Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arifda Ayu SW, M.Si

Jika Bukan Sawit, Minyak Goreng dari Mana?

Info Terkini | 2026-01-29 13:50:42

Kelapa sawit sering dianggap sebagai biang masalah lingkungan: deforestasi, konflik lahan, hingga banjir. Kritik itu penting sebagai pengingat bahwa tata kelola perkebunan harus dibenahi. Namun di tengah kritik tersebut, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan: kalau bukan sawit, minyak goreng kita berasal dari mana?

Sumber:Pinterest

Minyak sawit bukan hanya untuk minyak goreng rumah tangga. Ia juga dipakai industri makanan, kosmetik, sabun, hingga energi. Karena itu, sawit menjadi komoditas strategis. Bukan karena “tanaman ajaib”, tetapi karena satu hal: produktivitasnya tinggi. Dengan lahan yang relatif lebih kecil, sawit mampu menghasilkan minyak jauh lebih banyak dibandingkan banyak tanaman minyak lain.

Inilah alasan sawit sulit digantikan secara cepat.

Alternatif Sawit: Ada, tapi Tidak Mudah

Sering muncul usulan mengganti sawit dengan tanaman lain seperti kelapa, kedelai, bunga matahari, atau jarak. Sebagai peneliti, saya melihat alternatif tersebut memang ada, tetapi tidak sesederhana mengganti satu tanaman dengan tanaman lain. 

  • Kelapa potensial dan sudah lama dibudidayakan. Namun banyak kebun kelapa kita sudah tua dan produktivitasnya rendah.
  • Kedelai bisa menghasilkan minyak, tetapi Indonesia bukan produsen kedelai besar.
  • Bunga matahari populer, namun produksinya musiman dan belum cocok luas untuk kondisi tropis basah.
  • Jarak dan nyamplung menjanjikan untuk energi (non-pangan), tetapi industrinya belum mapan.

Artinya, alternatif lebih realistis sebagai pelengkap, bukan pengganti total dalam waktu dekat.

Jalan Tengah: Perbaiki Sawit, Bangun Diversifikasi

Menurut saya, solusi yang lebih masuk akal adalah bukan “mematikan sawit”, melainkan menata ulang sistem minyak nabati Indonesia.

Ada tiga langkah yang perlu diprioritaskan: 

  1. Benahi tata kelola sawit Lindungi sempadan sungai, cegah pembukaan lahan rentan, dan perketat pengawasan lingkungan.
  2. Naikkan produktivitas tanpa ekspansi Replanting kebun tua dan pendampingan sawit rakyat penting agar produksi meningkat tanpa membuka lahan baru.
  3. Kembangkan sumber minyak nabati lain Kelapa dan tanaman minyak lokal lain perlu didorong sebagai diversifikasi, agar ketahanan pangan tidak bergantung pada satu komoditas.

Penutup

Mengkritik sawit itu wajar, tetapi kebijakan harus berbasis realitas. Kebutuhan minyak goreng dan minyak nabati tetap besar. Jika sawit dikurangi tanpa strategi, risikonya jelas: harga naik, impor meningkat, atau perluasan lahan bergeser ke tanaman lain.

Karena itu, yang paling penting adalah memastikan sawit dikelola lebih bertanggung jawab, sekaligus menyiapkan alternatif secara bertahap. Tujuannya sederhana: pangan cukup, lingkungan terjaga, dan petani tidak menjadi korban perdebatan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image