Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Dini Hari di Batas Sabar: Prahara Rengasdengklok

Sastra | 2026-01-31 11:55:16

Cerpen ini mengisahkan fragmen paling krusial dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia, yaitu peristiwa pengasingan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada dini hari 16 Agustus 1945. Di tengah situasi vacuum of power pasca menyerahnya Jepang, terjadi benturan ideologi dan emosi antara golongan muda yang vurig (berapi-api) dengan golongan tua yang memegang teguh prinsip staatsrecht (hukum tata negara).

Melalui narasi yang dramatis di rumah kayu milik Djiaw Kie Siong, pembaca diajak menyelami pergulatan batin para pendiri bangsa yang berada di bawah tekanan "penculikan" demi sebuah percepatan proklamasi. Cerpen ini menonjolkan dialektika antara keberanian yang impulsif dan perhitungan politik yang matang, yang pada akhirnya melahirkan kesepahaman eendracht (satu kesatuan tekad) untuk memproklamirkan kemerdekaan secara berdaulat, bukan sebagai omiyage (hadiah) dari penjajah. Sebuah catatan tentang bagaimana prahara di batas sabar mampu menjadi rahim bagi lahirnya matahari Indonesia.

Malam itu, 16 Agustus 1945, udara Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kelembapan tropis yang lazim, melainkan karena aroma ketidakpastian yang menggantung di setiap sudut Jalan Pegangsaan Timur. Di dalam kediaman Bung Karno, jarum jam dinding seakan berdetak lebih keras, berpacu dengan napas para pemuda yang diliputi kegelisahan membara.

Bung Karno baru saja hendak merebahkan diri ketika pintu depan diketuk dengan desakan yang tak sabar. Di luar, Wikana, Sukarni, dan beberapa anggota pemoeda lainnya berdiri dengan tatapan mata yang menyala. Tidak ada basa-basi. Situasi sudah mencapai titik didih pasca menyerahnya Jepang kepada Sekutu.

"Bung, waktunya sudah tiba. Kita tidak bisa menunggu tjiap dari Tokyo atau lampu hijau dari Marsekal Terauchi," ujar Sukarni, suaranya rendah namun penuh penekanan.

Bung Karno mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketenangan. "Saudara-saudara, sebuah revolusi tidak bisa diputuskan dalam semalam dengan emosi yang meluap. Kita punya perhitungan staatsrecht yang matang."

Tak lama kemudian, Bung Hatta tiba. Wajahnya setenang air telaga, namun matanya menyiratkan kelelahan yang dalam. Ia mendapati ruang tamu itu sudah berubah menjadi panggung perdebatan ideologis.

"Apa lagi yang kalian tunggu?" potong Wikana tajam. "Jika kita menunggu lewat PPKI, rakyat akan mengira kemerdekaan ini adalah hadiah omiyage dari Jepang! Kita harus memproklamirkannya sekarang, dengan tangan kita sendiri!"

Bung Hatta membetulkan letak kacamata bulatnya. "Kemerdekaan itu bukan soal sekadar berteriak di depan corong radio, Wikana. Kita butuh pengakuan internasional, kita butuh struktur yang sah agar tidak terjadi anarchie."

"Tetapi Jepang sudah kalah! Ini adalah vacuum of power!" seru seorang pemuda dari barisan belakang.

"Justru karena itu kita harus waspada," balas Karno dengan suara baritonnya yang menggetarkan ruangan. "Aku tidak ingin melihat tumpah darah yang sia-sia hanya karena kita ceroboh dalam mengambil momentum."

Ketegangan mencapai puncaknya ketika para pemuda memutuskan bahwa Jakarta bukan lagi tempat yang aman bagi kedua tokoh ini untuk berpikir jernih tanpa tekanan dari sisa-sisa tentara Kempeitai. Dengan setengah memaksa namun tetap menjaga rasa hormat yang tersisa, mereka meminta Bung Karno dan Bung Hatta ikut serta.

"Kita akan pergi ke luar kota. Ke tempat di mana suara rakyat lebih nyaring terdengar daripada suara diplomasi yang bertele-tele," tegas Sukarni.

