Memaknai Seabad Gontor: Potret dari Luar
Eduaksi | 2026-01-25 19:39:28
Kunjungan silaturahmi ke Kampus Gontor 6 yang terletak di Pudahoa, Konawe Selatan, pada siang ini (25/1) memberikan memori yang terus hidup. Bahkan usai shalat Isya, tetap saja kenangan hari ini, begitu manis untuk dikenang.
Silaturahmi dapat terwujud atas budi baik kolega. Alumni Gontor yang saat ini ditugaskan di UNIDA. Bahkan pertemuan yang tidak pernah lagi terlaksana dengan adanya pandemi covid-19, justru bisa terhubung kembali dalam satu acara di Kemendikti Saintek (Jakarta) awal Januari ini. Ketika saya menghubungi untuk informasi narahubung dengan kampus 6, beliaupun memberi kabar bahwa wakil pengasuh seangkatan di Gontor.
Di tengah hamparan alam Sulawesi Tenggara, berdiri sebuah “menara” kalau menggunakan kata yang digunakan dalam judul novel A. Fuadi (2009). Menara itu, kini sedang bersiap menyongsong usia seabadnya dalam penanggalan Masehi.
Silaturahmi kami dengan Wakil Pengasuh — seorang alumni muda angkatan 2021 yang telah berdedikasi sejak kampus ini dibuka kembali — menjadi potret nyata dari sistem kaderisasi yang berjalan.
Beberapa waktu lalu, kita kehilangan atas wafatnya salah satu Tri Murti, allahuyarham Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Sebagai bagian dari sunnatullah, akan ada saatnya setiap kita akan berpulang ke rahmatullah. Namun, dalam mekanisme pendidikan Gontor, kader di setiap tingkatan, siap mengemban tugas kapanpun.
Kedisiplinan dan Marwah: Sambutan di Gerbang Pudahoa
Langkah kaki kami dari Andoolo (Konawe Selatan) dimulai saat matahari pagi masih bersahabat menyinari kawasan Pudahoa. Setibanya di gerbang utama, perhatian saya langsung tertuju pada para santri yang sedang bertugas piket.
Mereka tampil sederhana, dan tetap rapi bahkan memberi kesan profesional. Berbalut seragam standar Gontor: kemeja lengan panjang yang rapi dipadu dengan dasi yang terpasang presisi.
Saat kami melapor bahwa mau bertamu, tanpa banyak bicara namun penuh kesantunan, santri ini menyambut dan mengantarkan saya menuju kediaman Wakil Pengasuh. Gerak-gerik mereka yang tertata adalah representasi dari pendidikan karakter yang telah meresap menjadi insting.
Kedisiplinan yang tercermin dari cara mereka berpakaian dan berkomunikasi adalah "kartu nama" pertama yang memperkenalkan marwah pesantren kepada setiap tamu yang datang. Peristiwa ini bahkan juga menyamai bagaimana pegawai hotel menyambut tetamu.
Jejak Sejarah: Prakarsa Laode Kaimuddin
Kampus Gontor 6 Pudahoa memegang nilai historis karena merupakan cabang Gontor pertama di luar Pulau Jawa. Kehadirannya di tanah Sulawesi tidak lepas dari visi besar dan prakarsa Laode Kaimuddin, Gubernur Sulawesi Tenggara pada masanya.
Beliau memahami bahwa untuk membangun daerah, dibutuhkan mesin pencetak sumber daya manusia yang unggul secara intelektual dan kokoh secara spiritual. Sejak dibukanya kampus ini, Gontor Pudahoa telah menjadi menara pendidikan Islam di Indonesia Timur.
Kamipun mendapatkan maklumat dalam sesi obrolan siang ini bahwa sebagai kampus cabang pertama di Jawa, menjadi kesempatan menyukseskan “proyek” ini. Sehingga setelahnya, mekar cabang lain di Aceh, Poso, Lampung, dan berbagai tempat lainnya di luar pulau Jawa.
Gontor dan Semangat "Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan"
Membahas Gontor di usia satu abad ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa besar pada tahun 1958. Pada tahun tersebut, para Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor mengambil langkah monumental dengan menyerahkan pondok ini kepada umat Islam melalui Badan Wakaf.
Keputusan ini mengubah status kepemilikan Gontor dari milik keluarga menjadi milik umat secara kolektif. Inilah yang menjadi instumen sehingga Gontor mampu "Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan."
Dengan doktrin ini, Gontor tidak berafiliasi pada organisasi politik atau ormas tertentu; ia menjadi milik semua muslim. Independensi inilah yang memungkinkannya menjadi ekosistem intelektual yang murni, inklusif, dan fokus pada manajemen talenta muda.
Dalam pandangan kami sebagai orang luar, kini Gontor selain menjadi “brand” pendidikan Islam yang tidak terikat pada Ponorogo saja. Juga, Gontor menjadi milik dunia Islam dengan “label” sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dunia Islam yang inklusif.
Ikhlas sebagai Napas Perjuangan dan Jamuan Persaudaraan
Dalam diskusi hangat di kediaman Wakil Pengasuh, makna Ikhlas kembali dipaparkan bahwa itu sebagai jiwa pertama dari Panca Jiwa Gontor. Keikhlasan di sini bersifat sistemik: melibatkan Wakif yang melepas hartanya, Guru yang mendedikasikan ilmunya, Orang tua yang merelakan anaknya, hingga Santri yang tekun menimba ilmu.
Waktu terasa berjalan begitu cepat hingga kumandang adzan Dzuhur memanggil kami untuk bersimpuh di masjid. Keramahan tuan rumah memuncak pada jamuan makan siang yang penuh rasa kekeluargaan.
Sebelum langit mulai meredup menuju waktu Ashar, saya pun berpamitan, membawa pulang catatan berharga tentang pengabdian yang tulus. Bahkan dibekali hadiah, WARDUN edisi terakhir, serta kalender yang diterbitkan khusus sebagai kesyukuran sebada Gontor.
Penutup: Entitas Pendidikan Dunia Islam
Gontor kini bukan lagi sekadar nama sebuah desa di Ponorogo. Dengan puluhan santri yang tersebar di 20 kampus putra dan putri, Gontor telah bertransformasi menjadi entitas keilmuan internasional. Data WARDUN (edisi Vol. 78) menginformasikan saat ini 20.050 orang yang tersebar di 20 kampus. Didamping guru sebanyak 4.258
Sebagai orang yang memotret dari luar, kami melihat Gontor telah melampaui batas teritorial Indonesia; ia kini telah tumbuh menjadi entitas pendidikan milik dunia Islam. Dari sudut desa yang bernama Gontor, nilai-nilai kemandirian dan keikhlasan itu kini bergema juga ke Pudahoa (tanah yang menjadi rumah masyarakat Tolak), bahkan menara itu menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
