Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indah Kartika Sari

New Gaza dan Dewan Perdamaian: Betulkah untuk Kemerdekaan Sejati?

Agama | 2026-02-02 09:33:33

Di saat krisis Palestina belum berakhir. Umat Islam kembali dihadapkan kepada fragmen konstelasi politik yang sangat keji. Dunia masih menyaksikan mesin perang Israel terus menghujani Gaza dengan amunisi tanpa bisa menghentikannya. Sementara itu kejahatan ini terus dilancarkan dengan membuat rencana licik yaitu pembuatan cetak biru pembangunan Gaza di atas meja-meja perundingan di Washington. Ambisi untuk menciptakan "New Gaza" dan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza (DPG) bukanlah sekadar upaya kemanusiaan, melainkan sebuah strategi jahat untuk memastikan kendali total penjajah di atas tanah para syuhada.

Narasi yang berkembang di internal pemerintahan sayap kanan Israel semakin ekstrem. Sejumlah menteri secara terbuka menyerukan penghancuran total Gaza dan pengusiran paksa penduduk Palestina dari tanah kelahiran mereka. Di tengah situasi yang belum reda dari genosida, Amerika Serikat (AS) justru telah menyiapkan rancangan besar pembangunan "New Gaza."

Salah satu arsitek di balik rencana ini adalah Jared Kushner, menantu Donald Trump, yang mengusulkan transformasi pesisir Gaza menjadi kawasan properti mewah dan pusat data (data centers). Melalui Dewan Perdamaian Gaza (DPG), AS berupaya menyusun struktur pemerintahan baru yang akan mengendalikan Gaza secara administratif dan politik di bawah pengawasan ketat kekuatan internasional.

Di balik slogan New Gaza dan Dewan Perdamaian Gaza yang terkesan manis, tersembunyi rencana pahit yang akan menyengsarakan umat Islam, khususnya umat Islam di Gaza. Pada dasarnya pembangunan "New Gaza" sejatinya adalah upaya untuk mengubur jejak genosida. Dengan mengubah wajah Gaza menjadi pusat bisnis modern bergaya barat, dunia diharapkan lupa bahwa di bawah pondasi gedung-gedung tersebut terdapat ribuan nyawa rakyat Palestina yang dikubur secara paksa.

Selain itu, pembentukan Dewan Perdamaian Gaza (DPG) juga merangkul sejumlah negeri Muslim bertujuan untuk memberikan legitimasi moral bagi penjajahan baru. AS membutuhkan keterlibatan negara-negara Muslim sebagai "penjaga keamanan" atau "pendana rehabilitasi," yang pada praktiknya hanyalah kepanjangan tangan untuk menjaga stabilitas demi kepentingan ekonomi dan politik AS-Israel.

Lebih-lebih lagi, Visi "pasar bebas" yang ditawarkan untuk Gaza adalah bentuk penjajahan ekonomi. Gaza tidak akan pernah mandiri secara politik jika seluruh infrastruktur dan sistem ekonominya dikendalikan oleh kekuatan asing melalui korporasi-korporasi besar.

Menghadapi makar besar ini, umat Islam perlu kembali pada tuntunan akidah yang jernih dalam memandang persoalan Palestina:

1. Palestina adalah Tanah Wakaf Milik Umat Islam Seluruh wilayah Gaza dan Palestina adalah tanah Kharajiyah—tanah milik umat Islam secara keseluruhan yang dirampas secara ilegal oleh entitas Zionis. Secara syar'i, tidak ada sejengkal tanah pun yang boleh dikompromikan, apalagi diserahkan pengelolaannya kepada pihak penjajah di bawah kedok "pembangunan" atau "perdamaian."

2. Larangan Loyalitas kepada Negara Kafir Harbi Allah SWT secara tegas melarang umat Islam untuk tunduk, patuh, atau memberikan loyalitas (wala) kepada negara-negara yang jelas-jelas memerangi umat Islam dan merampas tanah mereka. Tunduk pada rancangan Dewan Perdamaian Gaza bentukan AS berarti menyerahkan kedaulatan umat kepada pihak yang menjadi pendukung utama genosida.

3. Kewajiban Jihad dan Khilafah Solusi bagi Palestina tidak akan datang dari meja-meja PBB atau rancangan bisnis Kushner. Umat dan para penguasa di dunia Islam wajib bersatu melawan makar AS-Israel. Prioritas perjuangan umat bersama partai politik Islam ideologis harus difokuskan pada dua pilar: Mobilisasi kekuatan militer (jihad) untuk mengusir penjajah dan penegakan kembali institusi politik Islam (Khilafah) yang mampu menyatukan seluruh potensi dunia Islam untuk membebaskan Palestina secara total.

Wajah "New Gaza" yang dijanjikan hanyalah topeng bagi penjajahan yang lebih canggih. Tanpa kedaulatan penuh di tangan umat Islam, pembangunan tersebut tak lebih dari sebuah penjara besar dengan dinding emas. Umat Islam tidak boleh tertipu oleh narasi kemakmuran semu yang ditawarkan di atas darah saudara sendiri. Satu-satunya jalan keluar adalah kemandirian politik dan keberanian untuk memutus setiap rantai kendali AS-Israel di tanah Palestina.

Referensi Berita:

  • BBC Indonesia: Rencana Masa Depan Gaza Pasca-Perang.
  • Media Indonesia: Profil Jared Kushner, Arsitek Rekonstruksi Gaza.
  • Middle East Eye: Jared Kushner Unveils Free-Market Gaza (Coastal Towers and Data Centres).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image