Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Masjid, Al-Quran, dan Persatuan Umat

Agama | 2026-01-31 14:03:01

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

Seorang sahabat, kami memanggilnya Budi, menyampaikan kegelisahan yang barangkali juga menjadi kegelisahan banyak orang beriman hari ini. Ia tidak berbicara tentang bangunan masjid yang megah atau kubah yang menjulang, melainkan tentang sepi yang terasa di tengah ramainya shalat berjamaah. Tentang barisan saf yang rapat secara fisik, namun sering berjarak secara batin. Tentang masjid yang ramai pada waktu tertentu, tetapi sunyi dari daya hidup yang menyatukan umat.

Budi bertanya lirih: apakah kita sungguh memakmurkan masjid, atau sekadar mengisinya?

Pertanyaan itu membawa kita pada makna terdalam dari masjid itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 18).

Ayat ini tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi menautkannya dengan iman, keberanian moral, dan orientasi akhirat. Memakmurkan masjid, dengan demikian, bukan hanya soal jumlah jamaah, melainkan kualitas kesadaran.

Di sinilah Al-Qur’an seharusnya kembali ke pusatnya. Masjid sejatinya adalah rumah Al-Qur’an—bukan sekadar tempat tilawah yang merdu, tetapi ruang di mana wahyu hidup, dipahami, dan menjelma menjadi akhlak sosial. Ketika Al-Qur’an hanya dibaca tanpa direnungkan, masjid berisiko menjadi ruang gema suara, bukan sumber cahaya peradaban.

Padahal, Al-Qur’an diturunkan sebagai hudā—petunjuk yang menuntun arah hidup bersama. “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra: 9). Jalan lurus itu bukan hanya jalan individual menuju kesalehan personal, tetapi jalan kolektif menuju persatuan, keadilan, dan kasih sayang.

Rasulullah SAW telah mencontohkan masjid sebagai pusat kehidupan umat. Masjid Nabawi bukan hanya tempat shalat, tetapi juga ruang musyawarah, pendidikan, penguatan sosial, bahkan penyelesaian konflik. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.” (HR. Muslim).

Namun tubuh umat hari ini sering terasa tercerai. Masjid kadang menjadi ruang yang memantulkan perbedaan mazhab, pilihan politik, bahkan ego kelompok. Shalat berjamaah berlangsung, tetapi ukhuwah sering tertinggal di luar pintu masjid. Saf lurus, hati berbelok.

Para sufi sejak lama mengingatkan bahwa masjid yang sesungguhnya tidak hanya berdinding batu, tetapi berdinding kesadaran. Jalaluddin Rumi menulis, “Masjid bukanlah bangunan dari tanah dan batu, tetapi hati yang tunduk dan jujur di hadapan Tuhan.” Jika hati jamaah tidak disatukan oleh kerendahan dan cinta, masjid kehilangan ruhnya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu tanpa pengamalan akan mengeras menjadi kesombongan. Al-Qur’an yang dibaca tanpa akhlak hanya akan menambah jarak antar sesama. Karena itu, generasi Qur’ani yang diimpikan bukan hanya generasi yang fasih melafalkan ayat, tetapi generasi yang mempraktikkan nilai: adil dalam perbedaan, lembut dalam perdebatan, dan luas dalam kasih.

Budi mengeluhkan betapa jarangnya masjid menjadi ruang dialog yang menyejukkan. Padahal, Al-Qur’an sendiri mengajarkan adab berbeda pendapat: “Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125). Masjid semestinya menjadi tempat umat belajar berbeda tanpa saling meniadakan.

Dalam perspektif peradaban, masjid yang hidup adalah masjid yang melahirkan manusia merdeka secara spiritual dan matang secara sosial. Sejarah Islam mencatat bagaimana masjid menjadi pusat lahirnya ilmu, seni, dan etika publik. Ketika Al-Qur’an dipahami sebagai sumber nilai kehidupan, masjid memancarkan energi persatuan.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berkata, “Jika engkau ingin melihat kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah bagaimana engkau memperlakukan sesama makhluk-Nya.” Kalimat ini menggugah kita: apakah masjid telah membentuk jamaah yang ramah, peduli, dan saling menguatkan?

Memakmurkan masjid, pada akhirnya, adalah memuliakan Al-Qur’an dengan menjadikannya hidup dalam keseharian umat. Bukan hanya dalam bacaan shalat, tetapi dalam cara kita menyapa, mendengar, dan memaafkan. Bukan hanya dalam pengajian, tetapi dalam keberpihakan kepada yang lemah dan tersisih.

Kegelisahan Budi adalah cermin. Ia mengajak kita bercermin pada masjid yang kita bangun dan masjid yang kita hidupi. Apakah masjid telah menjadi pusat cahaya, atau hanya persinggahan ritual? Apakah shalat berjamaah telah menumbuhkan persatuan, atau sekadar kebersamaan sesaat?

Barangkali jawabannya kembali kepada Al-Qur’an itu sendiri. Ketika ia dibaca dengan tartil, dipahami dengan hati, dan diamalkan dalam kehidupan, masjid akan kembali menemukan jiwanya—sebagai rumah Tuhan yang menyatukan manusia.

Dan dari sanalah, persatuan umat tidak lagi menjadi slogan, melainkan kenyataan yang tumbuh dari lantai masjid hingga denyut kehidupan sosial.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image