Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image haura Insiyah

Air yang Meluap, Kebijakan yang Tersingkap

Update | 2026-02-08 05:44:11

Oleh: Rini

Sudah tidak aneh lagi jika musim hujan tiba, akan ada berita banjir yang melanda beberapa daerah di Nusantara tercinta ini, salah satunya banjir yang melanda daerah ibu kota, Jakarta. Seperti yang disinyalir Kompas.id, banjir masih menggenangi 22 rukun tetangga dan 5 ruas jalan di Jakarta hingga Selasa (13/1/2026) pagi. Akibatnya, 1.137 warga mengungsi.

Harian Tempo.co pun merangkum fakta banjir yang terjadi di daerah Jakarta Bekasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak 90 rukun tetangga (RT) dan 9 ruas jalan masih tergenang banjir hingga Sabtu, 24 Januari 2026 pukul 06.00 WIB. Wilayah paling terdampak berada di Jakarta Barat dengan 51 RT terendam di 11 kelurahan, antara lain Duri Kosambi, Rawa Buaya, Kapuk, dan Kedaung Kali Angke.

Di Jakarta Timur, banjir merendam 25 RT dengan titik terparah di Kelurahan Cawang dan Cililitan. Ketinggian air di wilayah ini berkisar 80 hingga 250 sentimeter. Sementara itu, Jakarta Selatan mencatat banjir di 7 RT, dengan genangan tertinggi lebih dari 2 meter di Kelurahan Pejaten Timur. Jakarta Utara juga terdampak dengan 7 RT terendam di Kelurahan Kapuk Muara. Banjir pun meluas ke Kota Bekasi.

Pemerintah mengklaim pemicu terjadinya banjir ialah hujan lebat hingga ekstrem serta luapan kali yang melebihi daya tampung infrastruktur pengendalian banjir skala mikro dan makro. Kedua infrastruktur pengendalian banjir tersebut dirancang untuk curah hujan 100 milimeter (mm) per hari dan 150 mm per hari. Namun, hujan yang mengguyur Jakarta pada Senin (12/1/2026) mencapai lebih dari 150 mm per hari.

Pemerintah mengupayakan penanganan dengan modifikasi cuaca dan normalisasi tiga sungai untuk mengurangi risiko banjir. Pemerintah pun mengakui bahwa modifikasi cuaca hanya dilakukan untuk penanganan jangka pendek, sedangkan normalisasi sungai membutuhkan biaya serta penanganan yang rumit, berkenaan dengan masyarakat yang terdampak.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai penanganan banjir melalui modifikasi cuaca keliru sejak dari logika dasar. Hujan merupakan bagian dari siklus alam yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Ketergantungan pada penanganan teknis jangka pendek justru menutupi persoalan mendasar yang menjadi penyebabnya, yaitu kegagalan kebijakan struktural dalam pengelolaan ruang dan lingkungan.

Banjir Jakarta dan wilayah perkotaan merupakan problem klasik yang berulang. Penyebab utama bukan semata karena tingginya curah hujan, melainkan kekeliruan tata ruang, di mana lahan sudah tidak mampu lagi menyerap air. Paradigma kapitalistik membuat kebijakan dalam tata kelola lahan tidak lagi memperhitungkan dampak lingkungan, yang penting menguntungkan para kapital.

Sementara itu, jika kita kembali kepada kodrat kehidupan dan memperhatikan ayat ayat Alquran yang telah jelas memperingatkan tentang kerusakan yang dibuat manusia terhadap alam, bencana justru akan kembali kepada manusia itu sendiri. Oleh karena itu, pembangunan tata kelola ruang harus memperhatikan dampak lingkungan demi kemaslahatan umat manusia dalam jangka panjang, bukan berasaskan manfaat keuntungan finansial semata yang hanya berujung pada keuntungan para kapital dan bencana bagi umat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image