Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Logika yang Terfragmentasi

Sastra | 2026-01-21 20:00:54

Cerpen ini mengisahkan tentang perjalanan emosional seorang siswi jurusan Software Engineering (Rekayasa Perangkat Lunak) yang harus menghadapi kenyataan pahit di balik dinding Laboratorium Komputer sekolahnya. Berawal dari kekagumannya pada Arlan, seorang siswa jenius yang lebih mahir berkomunikasi dengan compiler daripada manusia, tokoh utama harus menelan kekecewaan saat pernyataan rasanya ditolak dengan alasan "luka lama" dan sistem hati yang masih butuh recovery.

Namun, seiring berjalannya waktu dan tekanan ujian kompetensi, logika yang semula tertata mulai mengalami crash. Kebenaran terungkap di saat yang paling menyakitkan—tepat di hari ulang tahunnya—bahwa alasan-alasan teknis yang diberikan Arlan hanyalah sebuah syntax error yang sengaja diciptakan untuk menutupi sebuah pengkhianatan. Arlan ternyata melakukan redirect perasaannya kepada orang lain, meninggalkan tokoh utama dalam kondisi stuck di antara kepingan harapan yang hancur. Melalui proses error handling yang panjang dan menyakitkan, ia akhirnya belajar melakukan clean install pada hatinya, menghapus cache masa lalu, dan melakukan permanent delete terhadap sosok yang pernah memfragmentasi logikanya. Sebuah cerita tentang pendewasaan, integritas, dan keberanian untuk mematikan proses yang sudah tidak lagi memiliki hak akses dalam hidup.

Laboratorium Komputer 3 masih menyisakan aroma kabel terbakar dan hawa dingin dari AC yang menderu pelan. Di hadapanku, barisan kode PHP di layar monitor tampak seperti benang kusut yang enggan terurai. Sebagai siswa jurusan Software Engineering atau Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), aku terbiasa memperbaiki error, namun aku tidak pernah tahu cara memperbaiki suasana canggung di antara dua kursi yang berdekatan ini.

Di sampingku, duduk Arlan. Ia adalah tipikal siswa yang lebih suka berkomunikasi dengan compiler daripada manusia. Jari-jemarinya menari lincah di atas keyboard, mengetikkan baris demi baris syntax dengan kecepatan yang membuatku iri. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, seolah ada dinding kaca tebal yang memisahkannya dari hiruk-pikuk SMK ini.

"Lan, bagian looping ini kenapa masih index out of bounds ya?" tanyaku pelan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan. Aku sengaja mencari alasan agar bisa menatap matanya.

Arlan tidak langsung menoleh. Ia menekan tombol Enter dengan mantap sebelum akhirnya menggeser kursinya sedikit. "Cek lagi variabel batasnya. Kamu kurang teliti di bagian array-nya," jawabnya singkat tanpa nada.

"Oh, iya. Makasih," gumamku. Aku memberanikan diri melanjutkan, "Nanti pulang sekolah... ada waktu? Aku mau bicara soal yang kemarin."

Gerakan tangan Arlan terhenti. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti beban berat yang dipaksakan keluar. Ia akhirnya menatapku, namun tatapan itu terasa sangat jauh, seolah aku adalah sebuah bug yang tidak ingin ia perbaiki.

"Rin, aku sudah bilang kan?" suaranya merendah, nyaris berbisik agar tidak terdengar guru pengawas di depan. "Aku nggak mau terikat dalam kisah apa pun dulu. Hatiku sedang terkunci, dan kuncinya mungkin sudah hilang."

"Tapi kenapa? Apa karena masa lalumu?" desakku tertahan.

Arlan tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata—senyum yang menyembunyikan rahasia besar. "Ada luka yang belum recovery sempurna. Jangan dipaksa. Aku hanya akan merepotkanmu dengan rasa lelahku. Fokus saja ke ujian akhir kita."

Ia kembali menghadap monitor, melakukan deploy pada projeknya seolah percakapan kami baru saja di-delete dari memorinya. Di detik itu, di tengah bunyi klik mouse dan bisikan teman-teman sekelas, aku merasakan jarak yang diciptakannya bukan lagi sekadar metafora. Itu adalah jurang. Aku masih berdiri di sana, memegang harapan yang mulai terasa berat, sementara Arlan sudah jauh berada di balik sistem pertahanan yang ia bangun sendiri.

