Keracunan MBG Berulang, Jaminan Pemenuhan Gizi Hilang
Agama | 2026-02-09 11:00:25
Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi jaminan pemenuhan gizi berubah menjadi ancaman keselamatan generasi. Bagaimana tidak menjadi ancaman jika kasus keracunan MBG terus berulang. Kasus di Kudus, menjadi kasus yang sangat memprihatinkan setelah janji perbaikan pelayanan MBG diucapkan. Bukannya menjamin keamanan makanan, para pejabat dan kroninya hanya fokus berlomba membangun SPPG demi mengejar proyek. Terbukti MBG hanya bagi-bagi proyek demi dana segar yang mudah dicairkan, keselamatan siswa tidak terlalu dipedulikan. MBG pada akhirnya akan menjadi proyek gagal yang tidak menyentuh akar persoalan tingginya angka stunting pada pelajar, malahan akan meninggalkan masalah baru karena anggaran pendidikan untuk MBG tak sedikit yang sudah dikucurkan. Sudahlah MBG gagal kualitas pendidikan dipertaruhkan.
Keracunan MBG juga bukti lemahnya keseriusan menjamin hak seluruh rakyat, meski kasus keracunan hanya terjadi di beberapa tempat bukan berarti boleh disepelekan, bagaimana pun juga semua penerima MBG adalah rakyat Indonesia, semuanya berhak mendapatkan jaminan gizi dan keselamatan.
MBG hanya sebatas pemenuhan janji saat kampanye saja, tidak menyentuh akar masalah penyebab stunting yaitu tidak meratanya kesejahteraan rakyat, tetap saja rakyat tidak berkesempatan mendapatkan akses lapangan kerja secara maksimal, memang dapur MBG diklaim sebagai sarana pembukaan lapangan kerja baru, namun realitasnya data serapnya terbatas.
Seharusnya negara fokus pada penyediaan lapangan kerja, pendistribusian barang yang merata, mengelola SDA yang hasilnya dikembalikan kepada kepentingan semua rakyat, membiayai pendidikan, kesehatan sehingga rakyat bisa mengaksesnya secara gratis, rakyat tidak perlu lagi pusing dengan tingginya biaya kesehatan dan pendidikan, rakyat bisa fokus bekerja salah satunya untuk memenuhi kebutuhan makanan dengan standar gizi terbaik.
Memang pendidikan dan kesehatan gratis akan sangat sulit terwujud dalam sistem kapitalis seperti yang diterapkan di negeri ini. Hubungan penguasa dan rakyat hanya sebatas hubungan transaksional. Jika tidak menguntungkan secara materi rakyat tidak mendapatkan pelayanan.
Oleh karena itu, kita butuh perubahan sistemik. Perubahan mendasar yang berasaskan ketaatan kepada hukum yang telah ditetapkan Allah SWT, menerapkan aturanNya dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya kesejahteraan di dunia, namun ditambah juga keselamatan di akhirat. Memang tidak semudah membalikkan tangan, namun diterapkannya hukum Allah adalah wilayah yang bisa diusahakan secayan maksimal. Hanya satu yang dibutuhkan generasi, tunduk pada aturan yang telah digariskan. Meneladani Rasulullah SAW.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
