Sinkhole, Viral, dan Jarak yang Dibuat Bahasa
Gaya Hidup | 2026-01-21 12:56:05Oleh Wuri Syaputri
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Ilustrasi gambar dibuat oleh AI
Ketika berita tentang sinkhole muncul di berbagai media, banyak orang langsung membayangkan lubang besar yang tiba-tiba menelan jalan, rumah, atau kendaraan. Namun, tidak sedikit pula yang berhenti sejenak dan bertanya-tanya apa sebenarnya sinkhole itu. Kata asing tersebut terdengar teknis dan ilmiah, serta tanpa disadari menciptakan jarak antara peristiwa dan pembaca.
Fenomena ini menarik jika dibaca dari sudut pandang bahasa. Pilihan kata dalam pemberitaan bukan hanya soal ketepatan istilah, tetapi juga kedekatan makna. Kata sinkhole tidak lahir dari bahasa sehari-hari masyarakat Indonesia. Ia hadir sebagai istilah impor yang digunakan secara utuh tanpa adaptasi. Akibatnya, peristiwa yang sebenarnya dekat secara geografis bisa terasa jauh secara emosional.
Bandingkan jika media menggunakan frasa tanah ambles atau tanah amblas. Kata-kata ini hidup dalam bahasa sehari-hari. Ia mudah dibayangkan dan terasa akrab. Namun, ketika diganti dengan sinkhole, peristiwa yang sama terasa lebih teknis dan dingin. Bahasa menggeser fokus dari pengalaman manusia ke fenomena geologis.
Dalam linguistik, hal ini berkaitan dengan pilihan leksikal. Setiap kata membawa latar pengetahuan dan muatan emosional tertentu. Fairclough (1995) menjelaskan bahwa bahasa media tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga membingkainya melalui pilihan kosakata. Istilah asing sering memberi kesan objektif dan netral, tetapi sekaligus berpotensi mengaburkan pengalaman manusia yang terdampak langsung. Bencana berubah menjadi peristiwa teknis, bukan cerita sosial.
Fenomena serupa juga terlihat dalam kasus-kasus viral yang melibatkan individu. Nama seseorang, misalnya Aurellie, tiba-tiba menjadi kata kunci dalam pemberitaan dan percakapan daring. Nama tersebut tidak lagi merujuk pada individu dengan kehidupan personal, melainkan pada kasus, posisi, atau narasi tertentu. Bahasa mengubah nama menjadi label.
Ketika sebuah nama digunakan berulang-ulang dalam judul berita dan kolom komentar, konteks personalnya perlahan hilang. Nama itu menjadi simbol. Dalam wacana publik, simbol jauh lebih mudah diperdebatkan daripada manusia nyata. Bahasa memungkinkan publik menyampaikan penilaian keras tanpa merasa sedang berbicara tentang seseorang yang memiliki kehidupan di luar layar.
Dalam analisis wacana kritis, proses ini dikenal sebagai reduksi identitas. Van Dijk (1998) menjelaskan bahwa media kerap menyederhanakan individu menjadi representasi tertentu agar narasi mudah dikonsumsi. Akibatnya, empati sering tersisih oleh opini, dan kompleksitas pengalaman manusia tereduksi menjadi satu label.
Kata viral sendiri juga patut dicermati. Istilah ini berasal dari ranah biologi, tetapi kini digunakan untuk menjelaskan penyebaran informasi. Dalam praktik bahasa media, viral memberi kesan bahwa sebuah peristiwa menyebar dengan sendirinya, tanpa campur tangan manusia. Padahal, ada pilihan editorial, algoritma platform, dan respons pengguna di balik penyebaran tersebut. Bahasa, dalam hal ini, menyembunyikan agen.
Dalam berita tentang sinkhole maupun kasus viral individu, bahasa media cenderung mengutamakan istilah yang ringkas dan mudah dicari. Namun, ringkas tidak selalu berarti dekat. Istilah teknis dan label populer memang mempercepat penyebaran berita, tetapi sekaligus memperlebar jarak emosional antara pembaca dan subjek berita.
Hal ini tampak jelas dalam kolom komentar. Banyak orang berdebat tentang istilah, kronologi, atau posisi hukum, tetapi relatif sedikit yang membicarakan pengalaman orang-orang yang terdampak langsung. Arah percakapan publik sangat dipengaruhi oleh bahasa awal yang digunakan media untuk membingkai peristiwa.
Bahasa juga memengaruhi rasa urgensi. Sinkhole terdengar sebagai fenomena langka dan spesifik. Tanah amblas terdengar sebagai risiko yang mungkin terjadi di mana saja. Pilihan kata menentukan apakah publik memandang peristiwa sebagai masalah bersama atau sekadar kejadian aneh yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di sinilah pentingnya kesadaran berbahasa dalam pemberitaan. Bahasa bukan hanya alat penyampai informasi, tetapi juga alat framing. Ia dapat mendekatkan pembaca pada pengalaman manusia, atau justru menjauhkan dengan istilah yang terasa asing dan teknis.
Hal ini tidak berarti istilah asing atau teknis harus dihindari sepenuhnya. Namun, bahasa perlu diberi jembatan makna. Ketika istilah tidak dijelaskan atau dipadankan dengan bahasa yang akrab, publik dipaksa menerima kata tanpa pemahaman yang utuh. Akibatnya, peristiwa terasa seperti tontonan, bukan pengalaman sosial yang menuntut perhatian bersama.
Pada akhirnya, berita tentang sinkhole dan kasus viral individu mengingatkan kita bahwa dalam masyarakat yang hidup dari arus informasi cepat, bahasa memiliki peran besar dalam menentukan apa yang terasa dekat dan apa yang terasa jauh.
Mungkin, sebelum bertanya apa yang sebenarnya terjadi, kita perlu bertanya lebih dulu satu hal sederhana: kata apa yang digunakan untuk menceritakannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
