihat nilai bukan sebagai esensi spiritual, melainkan sekadar daftar "ceklist" aturan.

Menariknya, pergeseran ini juga lahir dari sebuah "kelelahan sosial". Masyarakat mulai jenuh dengan sikap kompromis para tokoh yang sering kali dianggap sebagai bentuk "plin-plan" atau bahkan kemunafikan. Ketika sosok yang dianggap berada di "jalan tengah" justru terjebak skandal, masyarakat merasa dikhianati. Akibatnya, mereka berpaling pada aturan yang kaku dan tekstual karena dianggap lebih sulit dimanipulasi. Narasi yang keras dan mutlak terlihat lebih heroik dibandingkan diplomasi yang penuh "main belakang".

Budaya Tradisional: Sang Korban Utama

Dampak paling nyata dari hilangnya warna ini terasa pada jantung budaya kita. Budaya tradisional Indonesia sejatinya adalah ruang abu-abu yang indah; ia penuh dengan simbolisme, metafora, dan sinkretisme yang inklusif.

Namun, ketika kacamata hitam-putih digunakan untuk membedah tradisi:

Simbolisme Mati: Tarian dan upacara adat yang sarat makna spiritual dianggap sebagai ancaman (bid’ah atau syirik) karena hanya dimaknai secara literal, bukan filosofis.

Ketegangan Akar Rumput: Terjadi benturan antara generasi tua yang menjaga harmoni tradisi dengan generasi muda yang memuja pemurnian kaku.

Kematian Empati: Nilai luhur seperti tepa selira (tenggang rasa) mulai terkikis, digantikan oleh penghakiman publik dan munculnya "polisi moral" di ruang digital.

Menjaga "Ruang Tengah" Jika pola ini terus menguat, kekayaan budaya kita berisiko hanya menjadi pajangan museum—mati secara spiritual meski fisiknya masih ada. Dunia yang terlalu hitam-putih mungkin menawarkan ketegasan, namun ia kehilangan kedalaman rasa.

Tantangan kita hari ini adalah berani kembali menghuni "ruang tengah". Menyadari bahwa dalam hidup, tidak semua hal harus memiliki jawaban instan. Terkadang, kebenaran justru ditemukan di sela-sela perbedaan, dalam ruang abu-abu yang menuntut kita untuk tetap saling merangkul meski tak selalu setuju.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image