Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Patimah Anjelina - Dosen Faperta UNAND

Hujan Melimpah, Kota Tetap Kekurangan Air?

Ulas Dulu | 2026-02-09 16:29:16

Setiap musim hujan datang, kota-kota di Indonesia kembali menghadapi ironi yang sama. Banjir menggenangi permukiman, mengganggu aktivitas warga, dan merusak infrastruktur. Namun ketika kemarau tiba, persoalan berbalik arah: krisis air bersih muncul di berbagai tempat. Air hujan yang melimpah pada musim basah seakan tidak pernah menjadi bagian dari jawaban. Ia turun, lalu menghilang begitu saja ke saluran drainase., kota-kota di Indonesia kembali menghadapi ironi yang sama.

Ironi ini mencerminkan persoalan mendasar dalam pengelolaan air perkotaan. Selama ini, perhatian kita lebih tertuju pada bagaimana membuang air hujan secepat mungkin, bukan mengelolanya sebagai sumber daya. Padahal, perubahan iklim membuat pola hujan semakin tidak menentu. Hujan turun lebih deras dalam waktu singkat, sementara periode kering berlangsung lebih lama. Tanpa perubahan cara pandang, risiko banjir dan krisis air akan terus berjalan beriringan.

Di tengah situasi tersebut, pemanfaatan air hujan di tingkat rumah tangga menjadi langkah yang semakin relevan. Bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ketahanan air di perkotaan. Setiap tetes air hujan yang ditampung berarti mengurangi limpasan yang memicu banjir, sekaligus menekan ketergantungan pada air tanah dan jaringan perpipaan.

Selama ini, air hujan kerap dianggap kotor dan tidak layak digunakan. Anggapan ini tidak sepenuhnya tepat. Dengan sistem penampungan dan penyaringan yang sederhana, air hujan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan domestik non-konsumsi, seperti menyiram tanaman, mencuci kendaraan, membersihkan rumah, hingga keperluan sanitasi. Di sejumlah negara, praktik pemanenan air hujan bahkan telah menjadi bagian dari standar hunian ramah lingkungan, terutama di kawasan perkotaan.

Ironisnya, Indonesia, negara dengan curah hujan tinggi, masih sangat bergantung pada air tanah. Di banyak kota besar, eksploitasi air tanah yang berlangsung lama telah memicu penurunan muka tanah dan memperbesar risiko banjir rob, khususnya di wilayah pesisir. Ketergantungan ini, jika terus dibiarkan, bukan hanya mengancam ketersediaan air, tetapi juga keberlanjutan kota. Pemanfaatan air hujan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan tersebut.

Dari sisi teknis, memanen air hujan bukanlah hal rumit. Air yang jatuh di atap dialirkan melalui talang, disaring dari kotoran awal, lalu ditampung dalam tandon. Sistem ini dapat disesuaikan dengan skala rumah tangga dan kemampuan ekonomi masing-masing. Bahkan, penampungan sederhana yang dilakukan secara luas sudah dapat memberi dampak nyata.

Lebih dari sekadar urusan teknis, pemanfaatan air hujan juga menyentuh dimensi sosial. Praktik ini mendorong rumah tangga terlibat langsung dalam mengelola sumber daya alam. Kesadaran bahwa air memiliki batas menjadi lebih nyata ketika keluarga melihat sendiri bagaimana hujan dapat disimpan dan digunakan kembali. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi menumbuhkan perilaku hemat air yang lebih kuat dibandingkan sekadar imbauan.

Sayangnya, pemanenan air hujan masih sering dipandang sebagai pilihan tambahan, bukan kebutuhan. Padahal, di tengah tekanan perubahan iklim, pendekatan seperti ini justru perlu ditempatkan sebagai bagian dari arus utama. Pemerintah daerah dapat berperan melalui regulasi bangunan ramah air, insentif pemasangan tandon, serta kampanye publik yang berkelanjutan. Tanpa dukungan kebijakan, inisiatif rumah tangga akan berkembang secara sporadis.

Meski demikian, perubahan tidak harus menunggu kebijakan besar. Rumah tangga dapat memulainya dari langkah kecil, dari atap rumah sendiri. Jika dilakukan secara luas, dampaknya akan terasa pada skala kota: limpasan air berkurang, cadangan air meningkat, dan tekanan terhadap lingkungan menurun.

Hujan bukan sekadar peristiwa musiman yang harus “dibuang” secepat mungkin. Ia adalah sumber daya yang jika dikelola dengan bijak, mampu menjawab dua tantangan sekaligus: banjir dan krisis air. Dalam menghadapi perubahan iklim, sudah saatnya kota-kota kita belajar memanen hujan, dimulai dari rumah tangga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image