Tanpa banyak persiapan, di bawah keremangan lampu jalan yang mulai meredup, sebuah mobil jemputan sudah menunggu. Fatmawati yang menggendong Guntur yang masih bayi pun turut serta. Rengasdengklok, sebuah daerah terpencil di Karawang, dipilih menjadi saksi bisu di mana sejarah bangsa ini akan dipaksa lahir dari rahim keberanian yang nekat. Sepanjang perjalanan, deru mesin mobil seolah menjadi musik latar bagi pergulatan batin para pendiri bangsa yang sedang "diculik" oleh harapan anak-anak mudanya sendiri.

Mobil yang membawa rombongan itu berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu milik petani keturunan Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Sinar fajar mulai mengintip malu-malu di ufuk timur Rengasdengklok, namun udara di dalam ruangan itu jauh dari kata hangat. Bau minyak tanah dari lampu tempel beradu dengan aroma debu dan kegelisahan yang menyesakkan.

Bung Karno duduk di sebuah kursi kayu tua, memangku Guntur yang terlelap dalam balutan kain. Fatmawati bersandar di sudut ruangan, matanya nanar menatap suaminya yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya pagi itu. Di meja seberang, Bung Hatta tetap bergeming, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan irama yang statis—sebuah tanda bahwa sang economist sedang menahan badai di kepalanya.

"Bung, fajar sudah menyingsing," Sukarni membuka suara, suaranya parau karena kurang tidur namun penuh determinasi. "Rakyat di Jakarta sudah siap. Senjata-senjata hasil rampasan dari Peta sudah di tangan. Tunggu apa lagi? Katakan saja satu kata: Merdeka. Maka api akan menyambar dari ujung Sumatera hingga ujung Papua."

Bung Karno mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam, menyambar Sukarni. "Saudara Sukarni, kau bicara seolah-olah kemerdekaan itu hanyalah soal menyulut sumbu dinamit. Kau lupa bahwa di luar sana, moncong meriam tentara Jepang masih mengarah ke dada rakyat kita. Jika kita gegabah, ini bukan proklamasi, melainkan suicide massal!"

"Lebih baik mati sebagai bangsa yang melawan daripada hidup sebagai budak yang menunggu kado dari penjajah yang sudah kalah!" sahut Wikana dengan nada meninggi. "Bung selalu bicara soal legaliteit dan PPKI. Itu badan buatan Jepang! Apa Bung tidak malu memerdekakan bangsa di atas kertas yang distempel oleh Tokyo?"

Hatta mendongak, kacamatanya berkilat tertimpa cahaya lampu. "Kita bicara soal kedaulatan, Wikana. Bukan soal ego anak muda. Sebuah negara memerlukan pengakuan de jure agar tidak dianggap sebagai pemberontak liar oleh dunia internasional. Proklamasi yang lahir dari emosi tanpa struktur politik yang jelas hanya akan menjadi santapan empuk bagi Sekutu yang sebentar lagi mendarat."

"Dunia internasional tidak akan peduli pada struktur jika kita tidak punya keberanian untuk menginjak kaki di bumi sendiri!" seru seorang pemuda lain dari barisan belakang, suaranya memantul di dinding kayu yang ringkih.

Suasana semakin memanas. Sukarni melangkah maju, tangannya mengepal di atas meja. "Bung, dengarlah. Kami membawa Bung ke sini bukan untuk berdebat soal hukum internationaal. Kami membawa Bung ke sini agar Bung sadar bahwa volksgeest, semangat rakyat, sudah tidak bisa dibendung lagi. Jika Bung tetap diam, pemuda akan bertindak sendiri. Dan saat itu terjadi, kami tidak menjamin keselamatan siapapun yang menghalangi, termasuk Bung sendiri."

Kalimat itu menggantung seperti vonis. Ruangan mendadak hening, hanya suara jangkrik dari sawah di luar yang berani memecah kesunyian. Bung Karno berdiri perlahan. Ia meletakkan Guntur ke pelukan Fatmawati, lalu melangkah mendekati jendela yang masih tertutup rapat.

