Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mohamad Nur Ma'arif

Tenaga Kerja Melimpah, Kenapa Indonesia Tidak Dilirik Investor Asing?

Bisnis | 2026-01-04 06:55:55

Tenaga kerja melimpah dan dihargai sangat murah itu sering dianggap kartu truf. Padahal ini salah kaprah besar dalam memahami Foreign Direct Investment. Murah bukan berarti otomatis laku. Ini logika pasar paling dasar tapi sering dilompati karena terlalu fokus ke kata “murah”.

Coba bayangkan kamu mau beli handphone. Ada satu HP harganya super murah, miring sampai bikin curiga. Apakah refleks kamu langsung mikir “wah beli ah”? Enggak. Yang muncul malah: ini HP kenapa murah banget, jangan-jangan kameranya burem, batere bocor, atau tiap ditelepon malah restart sendiri. Murah justru bikin mikir dua kali. Hal yang sama terjadi di kepala investor.

Investor asing itu tahu kok Indonesia penduduknya banyak. Mereka juga tahu Indonesia itu peringkat ke-4 populasi dunia, terbesar di ASEAN. Itu bukan rahasia negara. Tapi mereka juga tahu satu hal lain: tenaga kerja banyak tidak sama dengan tenaga kerja siap pakai. Untuk industri bernilai tinggi—teknologi, manufaktur canggih, industri dengan value added tinggi—skill itu bukan bonus, tapi syarat utama. Dan di sini sering mulai nyenggol tembok.

Yang dicari investor bukan pekerja murah doang. Kalau cuma murah, Asia Selatan harusnya sudah penuh pabrik asing dari ujung ke ujung. Bangladesh, Pakistan, bahkan India punya tenaga kerja jauh lebih murah. Tapi kenyataannya FDI tidak otomatis mengalir deras ke sana. Kenapa? Karena produktivitas, keterampilan, kesiapan kerja, dan efisiensi itu sama pentingnya. Kalau investor harus keluar biaya besar untuk training dari nol, atau malah terpaksa impor tenaga kerja asing buat posisi kunci, itu langsung jadi minus di Excel mereka. Spreadsheet itu kejam, tidak peduli nasionalisme.

Lalu masuk ke bab favorit semua investor: birokrasi dan regulasi. Bayangkan saja kalau kamu jadi investor asing. Aturan sudah ribet, izin panjang seperti sinetron, satu pintu tapi pintunya banyak, dan tiap pintu punya versi cerita sendiri. Hari ini boleh, besok ditanya lagi, lusa disuruh balik karena ada “aturan baru”. Belum lagi sikap birokrasi yang kadang tidak kooperatif dan susah ditebak. Ini bikin modal ilfeel. Bahasa TikTok-nya: red flag. Investor itu alergi sama ketidakpastian, dan di sini ketidakpastian sering jadi kepastian.

Modal itu seperti kucing, dia maunya tempat yang tenang, stabil, dan bisa diprediksi. Singapura, Vietnam, negara-negara itu relatif “ketebak”. Aturannya jelas, prosesnya ringkas, dan kalau ada perubahan, ada arah yang konsisten. Uang suka tempat yang rasional. Bukan tempat yang tiap ganti pemerintahan, ganti aturan, ganti tafsir, ganti pejabat, ganti nasib.

Belum lagi soal kepastian hukum. Investor ingin tahu: kontrak dihormati atau tidak? Pajak stabil atau berubah mendadak? Hukum berlaku sama atau tergantung siapa yang datang? Persepsi korupsi juga main di sini. Kalau kamu merasa bisa “diperlakukan berbeda-beda” tergantung kondisi, koneksi, atau suasana politik, refleks alami manusia adalah nunggu, atau cari negara lain. Tidak ada yang mau taruh duit miliaran dolar di tempat yang hukumnya abu-abu dan transparansinya buram.

Dan jangan lupa, Indonesia ini bukan satu-satunya negara di ASEAN. Vietnam, Malaysia, Thailand berlomba-lomba bikin karpet merah buat investor. Insentif pajak lebih agresif, aturan ketenagakerjaan lebih fleksibel, dan lingkungan bisnis yang dianggap lebih ramah. Ditambah lagi ada ASEAN Free Trade Area. Artinya apa? Investor tidak harus bangun pabrik di Indonesia untuk jualan ke Indonesia. Mereka bisa produksi di Vietnam atau Thailand, lalu kirim barang ke Indonesia dengan tarif bea masuk sangat rendah atau nol. Secara logika bisnis, ini masuk akal sekali.

Akibatnya, tenaga kerja Indonesia yang “melimpah” itu sering lebih menarik dilihat sebagai pasar konsumen, bukan basis produksi. Populasi besar = pembeli potensial. Tapi untuk produksi, ekosistemnya dianggap ribet, penuh hambatan, dan selalu ada kejutan baru. Jadi buat apa pusing bangun pabrik di sini kalau bisa produksi di negara ASEAN lain, lalu ekspor ke Indonesia lewat FTA?

Akhirnya narasi “padahal tenaga kerja Indonesia melimpah dan murah” itu sering terdengar seperti curhat. Murah memang, banyak memang. Tapi di dunia investasi, itu baru pintu masuk. Setelah itu masih ada lorong panjang bernama skill, produktivitas, birokrasi, hukum, stabilitas, dan kepastian. Dan sayangnya, di lorong itu, investor sering merasa nyasar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image