Minggu-minggu menjelang ujian kompetensi keahlian menjadi masa paling hectic. Laboratorium komputer sudah seperti rumah kedua, lengkap dengan tumpukan kabel LAN yang semrawut dan aroma kopi instan. Namun, bagi Arlan, tekanan ujian sepertinya menjadi alasan legal untuk menjadi semakin dingin. Ia sering kali bertindak ceroboh dalam berucap, seolah logikanya sedang crash akibat beban kerja yang berlebihan.

"Arlan, bisa bantu cek koneksi database-ku? Sepertinya ada yang salah dengan connection string-nya," pintaku suatu sore saat kami hanya berdua di lab.

Arlan mendengus, jemarinya masih sibuk melakukan debugging pada aplikasinya sendiri. "Cari sendiri di Stack Overflow, Rin. Aku bukan customer service-mu. Jangan manja hanya karena kita sering duduk bersebelahan."

Kalimat itu menamparku. Tajam dan tanpa filter. Aku terdiam, menelan pahitnya ucapan "sembarangan" yang belakangan sering ia lontarkan. Kelelahan yang ia bawa mulai merusak sisa-sisa rasa hormatku padanya.

Puncaknya terjadi di hari terakhir ujian praktikum. Hari yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan karena perjuangan tiga tahun di SMK akan berakhir. Sore itu juga bertepatan dengan hari ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan sebuah kado kecil, sebuah flashdisk berisi kumpulan foto dan lagu yang merangkum kenangan kami, berharap ia mau membuka sedikit celah di hatinya.

"Lan, selamat ya kita sudah selesai ujian. Dan... karena hari ini aku ulang tahun, aku mau kasih ini," kataku dengan tangan sedikit gemetar, menyodorkan kado itu di koridor sekolah yang mulai sepi.

Arlan menatap kado itu dengan pandangan sinis. "Ulang tahun? Rin, kamu tahu nggak kalau source code projekku tadi hampir corrupt gara-gara aku kepikiran gangguan-gangguan nggak penting darimu?"

"Gangguan? Aku cuma berusaha peduli, Lan," suaraku mulai serak.

"Pedulimu itu overhead, berat! Aku nggak butuh kado. Aku butuh ketenangan. Harusnya kamu sadar, alasan aku menolakmu itu bukan cuma soal masa lalu, tapi karena kamu terlalu berisik di hidupku yang ingin tenang," ucapnya tanpa ampun sebelum melangkah pergi, meninggalkanku membeku di bawah lampu koridor yang berkedip redup. Harapan ulang tahunku hancur, hancur berkeping-keping tanpa sempat aku rakit kembali.

Namun, pengkhianatan yang sesungguhnya baru terungkap seminggu kemudian.

Aku melihatnya di parkiran bawah pohon akasia. Arlan, sosok yang katanya "tak ingin terikat dalam berbagai kisah" dan "hatinya masih terkunci", sedang tertawa lepas. Di sampingnya, seorang siswi dari jurusan Multimedia menggandeng lengannya erat. Mereka tampak begitu sinkron, tanpa jarak, tanpa dinding kaca.

"Katanya belum bisa recovery, nyatanya cuma redirect ke hati yang lain," gumamku dalam hati yang mendadak perih.

Rasa sesak menjalar hebat. Ternyata alasan "luka lama" dan "tak ingin terikat" hanyalah sebuah syntax error yang sengaja ia buat untuk menutupi kebenaran bahwa ia memang tidak menginginkanku. Ia pergi dengan cinta barunya, menutup lembaran kami yang bahkan belum sempat diberi judul, meninggalkanku terpuruk dalam rasa dikhianati yang teramat dalam. Logikaku kini benar-benar terfragmentasi, hancur dalam potongan-potongan kecil yang tak lagi utuh.

Tiga minggu berlalu sejak insiden di parkiran itu, namun memori tentang tawa Arlan bersama perempuan lain masih ter- render sempurna di otakku, berputar secara infinite loop yang menyakitkan. Sore itu, aku terpaksa kembali ke Laboratorium Komputer 3 untuk mengambil sertifikat kompetensi yang tertinggal. Keadaan lab sepi, hanya ada Arlan yang sedang merapikan beberapa unit PC di pojok ruangan.