"Kau mengancamku, Sukarni?" tanya Karno pelan, namun berwibawa. "Kau ingin menyeretku ke lapangan dan mengalungkan pedang di leherku agar aku bicara? Silakan. Seret aku! Sembelihlah aku malam ini juga. Kau tidak perlu menunggu hingga esok. Tapi ingat, proklamasi yang lahir dari paksaan tidak akan pernah memiliki ruh!"

"Kami tidak bermaksud begitu, Bung..." suara Wikana sedikit melunak, namun matanya tetap menuntut.

"Lalu apa?" potong Hatta tajam. "Kalian membawa kami ke sini, menjauhkan kami dari pusat informasi, hanya untuk memaksakan sebuah momentum yang secara strategi belum matang? Kita ini sedang membangun bangsa, bukan sedang main sandiwara tonil!"

Perdebatan itu berputar-putar seperti lingkaran setan. Para pemuda menginginkan action yang spontan dan heroik, sementara dua dwitunggal itu memegang teguh realpolitik. Di luar, matahari mulai meninggi, menyinari hamparan sawah Rengasdengklok, namun di dalam rumah itu, kegelapan ideologi masih mencengkeram.

Ketegangan mencapai titik jenuh ketika debu mengepul di kejauhan. Sebuah mobil lain mendekat. Itu adalah Ahmad Soebardjo, yang datang sebagai penengah dengan taruhan nyawanya sendiri di hadapan para pemuda. Namun sebelum Soebardjo turun, Sukarni kembali berbisik di telinga Karno dengan nada yang menggetarkan.

"Bung, sejarah tidak akan mencatat siapa yang benar menurut hukum, tapi sejarah akan mencatat siapa yang berani mengambil takdirnya sendiri. Di Rengasdengklok ini, matahari sudah terbit. Apakah matahari itu akan menyinari Indonesia yang merdeka, atau hanya menyinari mayat-mayat impian kita?"

Karno terdiam. Ia menatap Hatta, mencari jawaban di balik lensa kacamata sahabatnya itu. Di batas sabar yang mulai menipis, di antara gertakan senjata dan desakan nurani, mereka tahu bahwa hari ini, 16 Agustus 1945, Jakarta harus segera dijangkau kembali, atau bangsa ini akan kehilangan detak jantungnya sebelum sempat bernapas.

Matahari Rengasdengklok kini tepat berada di atas ubun-ubun, membakar atap nipah rumah Djiaw Kie Siong hingga suhu di dalam ruangan terasa seperti kawah yang siap meledak. Ahmad Soebardjo berdiri di tengah ruangan, peluh membasahi kemejanya, menjadi jembatan rapuh di atas jurang ego antara kaum tua dan kaum muda.

"Waktu kita tidak banyak," suara Soebardjo memecah kebuntuan, berat dan penuh otoritas. "Jika Bung Karno dan Bung Hatta tidak segera kembali ke Jakarta untuk merumuskan proklamasi, maka janji kemerdekaan ini akan membusuk di barak-barak Jepang atau hancur di tangan Sekutu yang sudah di ambang pintu."

Sukarni maju satu langkah, tangannya masih mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku jarinya memutih. "Kami tidak akan membiarkan mereka pulang jika hanya untuk tunduk pada Gunseikanbu! Kami butuh jaminan, bukan sekadar diplomasi omong kosong!"

Bung Karno bangkit dari duduknya. Wajahnya yang semula letih kini berubah mengeras seolah terpahat dari batu cadas. Ia melangkah mendekati Sukarni hingga jarak mereka hanya sejengkal. Aroma keringat dan ketegangan menguar di antara keduanya.

"Jaminan?" tanya Karno dengan nada rendah yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengar. "Kau minta jaminan pada siapa, Sukarni? Pada takdir? Atau pada nyawaku?"

"Bung..." Wikana mencoba menyela, namun Karno mengangkat tangan, membungkam ruangan itu seketika.

"Dengar!" seru Karno, suaranya kini menggelegar memenuhi rumah kayu itu, merambat hingga ke pematang sawah. "Kalian bicara soal keberanian seolah-olah aku ini pengecut yang bersembunyi di ketiak Jepang! Aku telah menghabiskan separuh usiaku di dalam penjara dan pengasingan demi saat ini! Tapi aku tidak akan membiarkan rakyatku menjadi kanonenvlees—umpan meriam—hanya karena kita buta dalam strategi!"

