Pemuda Beriman atau Generasi Sibuk tapi Kehilangan Arah?
Khazanah | 2026-01-20 07:21:42Bonus demografi sering disebut sebagai peluang emas bangsa. Namun pertanyaannya: bonus bagi siapa? Tanpa arah nilai, jumlah pemuda justru bisa menjadi beban sejarah. Dimasukkannya Islam sejak awal memberikan pedoman yang sangat jelas—pemuda bukan sekadar aset demografi, melainkan penjaga peradaban.
Al-Qur'an tidak menampilkan pemuda sebagai figur pasif. Kisah Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi: 10–13) menunjukkan bahwa pemuda beriman adalah agen perubahan yang berani melawan arus mayoritas. Mereka tidak menunggu sistem ideal; mereka memulai dari keteguhan iman.
Ironisnya, pemuda hari ini hidup di era keterbukaan informasi, namun justru mengalami krisis orientasi. Aktivisme sering kehilangan nilai. Kebebasan kehilangan batas. Dan semangat perubahan tercerabut dari fondasi spiritual. Banyak yang lantang berbicara tentang keadilan, tapi lupa membangun kedekatan dengan Allah.
Padahal Nabi Muhammad ﷺ telah memberi indikator tegas kualitas pemuda. Dalam hadits tujuh golongan, hanya satu kriteria: pemuda yang tumbuh dalam ibadah. Ini bukan simbol kesalehan individu semata, tetapi penanda karakter—disiplin, tangguh, dan berprinsip.
Hadits syabaabaka qabla haramika juga menegaskan urgensi waktu. Masa muda bukan sekedar fase eksplorasi tanpa tanggung jawab, melainkan periode strategi pembentukan arah hidup. Pemuda yang gagal mengelola masa mudanya yang sejati sedang menyiapkan penyesalan panjang.
Jika pemuda kehilangan iman, maka ilmu kehilangan arah, kekuatan kehilangan kendali, dan perubahan kehilangan makna. Oleh karena itu, membicarakan masa depan bangsa tanpa membicarakan kualitas iman pemudanya adalah ilusi.
Islam tidak menuntut pemuda menjadi malaikat. Islam menuntut pemuda menjadi manusia beriman yang sadar peran. Belajar sungguh-sungguh, berorganisasi dengan nilai, aktif di masyarakat dengan akhlak, dan beribadah dengan konsistensi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah pemuda mampu, tetapi apakah pemuda mau. Mau hidup dengan nilai atau sekadar mengikuti tren. Mau menjadi penentu arah atau hanya produk zaman.
Dan sejarah selalu mencatat pilihan itu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
