Mengapa Masyarakat tak Lagi Percaya Informasi?
Humaniora | 2026-02-10 13:34:44
Kepercayaan publik terhadap informasi hari ini berada pada titik yang patut dikhawatirkan. Bukan karena masyarakat kekurangan informasi, melainkan karena informasi hadir secara berlebihan, serba cepat, dan sering saling bertentangan. Dalam kondisi seperti ini, publik tidak hanya mengalami kebingungan, tetapi juga kehilangan pegangan tentang satu hal yang paling mendasar: mana informasi yang layak dipercaya dan siapa yang patut dipercaya.
Fenomena ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi panjang dari perubahan ekosistem informasi. Peralihan dari media arus utama ke media digital, melemahnya budaya baca mendalam, serta hadirnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan pengetahuan. Informasi tak lagi melalui proses verifikasi yang ketat, melainkan berlomba menjadi yang tercepat dan paling viral.
Pada masa lalu, otoritas informasi relatif jelas. Media massa, akademisi, dan institusi publik berfungsi sebagai penyangga kepercayaan bersama. Kini, otoritas itu terfragmentasi. Setiap individu dapat menjadi produsen informasi tanpa keharusan mematuhi etika, metodologi, maupun tanggung jawab sosial. Media sosial mempercepat proses ini melalui algoritma yang bekerja bukan untuk memastikan kebenaran, melainkan untuk meningkatkan keterlibatan.
Akibatnya, informasi yang memicu emosi kemarahan, ketakutan, atau kebanggaan berlebihan lebih mudah menyebar dibandingkan informasi yang faktual namun kompleks. Dalam situasi seperti ini, masyarakat perlahan belajar bahwa yang ramai sering kali dianggap lebih benar daripada yang akurat.
Kehadiran AI memperdalam persoalan tersebut. Teknologi ini menawarkan jawaban yang cepat, rapi, dan meyakinkan, seolah menghadirkan kepastian. Namun, di balik kemudahan itu tersembunyi ilusi kebenaran. AI bekerja berdasarkan pola data, bukan pemahaman nilai, konteks sosial, maupun kearifan lokal. Tanpa literasi kritis, masyarakat dengan mudah memindahkan otoritas berpikir dari manusia ke mesin.
Masalah utamanya bukan pada teknologi, melainkan pada lemahnya literasi kritis. Literasi digital kerap direduksi menjadi kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi. Padahal, hakikat literasi adalah kemampuan menilai, membandingkan, dan mempertanyakan informasi. Ketika literasi kritis tidak dibangun secara sistematis baik melalui pendidikan formal maupun ruang publik masyarakat menjadi rentan terhadap manipulasi.
Dampaknya nyata. Polarisasi sosial meningkat, dialog publik melemah, dan berbagai kebijakan kerap ditolak bukan karena substansinya, melainkan karena sumber informasinya diragukan. Bahkan fakta ilmiah pun mudah diperdebatkan ketika kepercayaan telah tergerus. Jika kondisi ini dibiarkan, masyarakat berisiko tumbuh menjadi publik yang sinis terhadap pengetahuan dan mudah digerakkan oleh narasi emosional.
Membangun kembali kepercayaan publik membutuhkan ikhtiar kolektif. Negara perlu memperkuat kebijakan literasi publik yang menekankan kemampuan berpikir kritis. Media harus konsisten menjaga integritas jurnalistik. Institusi pendidikan perlu menempatkan proses berpikir sebagai tujuan utama, bukan sekadar pencapaian nilai.
Pada akhirnya, pertanyaan mengapa masyarakat tak lagi percaya informasi membawa kita pada refleksi yang lebih dalam: apakah kita masih memberi ruang bagi proses berpikir, atau justru menyerahkannya sepenuhnya pada kecepatan dan algoritma? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan masa depan kualitas pengetahuan dan peradaban kita bersama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