Bung Hatta yang sejak tadi diam, berdiri dengan keanggunan seorang intelektual yang tak tergoyahkan. Ia menatap para pemuda satu per satu dengan sorot mata yang menembus jantung.

"Saudara-saudara," ujar Hatta tenang namun tajam. "Revolusi ini adalah berekende decisie, sebuah keputusan yang terhitung. Jika kalian ingin proklamasi hari ini, maka kita harus memutuskannya di Jakarta, di tempat di mana seluruh elemen bangsa bisa menyaksikannya, bukan di persembunyian yang gelap ini. Apakah kalian ingin sejarah menulis bahwa Indonesia merdeka karena hasil penculikan, atau karena kehendak seluruh rakyat yang berdaulat?"

Suasana mencapai titik paroxysm. Sukarni menatap mata Karno, mencari celah keraguan, namun yang ia temukan hanyalah api yang lebih besar dari amarahnya sendiri. Di sudut lain, Soebardjo memberikan jaminan terakhirnya yang melegenda: "Nyawaku taruhannya. Jika besok proklamasi belum dibacakan, kalian boleh menembak mati aku."

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Detik jam dinding seolah berhenti berdetak saat Sukarni perlahan mengendurkan kepalannya. Ego kaum muda yang meledak-ledak akhirnya berbenturan dengan prinsip baja dua raksasa bangsa.

"Baiklah," bisik Sukarni, suaranya serak oleh emosi yang tertahan. "Kita kembali ke Jakarta. Tapi ingat Bung, jika fajar besok menyingsing tanpa ada pekik merdeka, maka darah kitalah yang akan membasahi aspal Pegangsaan."

Karno tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengambil pecinya, mengenakannya dengan mantap, dan melirik ke arah Hatta. Sebuah kesepahaman tanpa suara terjalin di antara dwitunggal itu. Di ambang batas sabar yang nyaris pecah, prahara Rengasdengklok telah melahirkan sebuah tekad bulat: proklamasi bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan sebuah niscaya yang harus segera dipahat di atas batu takdir.

Debu jalanan Karawang mengepul hebat saat iring-iringan mobil itu membelah kegelapan menuju Jakarta. Di dalam kabin yang sempit, keheningan terasa begitu sacrosanct—suci sekaligus mencekam. Tak ada lagi teriakan. Yang tersisa hanyalah deru mesin dan detak jantung sejarah yang kian kencang. Bung Karno menyandarkan kepalanya, sementara di sampingnya, Bung Hatta masih setia dengan pikirannya yang tertata, seolah sedang menyusun setiap baris kalimat yang akan mengubah nasib jutaan nyawa.

Sesampainya di Jakarta, rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol menjadi pelabuhan terakhir sebelum dermaga kemerdekaan. Di ruang makan rumah perwira Jepang itulah, suasana urget mencapai puncaknya. Meja bundar besar menjadi saksi bisu tiga pasang tangan yang memegang pena takdir.

"Kita tidak punya banyak waktu untuk retorika yang berbunga-bunga," ujar Bung Hatta sambil mengusap kacamatanya yang mulai berembun. "Kalimatnya harus ringkas, padat, dan mencerminkan daadkracht—kekuatan tindakan kita."

Bung Karno mengambil selembar kertas saring. Tangannya yang sempat gemetar di Rengasdengklok kini tampak kokoh. "Bagaimana dengan ini: 'Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatuhkan penjajahan Jepang'?"

"Terlalu provokatif dan sempit secara diplomatik, Bung," sanggah Ahmad Soebardjo halus. "Kita butuh pernyataan yang menyatakan kedaulatan secara menyeluruh. Bagaimana jika: 'Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia'?"

Karno mengangguk, penanya menari di atas kertas. "Lalu, bagaimana dengan penyerahan kekuasaan? Kita butuh aspek overdracht van macht yang jelas agar dunia tahu ini bukan sekadar pemberontakan."

Hatta menyahut cepat, "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."

Kalimat itu selesai. Di luar ruangan, para pemuda—Sukarni, Sayuti Melik, dan lainnya—menunggu dengan napas tertahan. Saat Karno keluar membawa secarik kertas coretan tangan itu, Sukarni langsung menyergap dengan tatapan menuntut.

