Langkah Berat yang Kelak Menjadi Penyelamat
Khazanah | 2026-01-19 21:53:32
Di tengah gelapnya malam, ketika kebanyakan manusia memilih terlelap atau larut dalam hal-hal yang tak bernilai, Allah justru membuka penawaran yang sangat mahal: cahaya. Bukan cahaya biasa, melainkan cahaya sempurna yang akan menyelamatkan langkah manusia pada hari ketika seluruh sumber terang di dunia padam. Sayangnya, banyak dari kita justru menukar kesempatan emas ini dengan kelelahan tanpa makna dan waktu yang terbuang sia-sia.
Salah satu kerugian besar manusia adalah menyia-nyiakan malam—waktu yang Allah pilih sebagai saat paling sunyi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Padahal, malam menyimpan peluang besar untuk tadarus Al-Qur’an, shalat, dan bermunajat ketika sebagian besar manusia tertidur. Lebih dari itu, Allah Ta’ala menjanjikan ganjaran luar biasa bagi mereka yang melangkahkan kaki ke masjid di tengah gelapnya malam, khususnya untuk shalat Isya dan Subuh berjamaah.
Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gembira ini dengan sangat jelas:
“Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di malam gelap menuju masjid, bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Cahaya yang sempurna di hari kiamat bukanlah imbalan yang sepele. Ia jauh lebih berharga daripada gaji malam, lembur panjang, atau kesibukan dunia yang sering kita banggakan. Bahkan dalam sejarah Islam, cahaya itu pernah Allah tampakkan di dunia. Imam Al-Bukhari meriwayatkan kisah dua sahabat Nabi ﷺ yang pulang dari sisi Rasulullah pada malam yang sangat gelap, lalu Allah menghadirkan cahaya seperti lampu yang menerangi langkah mereka hingga ke rumah masing-masing.
Kisah ini bukan sekadar cerita keajaiban, tetapi pesan keimanan: Allah mampu menerangi jalan hamba-Nya yang taat, baik di dunia maupun di akhirat.
Shalat Subuh, secara khusus, memiliki kedudukan yang sangat agung. Ia adalah sumber dari segala sumber cahaya pada hari kiamat. Pada hari itu, matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, dan seluruh alam semesta kehilangan sinarnya. Allah Ta’ala berfirman:
“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan.”
(QS. At-Takwir: 1–2)
Manusia dibangkitkan dalam keadaan gelap gulita—gelap yang berlapis-lapis. Di saat itulah cahaya menjadi kebutuhan paling mendesak, terutama ketika harus melewati shirath, jembatan akhirat yang tajam dan mengerikan. Tidak ada yang mampu melintasinya kecuali mereka yang Allah kehendaki, dan salah satu bekalnya adalah cahaya amal ketaatan.
Karena itu, melangkah ke masjid bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi investasi akhirat yang menentukan. Setiap langkah kaki di malam gelap, setiap rasa berat yang dilawan, semuanya akan berubah menjadi cahaya penolong di hari yang paling menentukan.
Agar langkah itu semakin bermakna, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa yang indah saat menuju masjid—doa permohonan cahaya yang menyeluruh: cahaya di hati, di lisan, di pendengaran, di penglihatan, dari depan dan belakang, dari atas dan bawah. Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi pengakuan bahwa manusia tak mampu berjalan tanpa cahaya dari Allah.
Pada akhirnya, hidup ini adalah perjalanan. Dan setiap perjalanan membutuhkan arah serta penerang. Siapa yang membiasakan dirinya berjalan menuju masjid di gelapnya malam, sesungguhnya sedang menyiapkan cahaya untuk perjalanan terpanjangnya kelak. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tak takut gelap, karena yakin cahaya-Nya selalu menanti.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
