Bukan Cuma Timah, Bangka Belitung Harus Mulai 'Ekspor' SDM Berkualitas Global
Info Terkini | 2026-02-14 11:20:47
Di tengah besarnya peluang arus tenaga kerja lintas daerah, masih banyak tenaga kerja Bangka Belitung yang kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi mereka. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang besar mengenai bagaimana kesiapan SDM lokal Bangka Belitung untuk siap bersaing di dunia kerja yang kian terbuka secara global?
Mobilitas dalam dunia kerja menjadi keniscayaan pada perkembangan kerja saat ini. Mencari pekerjaan tidak hanya terbatas pada lingkungan sekitar saja, tenaga kerja dituntut untuk siap beradaptasi dengan perubahan struktur kebutuhan tenaga kerja ekonomi baik secara nasional maupun internasional. Tantangan yang di hadapi daerah Bangka Belitung ini sudah tidak bisa lagi diabaikan, sebab dari data yang ada menunjukkan bahwa tantangan ketenagakerjaan masih dominan meskipun beberapa indikator lain menunjukkan pergerakan yang positif.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan November 2025, yakni 4,30 persen yang diartikan relatif moderat. Angka ini sedikit mengalami penurunan pada periode sebelumnya dan menunjukkan kemajuan jika dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir, seperti yang tercatat pada 4,56 persen di bulan Agustus 2023. Meskipun ada penurunan angka pengangguran ini, hal tersebut tidak berarti bahwa masalah ketenagakerjaan telah sepenuhnya teratasi. Angka TPT masih menyisakan banyak warga yang belum mendapatkan pekerjaan dalam aktivitas yang produktif.
Tantangan utama yang dihadapi sumber daya manusia di Bangka Belitung berasal dari aspek kualitas tenaga kerja. Data dari BPS juga menunjukkan bahwa mayoritas pekerjaan masih terpusat pada sektor informal dan tradisional seperti pertanian, perdagangan, dan jasa yang bersifat fleksibel tetapi sering kali tidak menawarkan keterampilan dan manfaat jangka panjang bagi para pekerja. Kecenderungan yang kuat bagi angkatan kerja untuk terlibat di sektor informal seringkali menghambat kesempatan untuk mengembangkan keterampilan profesional yang sesuai dengan kebutuhan pasar global.
Selain itu, data statistik ketenagakerjaan mengungkapkan bahwa susunan tenaga kerja kita belum seimbang antara tuntutan industri modern dan kapabilitas sumber daya manusia lokal. Penguasaan sektor-sektor yang konvensional menunjukkan adanya potensi kendala dalam mengakses kesempatan kerja formal yang membutuhkan keahlian teknis dan sertifikasi kompetensi tertentu. Perpindahan tenaga kerja termasuk berpindah di dalam sektor, area, bahkan negara bukan hanya sekadar berpindah tempat kerja, melainkan juga mengenai kapasitas untuk mengisi posisi yang relevan dengan kebutuhan bisnis yang berkembang dengan pesat.
Pada kondisi saat ini, isu yang perlu diperhatikan bukan hanya angka TPT yang terlihat tetap, tetapi juga bagaimana sumber daya manusia Bangka Belitung dipersiapkan untuk menantang persaingan yang lebih besar, termasuk yang berada di luar batas wilayah provinsi. Mobilitas kerja yang efektif adalah mobilitas yang dilengkapi dengan kemampuan beradaptasi, penguasaan keterampilan modern, serta kompetensi yang diakui secara profesional.
Pemerintah daerah memegang posisi penting dalam isu ini. Pengembangan Balai Latihan Kerja (BLK) serta peningkatan kualitas pelatihan yang relevan, seperti keterampilan digital, bahasa asing, dan sertifikasi profesional, perlu dijadikan fokus utama. Kerjasama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan institusi pelatihan vokasi harus diperkuat agar tidak hanya mendapatkan tenaga kerja yang terampil, tetapi juga tenaga kerja yang siap bersaing di tingkat global.
Dunia usaha juga tidak bisa dianggap sebagai pihak yang tidak berperan. Perusahaan yang beroperasi di Provinsi Bangka Belitung harus menjadikan program alih keterampilan (skill transfer) sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka. Khususnya bagi perusahaan yang merekrut tenaga kerja asing atau ekspatriat dalam operasional mereka, harus secara aktif mendorong pembelajaran langsung untuk tenaga kerja lokal agar kemampuan dan pengalaman kerja dapat terakumulasi dengan efektif.
Tidak kalah penting adalah kontribusi sektor pendidikan formal. Kurikulum vokasi di tingkat sekolah dan universitas perlu disesuaikan dengan tuntutan industri saat ini. Fokusnya tidak hanya pada teori, tetapi juga pada pengalaman praktik langsung, sertifikasi keterampilan, dan pengembangan soft skills yang relevan di pasar global. Hal ini akan memperluas kesempatan kerja bagi para lulusan baru dan mempersiapkan mereka untuk berpindah kerja antar sektor.
Situasi ketenagakerjaan di Bangka Belitung menunjukkan angka pengangguran yang bersaing dengan tingkat nasional dan seharusnya menjadi momentum untuk dilakukan evaluasi dan perbaikan bersama. Mobilitas kerja bukan hanya sekadar jargon, tetapi seharusnya menjadi strategi pengembangan sumber daya manusia yang nyata, terencana, dan berkelanjutan. Jika pendekatan ini dapat diterapkan dengan baik, tenaga kerja Bangka Belitung tidak hanya akan mampu bersaing di skala global, tetapi juga akan menjadi aset produktif yang dihargai di berbagai tempat kerja internasional.
Perubahan di dunia kerja membawa tantangan sekaligus kesempatan. Sudah saatnya para pemangku kepentingan di Bangka Belitung berkolaborasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia tidak hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk bersaing secara global dengan keterampilan yang mumpuni dan mobilitas yang berarti.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