"Siapa yang akan menandatanganinya, Bung? Apakah seluruh anggota PPKI? Itu akan membuat proklamasi ini berbau amis buatan Jepang!" seru Sukarni, api di matanya belum sepenuhnya padam.

Bung Hatta berdiri, memberikan solusi yang mematikan perdebatan. "Jangan semua. Cukup dua orang saja atas nama bangsa Indonesia. Bung Karno dan saya."

Sayuti Melik segera duduk di depan mesin ketik, jemarinya lincah menekan tuts logam yang berdentang di kesunyian dini hari. Trak! Trak! Trak! Bunyi itu terdengar seperti rentetan tembakan yang meruntuhkan tembok kolonialisme.

Menjelang pukul empat pagi, naskah bersih itu siap. Karno menatap Sayuti dan para pemuda, lalu beralih ke Hatta. Ada gurat kelegaan yang mulai merayap di wajahnya. "Besok, jam sepuluh pagi di rumahku. Tidak ada protokol muluk-muluk, tidak ada bantuan Jepang. Hanya kita, bendera yang dijahit Fatmawati, dan suara rakyat."

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Jakarta, mengusir sisa-sisa kegelapan Rengasdengklok. Prahara telah usai, berganti dengan keberanian yang terukur. Di batas sabar yang hampir habis, sebuah bangsa baru saja menarik napas pertamanya. Sukarni dan Wikana berdiri di teras, menatap langit yang mulai membiru dengan haru yang tak terlukiskan. Mereka tahu, pagi ini bukan lagi soal siapa yang paling berani, tapi soal satu kata yang akan diteriakkan ke seluruh jagat raya: Merdeka.

Matahari 17 Agustus 1945 baru saja tergelincir melewati puncaknya. Di teras depan Jalan Pegangsaan Timur 56, aroma bubuk mesiu yang imajiner masih tertinggal, bercampur dengan bau tanah kering dan sisa-sisa semangat yang baru saja diledakkan melalui mikrofon tua. Proklamasi telah dibacakan. Sederhana, tanpa pomp and circumstance, namun getarannya mampu meruntuhkan pilar-pilar kekaisaran di kepala setiap orang yang hadir.

Bung Karno duduk di sebuah kursi di ruang dalam, badannya yang sempat terserang demam kini tampak lunglai namun sorot matanya jernih. Di sampingnya, Bung Hatta masih tetap dengan ketenangannya yang legendaris, meskipun saku kemeja putihnya sudah basah oleh keringat.

"Tugas kita hari ini telah selesai sebagai penyambung lidah," bisik Karno, suaranya parau. "Tapi sebagai arsitek, pondasi ini baru saja kita gali di atas tanah yang masih basah oleh darah."

Sukarni dan Wikana masuk dengan langkah yang tak lagi terburu-buru. Wajah-wajah yang di Rengasdengklok tampak seperti serigala lapar itu kini melunak, meski sisa-sisa sturm und drang—badai dan desakan—jiwa muda mereka masih terasa. Sukarni mendekat, lalu menundukkan kepala sedikit lebih rendah dari biasanya.

"Bung," ujar Sukarni pelan, "Maafkan jika kemarin kami lancang. Kami hanya takut fajar itu tidak akan pernah datang jika kita tetap bersembunyi di balik bayang-bayang diplomasi."

Hatta mendongak, memperbaiki letak kacamatanya. "Kalian adalah api, Sukarni. Dan kami adalah tungkunya. Tanpa api, tungku ini dingin dan tak berguna. Namun tanpa tungku, api kalian hanya akan membakar hutan tanpa pernah memasak nasi untuk rakyat. Hari ini, kita membuktikan bahwa keduanya bisa bekerja dalam satu eendracht—satu kesatuan tekad."

Fatmawati melintas di antara mereka, membawa baki berisi teh hangat. Ia melirik tiang bambu di luar sana, di mana kain merah putih yang ia jahit dengan air mata dan harapan kini berkibar ditiup angin sepoi Jakarta.

