Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adliyatul Hikmah

Game Online: Inspirasi Kekerasan dan Alarm Kerusakan Generasi

Agama | 2026-02-21 19:32:23

Oleh : adli

Gelombang kekerasan yang melibatkan anak dan remaja hari ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan alarm keras atas rusaknya arah pendidikan, pergaulan, dan ruang digital yang dibiarkan tanpa nilai. Salah satu pemicu yang kian nyata adalah game online sarat kekerasan yang dikonsumsi anak-anak secara bebas dan masif.Pada kasus yang diberitakan oleh CNN Indonesia pada 26 Desember 2025. Dimana Pihak Kepolisian telah menetapkan seorang tersangka dalam kasus dugaan teror bom terhadap sepuluh sekolah di Kota Depok, Jawa Barat.

Tersangka berinisial HRR berusia 23 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa. Ia dijerat dengan UU ITE dan KUHPBerbagai kasus membuktikan bahwa game online bukan sekadar hiburan. Bullying, bunuh diri (bundir), teror bom di sekolah, hingga pembunuhan, menunjukkan pola yang sama: kekerasan virtual menjelma menjadi kekerasan nyata. Anak yang membunuh ibunya di Medan dan teror bom terhadap sekolah di Depok hanyalah puncak gunung es dari kerusakan yang sedang berlangsung. Ketika kekerasan dinormalisasi lewat game, maka nurani anak perlahan mati.

Game online dengan konten brutal kini sangat mudah diakses. Anak-anak yang masih labil secara emosi dijejali adegan pembunuhan, ledakan, dan kebrutalan tanpa rasa bersalah. Dampaknya bukan hanya pada perilaku agresif, tetapi juga pada kesehatan mental, empati sosial, dan cara pandang terhadap nyawa manusia. Inilah kejahatan yang dilakukan secara sistematis, namun sering dianggap remeh.

Umat Islam harus sadar bahwa platform digital tidak pernah netral. Di balik visual menarik dan alur permainan yang seru, terselip nilai-nilai perusak akidah, moral, dan kemanusiaan. Ruang digital hari ini dikuasai kapitalisme global yang menjadikan manusia sekadar objek keuntungan. Selama cuan mengalir, kerusakan generasi dan hilangnya nyawa dianggap harga yang pantas dibayar.Lebih menyedihkan, negara justru gagal menjalankan fungsi perlindungan. Regulasi lemah, pengawasan longgar, dan edukasi setengah hati membuat anak-anak dibiarkan berhadapan langsung dengan konten berbahaya.

Negara seakan tunduk pada kepentingan industri, bukan berpihak pada keselamatan generasi.Islam dengan tegas mewajibkan negara menjadi pelindung rakyat, khususnya generasi muda. Negara wajib menutup segala celah yang mengantarkan pada kerusakan (sadd az-zari’ah). Hegemoni digital kapitalisme global harus dilawan dengan kedaulatan digital yang berlandaskan akidah dan kemaslahatan umat, bukan logika untung-rugi.

Kerusakan generasi tidak akan berhenti hanya dengan imbauan moral. Ia hanya bisa ditangkal dengan penerapan tiga pilar penjaga kehidupan: ketakwaan individu, kontrol masyarakat yang amar makruf nahi mungkar, serta perlindungan negara yang tegas. Ketiga pilar ini hanya efektif jika diterapkan secara menyeluruh dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya Islam.

Jika game online dibiarkan menjadi guru bagi anak-anak kita, maka jangan heran jika kekerasan terus berulang. Saatnya umat sadar, bersuara, dan menuntut sistem yang benar-benar menjaga kehidupan dan masa depan generasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image