Terlalu Independen untuk Dicintai? Mitos Kemandirian dalam Relasi Romantis
Culture | 2026-01-28 12:01:16
Belakangan ini, kemandirian sering dipandang sebagai pencapaian hidup yang ideal. Mandiri secara ekonomi, emosional, dan dalam mengambil keputusan dianggap sebagai tanda kedewasaan. Banyak orang didorong untuk tidak bergantung pada siapa pun. Namun, di balik semangat itu, muncul satu pertanyaan yang kerap muncul diam-diam dalam relasi romantis. Apakah seseorang bisa menjadi terlalu independen untuk dicintai.
Pertanyaan ini sebenarnya bukan soal kemandirian itu sendiri, melainkan soal cara masyarakat memaknainya. Kemandirian sering dianggap sebagai sikap dingin dan tertutup. Orang yang mandiri kerap diasumsikan tidak membutuhkan cinta, kompromi, atau kehadiran orang lain. Akibatnya, mereka dipersepsikan sulit didekati, seolah tidak menyediakan ruang bagi relasi.
Dalam pandangan filsuf Jean-Paul Sartre, manusia tidak pernah sepenuhnya hidup sebagai dirinya sendiri. Ia juga hidup dalam bayang-bayang penilaian orang lain. Identitas seseorang kerap dibentuk oleh label sosial yang dilekatkan padanya. Dalam konteks ini, orang yang mandiri sering kali kehilangan kompleksitasnya sebagai manusia karena direduksi menjadi satu citra saja. Ia dianggap kuat, lalu disimpulkan tidak membutuhkan siapa pun.
Padahal, mandiri tidak sama dengan menolak cinta. Martin Buber melalui gagasannya tentang relasi antar manusia menjelaskan bahwa hubungan yang sehat justru terjadi ketika dua individu hadir sebagai pribadi yang utuh. Relasi tidak dibangun dari ketergantungan yang timpang, melainkan dari perjumpaan dua orang yang sama-sama mampu berdiri sendiri dan memilih untuk berjalan bersama.
Ada pepatah yang mengatakan, “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.” Relasi yang setara tidak lahir dari siapa yang lebih membutuhkan, melainkan dari keseimbangan. Namun dalam praktiknya, kemandirian sering dipersepsikan sebagai ancaman. Ketika seseorang tidak mudah bergantung, ia dianggap tidak memberi ruang. Padahal sering kali ruang itu ada, hanya tidak sesuai dengan ekspektasi lama tentang peran dalam hubungan.
Simone de Beauvoir pernah menulis bahwa banyak relasi gagal karena salah satu pihak ingin menjadi pusat, sementara yang lain diminta menyesuaikan diri. Dalam situasi seperti ini, kemandirian sering dianggap berlebihan, terutama ketika ia muncul pada perempuan. Label terlalu independen lebih sering mencerminkan kegelisahan sosial terhadap perubahan peran, bukan ketidakmampuan seseorang untuk mencintai.
Pepatah lama mengingatkan bahwa tidak ada gading yang tak retak. Orang yang mandiri tetap memiliki kerentanan, rasa ingin ditemani, dan kebutuhan untuk dipahami. Hanya saja, sisi itu sering tidak terlihat karena tertutup oleh citra kuat yang terlanjur dilekatkan. Ketika orang lebih sibuk menilai citra daripada mendengar manusia di baliknya, relasi pun kehilangan kedalaman.
Anggapan bahwa kemandirian dan cinta tidak bisa berjalan bersama sebetulnya adalah mitos. Cinta bukan tentang saling menyelamatkan, melainkan saling hadir. Seperti pepatah yang mengatakan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Prinsip ini justru mengandaikan dua orang yang sama-sama mampu, lalu memilih untuk saling membersamai.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu diubah bukan tingkat kemandirian seseorang, melainkan cara kita memandang cinta. Cinta tidak seharusnya menuntut seseorang mengecilkan dirinya agar bisa diterima. Ia seharusnya menjadi ruang perjumpaan dua individu yang utuh. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah seseorang terlalu independen untuk dicintai, melainkan apakah kita sudah cukup dewasa untuk mencintai tanpa merasa terancam oleh kemandirian orang lain.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