"Rengasdengklok bukan lagi sekadar nama desa di peta," gumam Karno sambil menerima cangkir tehnya. "Itu adalah monumen bagi batas sabar sebuah bangsa. Di sana, kita belajar bahwa kemerdekaan bukan hanya soal merebut hak, tapi soal memikul tanggung jawab de jure dan de facto di hadapan sejarah."

Wikana menatap ke arah luar, ke arah kerumunan rakyat yang mulai membubarkan diri dengan tangan mengepal ke udara. "Setelah ini, apakah Sekutu akan diam, Bung?"

"Tentu tidak," jawab Hatta tegas. "Perjuangan diplomatik baru saja dimulai. Kita akan menghadapi diplomatieke strijd yang melelahkan. Dunia akan menguji apakah kita ini bangsa yang berdaulat atau hanya sekadar een dags vlieg—lalat sehari yang mati setelah terbang."

Karno berdiri, melangkah menuju jendela, menatap langit yang mulai jingga. Bayangan kemelut di rumah Djiaw Kie Siong terasa begitu jauh, namun ia tahu, tanpa prahara di dini hari itu, proklamasi siang tadi mungkin hanya akan menjadi catatan kaki yang layu dalam buku sejarah.

"Biarkan sejarah mencatat," ujar Karno dengan nada bariton yang kembali bertenaga, "bahwa Indonesia lahir dari pertentangan saudara yang paling indah. Kita berselisih untuk satu tujuan, dan kita bersatu untuk satu takdir."

Di batas sabar yang telah terlampaui, fajar Rengasdengklok kini telah benar-benar menjadi matahari Indonesia. Prahara telah usai, namun gema dari kalimat "Kami Bangsa Indonesia" baru saja memulai perjalanannya mengelilingi bola dunia, mencari pengakuan dari langit dan bumi.

Prahara Rengasdengklok bukanlah sekadar fragmen kepanikan dalam kalender revolusi, melainkan sebuah laboratorium moral tempat karakter sebuah bangsa diuji hingga ke titik nadirnya. Di sana, kita belajar bahwa sebuah perubahan besar selalu membutuhkan dua sayap yang seimbang: kecepatan dari para pemuda dan ketepatan dari para orang tua. Sejarah tidak pernah bergerak maju hanya dengan satu sisi; ia membutuhkan impuls dari mereka yang tak sabar melihat ketidakadilan, sekaligus membutuhkan ratio dari mereka yang paham cara membangun fondasi yang abadi.

Amanat yang tertinggal di dinding rumah Djiaw Kie Siong adalah tentang pentingnya dialektika. Tanpa desakan kaum muda yang vurig (berapi-api), kemerdekaan mungkin akan menjadi barang dagangan yang terus dinegosiasikan di meja-meja bundar kolonial. Namun, tanpa perhitungan staatsrecht (hukum tata negara) dan kearifan para pemimpin senior, kemerdekaan itu bisa jadi hanyalah sekejap kembang api yang meledak indah lalu padam dalam anarki yang berdarah. Kepemimpinan sejati bukanlah tentang siapa yang paling keras berteriak, melainkan tentang bagaimana meramu keberanian menjadi sebuah kedaulatan yang diakui secara internationaal.

Bagi generasi yang membaca catatan ini, Rengasdengklok menitipkan pesan bahwa perbedaan pendapat di dalam satu rumah besar bernama Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang indah, selama tujuannya tetap satu: kedaulatan rakyat. Keberanian yang liar harus dipandu oleh tanggung jawab yang terukur, dan kebijaksanaan yang tenang tidak boleh terjebak dalam kelambanan.

Pada akhirnya, proklamasi bukan hanya soal teks yang diketik di atas kertas, melainkan soal keberanian untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri—standing on our own feet. Sejarah mengajarkan bahwa di batas sabar itulah, integritas seorang pejuang benar-benar disaring. Indonesia tidak lahir dari keseragaman pemikiran, melainkan dari benturan-benturan hebat yang dikelola dengan rasa cinta tanah air yang melampaui ego pribadi. Fajar di Rengasdengklok adalah pengingat abadi bahwa selama api pemuda dan tungku orang tua tetap bersatu, matahari Indonesia tak akan pernah benar-benar terbenam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image