Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wahyu Andriansyah

Takdir dan Ikhtiar: Menemukan Keseimbangan yang Sering Disalahpahami

Agama | 2026-02-10 10:07:52

Pembahasan tentang takdir dalam Islam sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada yang menjadikannya alasan untuk pasrah tanpa usaha — seolah semua sudah tertulis sehingga ikhtiar menjadi tidak relevan. Di sisi lain, sebagian orang terlalu menekankan usaha manusia hingga tanpa sadar menyingkirkan peran kehendak Allah. Kedua cara pandang ini tampak bertolak belakang, tetapi sama-sama berangkat dari pemahaman yang tidak utuh.

Islam justru menawarkan jalan tengah yang matang dan realistis: meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dalam ketetapan Allah, sekaligus menegaskan bahwa manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya. Takdir bukan dalih untuk berhenti bergerak, dan usaha bukan bentuk perlawanan terhadap ketentuan Ilahi. Rasulullah ﷺ menegaskan, “Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditakdirkan baginya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini bukan sekadar dorongan moral, melainkan kerangka berpikir: usaha manusia adalah bagian dari skenario takdir itu sendiri.

Untuk memudahkan pemahaman, konsep takdir dapat dianalogikan dengan sebuah proyek pembangunan. Seorang insinyur tidak mungkin membangun tanpa ilmu, perencanaan, dan keputusan eksekusi. Ia memahami kondisi, menyusun rancangan, lalu menentukan waktu pelaksanaan. Analogi ini membantu menggambarkan tahapan takdir — tentu dengan kesadaran penuh bahwa Allah Maha Sempurna dan tidak membutuhkan proses sama sekali sebagaimana manusia, dan tidak ada satu pun yang MenyerupaiNya.

Dalam khazanah akidah Islam, para ulama menjelaskan empat tahapan takdir. Pertama adalah ilmu Allah (al-‘ilm): pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu — masa lalu, masa kini, masa depan, bahkan kemungkinan yang tidak terjadi. Kedua adalah penulisan (al-kitabah), yaitu seluruh ketetapan yang tercatat di Lauhul Mahfuzh. Ketiga adalah kehendak Allah (al-masyi’ah): tidak ada sesuatu pun terjadi di luar kehendak-Nya. Keempat adalah penciptaan (al-khalq): Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk kemampuan manusia untuk bertindak.

Di titik inilah sering muncul kegelisahan modern: jika semuanya telah ditetapkan, di mana ruang kebebasan manusia? Islam menjawab dengan elegan — manusia benar-benar memilih dan berusaha, tetapi dalam ruang yang diciptakan Allah. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan absolut, melainkan kebebasan yang bermakna dan bertanggung jawab. Justru di sinilah letak nilai ujian kehidupan.

Dalam konteks sosial, pertanyaan klasik terus berulang: apakah kaya dan miskin sekadar takdir atau hasil pilihan manusia? Islam memandang keduanya sebagai bagian dari ketetapan Allah yang dirahasiakan. Kerahasiaan ini bukan untuk melemahkan usaha, melainkan untuk menguji sikap. Seseorang diuji apakah ia mencari rezeki dengan cara halal, bersyukur saat lapang, dan bersabar ketika sempit. Dengan demikian, ukuran keberhasilan dalam Islam tidak semata-mata hasil material, tetapi kualitas moral dan spiritual di baliknya.

Di era modern yang sarat tekanan, pemahaman keliru tentang takdir dapat melahirkan dua sikap berbahaya: fatalisme atau kesombongan. Fatalisme membuat seseorang menyerah sebelum berjuang, sementara kesombongan menumbuhkan ilusi bahwa keberhasilan sepenuhnya hasil kendali pribadi. Keduanya berpotensi merusak keseimbangan batin. Pemahaman takdir yang benar justru menghadirkan ketenangan psikologis: manusia terdorong untuk berusaha maksimal tanpa dihantui kecemasan berlebihan terhadap hasil.

Beriman kepada takdir melahirkan kedewasaan hidup. Keberhasilan tidak membuat seseorang lupa diri, dan kegagalan tidak menjerumuskannya pada keputusasaan. Seorang mukmin bekerja keras dengan kesadaran penuh bahwa hasil akhir berada di tangan Allah. Dari sinilah tumbuh tawakal yang aktif — bukan pasrah yang lemah, tetapi ketenangan yang lahir dari usaha optimal dan kepercayaan kepada kebijaksanaan Ilahi.

Pada akhirnya, takdir bukanlah konsep yang mematikan gerak manusia, melainkan fondasi spiritual yang menjaga keseimbangan antara harapan dan penerimaan. Dalam dunia yang serba kompetitif dan penuh ketidakpastian, pemahaman ini menjadi sumber kekuatan: manusia tetap bergerak maju, namun hatinya tetap bersandar. Inilah harmoni antara ikhtiar dan iman — keseimbangan yang bukan hanya teologis, tetapi juga sangat relevan bagi kehidupan modern.

Wahyu Andriansyah, Lc. Islamic Studies Teacher Thursina International Islamic Boarding School

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image