Aku mencoba melangkah seolah ia hanyalah sebuah objek null dalam hidupku, namun ia justru mencegatku di depan pintu.

"Rin, tunggu. Aku dengar kamu mengajukan mutasi tempat magang pasca-kelulusan agar tidak satu kantor denganku?" tanyanya tanpa basa-basi. Wajahnya kembali datar, seolah ia tidak pernah menghancurkan hatiku di hari ulang tahunku kemarin.

Aku tertawa hambar, menatapnya tajam. "Kenapa? Bukannya itu yang kamu mau? Mengurangi overhead di hidupmu yang terlalu sibuk itu?"

"Jangan kekanak-kanakan. Kita ini profesional," balasnya dingin, suaranya naik satu oktav. "Keputusanmu itu tidak logis hanya karena masalah perasaan yang gagal kamu handle."

"Logis?" Suaraku meninggi, bergema di antara deretan monitor mati. "Kamu bicara soal logika setelah kamu melakukan hard delete pada semua harapanku dengan alasan palsu? Kamu bilang hatimu terkunci, Arlan! Kamu bilang butuh waktu untuk recovery! Tapi kenyataannya? Kamu cuma melakukan redirect ke orang lain sambil membiarkan aku stuck di dalam error yang kamu buat sendiri!"

Arlan melangkah maju, sorot matanya yang tajam seolah ingin melakukan debugging pada emosiku. "Aku tidak pernah berniat mengkhianatimu, Rin. Hanya saja, bersamamu itu melelahkan. Kamu selalu menuntut update perasaan setiap saat, sedangkan aku hanya ingin sistem hidupku berjalan stabil tanpa gangguan."

"Jadi itu alasan kamu bicara sembarangan di hari ulang tahunku? Merusak momenku hanya karena kamu tidak sanggup mengakui kalau kamu sudah punya user baru di hatimu?" Air mataku luruh, namun aku tidak menunduk. "Kamu bukan sekadar tidak ingin terikat, Arlan. Kamu itu pengecut yang membungkus kebohongan dengan istilah 'luka lama'. Kamu membiarkan aku merasa bersalah karena telah 'merepotkanmu', padahal kamu hanya sedang mencari shortcut untuk pergi dariku."

Arlan terdiam, napasnya memburu. Untuk pertama kalinya, aku melihat sistem pertahanannya crash. Tidak ada syntax yang bisa ia ucapkan untuk membela diri. Kebenaran bahwa ia telah bermain-main dengan perasaanku kini terpampang nyata seperti log error yang memenuhi layar.

"Aku membencimu, Lan. Bukan karena kamu tidak mencintaiku," bisikku dengan suara bergetar namun tegas. "Tapi karena kamu merusak logikaku, membuatku mempertanyakan harga diriku sendiri demi seseorang yang bahkan tidak punya integritas untuk jujur. Sekarang, silakan jalankan hidupmu dengan cinta barumu. Aku sudah selesai melakukan terminate pada semua proses tentang kita."

Aku melangkah melewatinya, meninggalkan Arlan yang mematung di tengah keremangan lab. Di luar, langit mendung seolah bersiap melakukan clean install pada semesta, dan aku tahu, meski hatiku terfragmentasi, ini adalah langkah pertama untuk melakukan defragmenting—menyusun kembali kepingan diriku yang sempat berantakan karenanya.

Satu bulan setelah kelulusan, aku kembali ke sekolah hanya untuk melegalisir ijazah. Koridor SMK yang dulu terasa penuh kenangan kini bagiku tak lebih dari sekadar deretan ubin yang harus kulewati secepat mungkin. Aku melihat Arlan di kejauhan, sedang duduk di bangku taman bersama kekasih barunya. Mereka tampak sedang mendiskusikan sesuatu di layar laptop, sebuah pemandangan yang dulu sangat kuimpikan menjadi bagian dari rutinitas kami. Namun, anehnya, heart rate-ku tetap stabil. Tidak ada lagi debaran menyesakkan, hanya ada kekosongan yang damai.

Aku segera memalingkan wajah, bukan karena takut, melainkan karena aku telah melakukan uninstall total terhadap segala ekspektasi. Aku merogoh ponsel, jemariku bergerak pasti menuju daftar kontak. Aku menekan profilnya, lalu memilih opsi block. Satu klik, dan seluruh aksesnya ke hidupku resmi terminated.

