Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Dwi Nurfaisal

Kawasan Modern Tangerang Raya Bertumbuh, Ketimpangan Pembangunan Daerah Sekitar Semakin Terasa

Kebijakan | 2026-02-16 15:09:42
Potret alat berat sedang membuka lahan untuk perluasan kawasan kota mandiri

Kondisi pembangunan di Tangerang Raya dalam dua dekade terakhir berubah sangat cepat. Kawasan seperti BSD City, Alam Sutera, Gading Serpong, Lippo Karawaci, hingga koridor Cikupa menjelma menjadi pusat hunian, bisnis, hingga pendidikan modern. Konsep kota mandiri ini menawarkan fasilitas lengkap seperti rumah sakit swasta, sekolah internasional, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga ruang terbuka hijau yang tertata rapi. Semua itu terlihat seperti simbol kemajuan dan kemapanan atas kebutuhan hidup masyarakat modern saat ini.

Namun pertanyaannya, apakah dibalik pertumbuhan kawasan mandiri tersebut otomatis akan membawa arah pembangunan yang berkelanjutan? Kemudian, apakah ketimpangan daerah di luar pagar kawasan modern tersebut akan terus terlihat nyata?

Mungkin iya, kawasan seperti BSD City dan Alam Sutera dirancang sebagai kota mandiri modern. Infrastruktur dibangun seolah terencana, drainase relatif lebih baik, akses tol mudah, dan fasilitas publik tertata estetik. Sementara itu, wilayah lain seperti sebagian area Cikupa, Pasar Kemis, Kronjo, hingga pesisir utara Kabupaten Tangerang masih menghadapi persoalan klasik seperti banjir musiman, jalan rusak, dan minimnya fungsional ruang publik.

Nyatanya ketimpangan ini bukan sekadar soal estetika kota, melainkan mencerminkan arah investasi dan prioritas kebijakan yang timpang. Investasi besar cenderung masuk ke kawasan yang sudah memiliki daya tarik ekonomi tinggi. Pengembang lebih memilih membangun hunian menengah atas dan komersial, karena pasar dan keuntungannya jelas. Pemerintah daerah pun sering memberi dukungan infrastruktur untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tersebut karena dampaknya langsung terlihat pada pendapatan daerah.

Masalah muncul ketika pembangunan menjadi terlalu terpusat pada enclave atau kantong-kantong kemewahan. Kawasan eksklusif itu tumbuh dengan sistem pengelolaan air, keamanan, dan lingkungan yang relatif tertata. Namun di luar pagar kawasan tersebut, masyarakat sekitar tidak selalu merasakan peningkatan kualitas infrastruktur yang sama.

Isu banjir menjadi contoh nyata. Tangerang Raya berada dalam sistem hidrologi yang terhubung dengan wilayah metropolitan Jakarta. Ketika lahan terbuka berubah menjadi beton dan aspal, kemampuan tanah menyerap air akan menjadi berkurang. Pembangunan skala besar di satu kawasan bisa berdampak pada limpasan air ke wilayah lain yang sistem drainasenya tidak sekuat kawasan kota mandiri. Akibatnya, banjir justru lebih sering terjadi di permukiman padat yang infrastrukturnya terbatas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak bisa dinilai hanya dari satu kawasan yang tampak tertata. Kota yang berkelanjutan harus dipahami sebagai satu sistem utuh. Jika satu bagian menikmati infrastruktur premium sementara bagian lain menanggung beban lingkungan, maka yang terjadi adalah ketimpangan ekologis.

Selain banjir, alih fungsi lahan juga menjadi persoalan serius. Perubahan sawah dan lahan terbuka menjadi kawasan perumahan dan industri mempersempit ruang resapan air serta mengurangi cadangan pangan lokal. Dalam jangka panjang, dampaknya bukan hanya lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat sekitar kawasan tersebut akan semakin tergerus, dengan kenaikan kemahalan wilayah dan gaya hidup.

Di sisi lain, kawasan modern tersebut memiliki kemampuan membangun sistem internal yang lebih baik, misalnya danau buatan, pengelolaan sampah modern, atau ruang hijau privat. Namun sistem tersebut sering kali bersifat tertutup dan tidak terintegrasi dengan wilayah sekitarnya. Inilah yang membuat kesenjangan semakin terasa, ada ruang yang aman dan nyaman di dalam, dan ada ruang nasib yang berjuang di luar.

Padahal, konsep pembangunan berkelanjutan sejak awal menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan perlindungan lingkungan. Jika hanya satu kawasan yang nyaman, sementara wilayah lain menanggung risiko banjir, kemacetan, dan polusi, maka keberlanjutan itu belum menyeluruh.

Tangerang Raya memiliki mobilitas komuter yang tinggi, pembangunan jalan tol yang masif, dan ekspansi kawasan industri membuat tekanan terhadap lingkungan semakin besar. Tanpa koordinasi lintas wilayah, banjir dan kemacetan akan menjadi masalah bersama yang sulit diselesaikan secara parsial.

Ke depan, arah pembangunan perlu lebih berimbang. Investasi tidak boleh hanya menguatkan kawasan yang sudah maju. Pemerintah daerah harus memastikan distribusi infrastruktur yang adil, memperkuat pengendalian tata ruang, dan menjaga ruang terbuka hijau yang tersisa. Penanganan banjir harus berbasis sistem wilayah, bukan hanya proyek per kawasan.

Keberlanjutan yang sejati berarti seluruh wilayah bergerak bersama. BSD City, Alam Sutera, Cikupa, dan kawasan lain memang penting sebagai motor ekonomi. Tetapi motor tersebut harus menarik seluruh gerbong, bukan melaju sendiri meninggalkan wilayah lain di belakang. Jika tidak, Tangerang Raya akan terus tumbuh secara fisik, tetapi rapuh secara sosial dan ekologis.

Pembangunan yang adil bukan berarti menolak investasi. Justru investasi perlu diarahkan agar memberi manfaat luas, bukan hanya keuntungan jangka pendek. Di situlah tantangan besar Tangerang Raya, yaitu memastikan bahwa kemajuan hari ini tidak menjadi beban lingkungan dan ketimpangan bagi generasi yang akan datang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image