Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image A Irkham Nasirin

Nafsu dalam Hubungan, Salahkah?

Gaya Hidup | 2026-02-16 22:32:33

1. Cinta dan Nafsu Dalam Hubungan

Dalam romantisme hubungan, banyak orang beranggapan bahwa cinta merupakan aspek suci yang tidak boleh dikotori, salah satunya dengan nafsu. Ini membuat adanya tuntutan bahwa cinta itu harus murni, dan diisi ketulusan semata. Tapi, haruskah begitu?

Faktanya, nafsu, gairah, atau hasrat adalah salah satu dari komponen cinta itu sendiri. Ya, nafsu, gairah, dan hasrat merupakan kata yang berbeda dengan makna sama, namun entah kenapa hanya nafsu yang selalu merujuk pada konotasi yang kotor/vulgar, sedangkan hasrat dan gairah tidak.

Robert Sternberg, seorang psikolog asal Amerika mengeluarkan teori bernama Teori Segitiga Cinta (Triangular Theory of Love), yang digunakan untuk mengukur tingkat kedalaman cinta melalui simpul-simpulnya.

Teori Segitiga Cinta (Triangular Theory of Love) milik Robert Sternberg

Terlihat jelas, bahwa nafsu (passion) merupakan komponen cinta selain keintiman (intimacy) dan komitmen (commitment). Nafsu mengacu pada dorongan yang mengarah pada romansa, daya tarik fisik, pemenuhan seksual (sexual consummation), dan fenomena terkait dalam hubungan cinta.

Dalam beberapa fenomena, nafsu inilah yang cenderung mendominasi hubungan dan membuat seseorang memiliki rasa rindu untuk terus bertemu dan bersama. Sayangnya, nafsu seringkali dimaknai sebagai sesuatu yang vulgar dan berbau seks. Padahal ada banyak hal yang memicu munculnya nafsu, seperti tindakan romantis, pemenuhan harga diri, pertolongan, kepatuhan, aktualisasi diri, dan lain sebagainya.

Beberapa tindakan romantis seperti berpegangan tangan atau berpelukan, tindakan yang seolah menjaga dan menjunjung harga diri kita, menolong ketika kita dalam kesulitan, mematuhi saran kita, dan memberikan keleluasaan untuk kita berekspresi seringkali membuat kita nafsu atau berhasrat untuk selalu bertemu dengannya.

Lalu? Apa yang salah dari nafsu dalam sebuah hubungan?

2. Kenapa berhasrat dengan pasangan?

Berbeda dengan cinta yang selalu mengacu pada kebutuhan emosional, seperti perhatian, tanggung jawab, penghormatan, dan lain sebagainya, nafsu cenderung mengacu pada kebutuhan fisik.

Eits, kita perlu garisbawahi terlebih dulu bahwa kebutuhan fisik tidak selalu berarti hubungan seks, seperti yang sudah kita bahas di atas.

Tentu, ada banyak hal yang membuat kita nafsu dengan pasangan kita, baik dari aspek fisiknya, ataupun karakternya.

Contoh paling singkat adalah laki-laki yang lebih bergairah pada perempuan yang:

· Cantik;

· Seksi;

· Berkulit putih; atau

· Beretnis tertentu.

Alasannya variatif,

· Bisa karena fantasi seksual;

· Kepuasan mata saat melihat;

· Kepuasan saat memeluk dan berjalan dengannya; dan masih banyak lagi.

Atau perempuan yang menyukai laki-laki yang:

· Berpostur sixpack;

· Tegap;

· Tinggi;

· Tampan;

· Berotot; dan lain sebagainya.

Alasanya juga variatif,

· Bisa karena memang fantasi seksual;

· Anggapan bahwa pria kekar akan lebih mampu untuk melindungan;

· Kepuasan saat menggenggam tangan yang berotot;

· Kepuasan saat jalan bersama;

· Kepuasan saat berolahraga bersama; dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya, setiap orang memang tercipta dengan nafsu, hanya saja pemicunya seringkali berbeda satu sama lain. Ini merupakan fitrah/normalnya manusia, sehingga naif jika menginginkan hubungan tanpa andil nafsu di dalamnya.

Fakta medis juga membuktikan bahwa laki-laki dan perempuan bahkan yang gila sekalipun memiliki keterkaitan pada bentuk fisik tertentu. Hormon (testosteron, estrogen, dopamin, oksitosin, dan vasopresin) yang ada pada manusia menuntut untuk adanya gairah dalam diri mereka, khususnya pada masa remaja dan dewasa, di mana hormon tersebut cenderung lebih masif diproduksi.

Seorang Psikolog, Ririn Nur Abdiah Bahar, S.Psi., M.Psi., dalam Hello Sehat mengemukakan bahwa nafsu pada pasangan adalah hal yang wajar. Secara psikologis, peningkatan gairah bisa dipicu karena kondisi tertentu, seperti perubahan hormon di otak, imajinasi yang liar, dan sebagainya.

Jadi, adanya nafsu dalam sebuah hubungan adalah sebuah kenormalan. Lalu, apa yang sebenarnya bermasalah?

3. Nafsu: Normalitas tanpa kendali adalah kenaifan (sekilas, tapi bawa buat backlink ke blogspot)

Sekalipun nafsu merupakan hal yang normal pada hubungan lawan jenis, bukan berarti seseorang boleh secara liar mengekspresikan nafsunya tersebut. Dalam budaya Indonesia, ada banyak sekali batasan dalam hubungan, yang tentunya akan berbeda di setiap wilayah. Beberapa tindakan seperti berpegangan tangan, pelukan, ciuman, dan lain sebagainya mungkin saja diperbolehkan dan dianggap normal di wilayah dan lingkungan tertentu, tapi hal tersebut bisa saja dilarang keras di wilayah dan lingkungan tertentu, seperti dalam lingkungan yang kental secara religious. Tentu saja, agama cenderung melarang hal-hal diluar batas yang sudah ditetapkan, khususnya Islam yang memiliki batasan ketat dalam berhubungan dengan lawan jenis.

Artinya, kontrol atas nafsu merupakan hal permanen yang harus dimiliki setiap individu. Karena sebenarnya yang bermasalah bukanlah eksistensi nafsu dalam hubungan, melainkan bagaimana seseorang melampiaskan hasrat/nafsu yang dia miliki. Bahkan, nafsu yang liar pada diri seseorang terkadang mencerminkan sinyal negatif, karena artinya orang tersebut melandasi hubungannya hanya karena nafsu semata.

Seringkali kita beranggapan bahwa sesuatu itu salah, padahal sebenarnya adalah bukti kenormalan, dan yang sebenarnya bermasalah adalah hilangnya kontrol pada diri seseorang, sehingga menimbulkan banyak masalah.

Secara biologis, nafsu merupakan fitrah yang menjadi variasi kita sebagai manusia. Tapi, kontrol atas nafsu adalah tentang moralitas manusia. Dan fitrah nggak pernah bermasalah selama kita menjaganya dalam koridor moralitas

Sumber:

A. Octamaya Tenri Awaru. Sosiologi Keluarga. Bandung: Media Sains Indonesia, 2021.

Robert J. Sternberg dan Karin Weis. The New Psychology of Love. New York: Vail-Ballou Press, 2006.

Hellosehat: hawa nafsu dengan pasangan atau pacar

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image