"Rin! Tunggu!" suara itu memecah keheningan koridor. Aku menoleh dan mendapati Arlan berlari kecil mengejarku, meninggalkan gadis itu sejenak.

Aku berhenti, menatapnya dengan ekspresi paling default yang kupunya. "Ada apa lagi, Lan? Aku buru-buru."

Arlan tampak ragu, ia mengusap tengkuknya—gestur yang dulu kukira adalah tanda kecemasan yang manis, namun kini aku tahu itu hanyalah tanda ia sedang mencari script kebohongan baru. "Aku cuma mau bilang... soal semua yang terjadi di lab waktu itu. Aku minta maaf kalau kata-kataku terlalu harsh. Aku cuma nggak tahu cara handling situasi yang complicated."

Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini benar-benar tulus karena aku sudah tidak peduli. "Sudahlah, Lan. Kamu nggak perlu melakukan patching pada sesuatu yang sudah hancur. Lagipula, logikaku sudah kembali sinkron. Kamu benar, bersamaku mungkin memang overhead buatmu, tapi itu karena kapasitasmu memang tidak pernah cukup untuk menampung ketulusanku."

"Rin, bukan gitu maksudku—"

"Cukup, Arlan," potongku tegas. "Kamu sudah punya user baru, kan? Fokus saja di sana. Jangan sampai kamu membuat bug yang sama di hidupnya. Aku sudah melakukan lost contact bukan karena aku benci setengah mati, tapi karena aku butuh clean install untuk hidupku sendiri. Aku butuh ruang untuk tersenyum lagi tanpa bayangmu yang memenuhi cache memoriku."

Arlan terdiam, mulutnya terkatup rapat seolah ia baru saja kehilangan hak akses untuk mendebatku. Aku berbalik, melangkah menjauh dengan kepala tegak. Di gerbang sekolah, aku menghirup napas dalam-dalam. Rasanya lega, seperti sebuah sistem yang baru saja selesai melakukan defragmenting; semua kepingan diriku yang sempat terfragmentasi dan berantakan karena ulahnya, kini kembali tersusun rapi di tempatnya masing-masing.

Aku mengeluarkan flashdisk yang dulu ingin kuberikan padanya sebagai kado ulang tahun. Tanpa ragu, aku memasukkannya ke tempat sampah di depan gerbang. Aku tidak butuh backup dari masa lalu yang beracun. Kini, aku siap menulis baris kode baru untuk masa depanku, sebuah program hidup yang jauh lebih stabil, lebih bahagia, dan pastinya tanpa ada satu pun syntax tentang Arlan di dalamnya. Biarlah waktu yang menjadi compiler terbaik untuk menyembuhkan luka ini hingga benar-benar pulih tanpa sisa.

Enam bulan telah berlalu sejak hari di mana aku membuang flashdisk itu di depan gerbang sekolah. Kini, hidupku berjalan dengan operating system yang jauh lebih stabil. Aku bekerja sebagai Junior Web Developer di sebuah startup teknologi di pusat kota. Ruang kerjaku bukan lagi Laboratorium Komputer 3 yang pengap, melainkan sebuah kantor dengan konsep open space yang luas, memberikan ruang bagi logikaku untuk bernapas tanpa sesak.

Sore itu, jemariku sedang sibuk melakukan debugging pada sebuah modul e-commerce ketika sebuah notifikasi e-mail muncul di sudut layar. Nama pengirimnya membuat gerakanku terhenti sejenak: Arlan Syailendra.

Aku terdiam, menatap baris subjek yang tertulis singkat: “Final Documentation & Apology”. Hatiku tidak lagi berdegup kencang seperti dulu saat mengalami system crash. Aku membukanya dengan tenang, seolah sedang membaca documentation teknis biasa.

"Rin, aku tahu aku sudah di-block dari semua media sosialmu, dan aku menghargai itu. Aku hanya ingin mengirimkan file projek akhir kita yang dulu sempat korup. Aku sudah memperbaikinya. Anggap saja ini penutup dari log error yang pernah kubuat. Aku baru sadar, selama ini aku hanyalah programmer bodoh yang terlalu fokus pada fungsionalitas sampai lupa pada user interface hati. Maaf telah menjadi bug terburuk dalam hidupmu. Kamu benar, kapasitasmu terlalu besar untuk sistemku yang sempit."

Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap ke luar jendela kaca besar yang menampilkan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Tiba-tiba, seorang rekan kerja, Satya, menghampiri mejaku sambil membawa dua cup kopi.

"Masih berkutat dengan logic yang error, Rin?" tanya Satya sambil meletakkan kopi di samping laptopku.

Aku tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar genuine. "Tidak, Sat. Barusan aku cuma sedang melakukan permanent delete pada file sampah yang memenuhi storage."

Satya tertawa kecil, ia menarik kursi di dekatku. "Baguslah. Lagipula, buat apa menyimpan legacy code yang sudah tidak bisa di-maintain, kan? Lebih baik kita fokus ke deployment projek baru minggu depan."

"Kamu benar," jawabku mantap. Aku menutup tab e-mail tersebut tanpa berniat membalasnya. Tidak perlu ada feedback untuk seseorang yang sudah menjadi null dalam hidupku.

Aku meraih kopi itu, merasakan hangatnya menjalar di telapak tangan. Aku teringat kembali pada masa-masa di SMK, pada rasa sakit yang dulu terasa seperti infinite loop. Ternyata, pelajaran terpenting dari jurusan RPL bukanlah tentang seberapa jago kita melakukan coding, melainkan tentang bagaimana kita melakukan error handling terhadap perasaan kita sendiri.

"Sat," panggilku sebelum ia beranjak.

"Ya?"

"Terima kasih kopinya. Rasanya jauh lebih baik daripada overhead yang pernah kupunya dulu."

Satya mengerutkan kening, bingung dengan istilahku. "Sama-sama. Tapi, Rin, sejak kapan kamu bicara soal overhead sambil tersenyum tenang begitu?"

"Sejak aku berhasil melakukan clean install di hatiku," jawabku ringan.

Malam itu, aku pulang dengan perasaan yang sangat ringan. Di dalam bus yang membelah kemacetan kota, aku melihat bayanganku di jendela. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis yang menangis di koridor sekolah. Logikaku tidak lagi terfragmentasi; ia telah menyatu, menjadi sebuah sistem yang tangguh dan mandiri. Arlan kini hanyalah sebuah variabel yang sudah tidak lagi dideklarasikan. Aku sudah siap untuk go live dengan hidupku yang baru, tanpa bayang-bayang masa lalu yang merusak sintaksis kebahagiaanku.

Pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang seberapa banyak syntax yang kita hafal atau seberapa cepat kita melakukan deployment sebuah aplikasi. Pelajaran terbesar yang kupetik dari lorong sunyi SMK dan dinginnya Laboratorium Komputer 3 adalah tentang integrity dalam sebuah hubungan. Aku belajar bahwa seseorang bisa saja memiliki logic yang jenius, namun tetap gagal dalam tahap user acceptance test di kehidupan nyata karena tidak memiliki kejujuran.

Cinta yang dipaksakan hanya akan menjadi dead code—baris program yang ada namun tidak pernah dijalankan, hanya memenuhi storage dan memperlambat langkah kita. Jangan pernah membiarkan dirimu terjebak dalam infinite loop kesedihan hanya karena seseorang melakukan redirect perasaannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa setiap individu adalah administrator atas hatinya sendiri; kita punya hak penuh untuk melakukan terminate pada proses yang merusak, melakukan uninstall pada memori yang beracun, dan menjalankan clean install untuk memulai lembaran baru yang lebih stabil.

Kini aku paham, sebuah luka tidak perlu di-patching berkali-kali jika sumber bug-nya memang ada pada orang yang salah. Terkadang, cara terbaik untuk memperbaiki sistem hidup yang crash adalah dengan melakukan hard reset dan berani melangkah pergi. Biarkan masa lalu menjadi legacy system yang cukup untuk dikenang sebagai pelajaran, bukan untuk dijalankan kembali. Karena pada setiap error handling yang kita lalui dengan tegar, di sanalah kita sedang membangun source code kedewasaan yang jauh lebih tangguh dari sebelumnya. Kini, sistemku telah up and running, siap menghadapi masa depan tanpa gangguan malware bernama masa lalu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image