Di Bawah Bayang-Bayang Suro: Pusaka dan Penantian Sang Warok
Sastra | 2026-01-19 09:49:23
Cerpen ini mengisahkan tentang pergulatan batin dan spiritual di balik kemegahan perayaan Grebeg Suro di Ponorogo. Fokus cerita berpusat pada hubungan antara Lasmono, seorang Warok sepuh yang memegang teguh nilai kesakralan tradisi, dan cucunya, Bayu, yang awalnya memandang ritual tersebut hanya sebagai komoditas wisata dan agenda rutin tahunan pemerintah. Di tengah hiruk-pikuk festival dan strategi promosi daerah, sebuah konflik magis muncul ketika pusaka Kyai Pamungkas bergetar hebat, menandakan adanya ketidakselarasan antara perayaan fisik dan kesucian niat.
Melalui perjalanan tirakatan dan ritual ider bumi, Bayu dipaksa untuk memilih antara larut dalam hingar-bingar modernitas atau menyelami esensi ngalap berkah yang sesungguhnya. Cerita ini tidak hanya menonjolkan sisi mistis seperti larungan sesaji dan kirab pusaka, tetapi juga mengangkat nilai-nilai sosial, gotong royong, serta efek ganda ekonomi bagi para pedagang kaki lima yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tersebut. Narasi ini ditutup dengan kesadaran bahwa Grebeg Suro adalah simbol syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa yang mampu menyatukan elemen religius Islam dengan kearifan lokal dalam harmoni manunggaling kawula gusti.
Malam menyelimuti Bumi Reog dengan aura yang berbeda dari biasanya; lebih berat, seolah udara mengandung serbuk mistis yang tumpah dari langit bulan Muharram. Di sebuah pelataran rumah kayu jati yang menghitam dimakan usia, kepul asap kemenyan menari-nari meliuk di antara barisan keris yang berjajar di atas nampan kayu. Angin pegunungan yang turun dari arah Telaga Ngebel membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun bagi Lasmono, seorang Warok sepuh yang masih memegang teguh adat kejawen, dingin itu adalah sapaan dari para leluhur. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara selompret Reog yang melengking, memecah kesunyian malam menjelang ritual Grebeg Suro.
Lasmono menatap tajam ke arah seorang pemuda di hadapannya yang tampak gelisah. Bayu, cucunya, adalah representasi dari generasi yang hampir kehilangan jati diri jika Bupati Soebarkah tidak mencetuskan ide pelestarian budaya ini berpuluh tahun silam.
"Ingatlah, Bayu, Grebeg Suro itu bukan sekadar tontonan atau festival untuk mencari riuh rendahnya tepuk tangan," suara Lasmono berat, serak namun berwibawa, memecah kesunyian. Ia mengusap sebilah pusaka dengan kain sutra putih yang dibasahi air bunga. "Ini adalah cara kita tirakatan. Sebuah jalan sunyi untuk mengucap syukur kepada Sang Khalik dan menghormati mereka yang membuka tanah ini sebelum kita ada."
"Tapi Kek, bukankah sekarang semua sudah menjadi agenda wisata? Orang-orang datang hanya untuk melihat larungan sesaji dan parade di alun-alun," sahut Bayu sambil membetulkan letak penadon yang dikenakannya. Ada nada keraguan dalam suaranya, terjepit di antara logika modern dan tarikan magis tradisi.
Lasmono terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan kayu tua. "Biarkan pemerintah dengan strategi promosi mereka. Biarkan para pedagang kaki lima mencari rezeki dari keramaian itu—itu adalah bagian dari nilai sosial dan ekonomi yang memang harus tumbuh. Namun bagi kita, inti dari malam satu suro adalah ider bumi. Kita berkeliling, menjaga kota ini dengan doa, bukan hanya dengan kaki."
Malam semakin larut. Di pusat kota, ribuan orang mulai memadati alun-alun, menunggu puncak acara Kirab Pusaka. Cahaya obor mulai terlihat berparade di kejauhan, menciptakan bayangan raksasa di dinding-dinding kota seolah para warok dari masa lalu ikut turun ke jalan. Atmosfer spiritual begitu kental; perpaduan antara nuansa religius Islam yang menyambut tahun baru Hijriah dan mistisisme Jawa yang kental.
"Bersihkan hatimu sebelum kau ikut melangkah ke alun-alun," bisik Lasmono lagi, matanya kini terpejam rapat seolah sedang melakukan ritual doa dalam batin. "Setiap langkah dalam Grebeg Suro adalah doa. Jangan sampai kakimu bergerak, tapi jiwamu tertinggal di rumah."
Bayu terdiam. Ia merasakan getaran aneh yang menjalar dari telapak kakinya yang menyentuh tanah Ponorogo. Di depannya, sang kakek masih terpaku, menjadi jembatan antara masa lalu yang sakral dan masa depan yang penuh hingar-bingar, memulai sebuah malam panjang yang akan menentukan apakah tradisi ini tetap menjadi jiwa, atau sekadar menjadi komoditas semata.
Hingar-bingar di Alun-alun Ponorogo terdengar seperti dengung lebah raksasa dari kejauhan, namun di pelataran Lasmono, kesunyian justru terasa menekan. Saat jam menunjukkan angka yang mendekati tengah malam, sebilah pusaka utama milik keluarga—sebuah keris luk tujuh bernama Kyai Pamungkas—tiba-tiba bergetar hebat di atas nampan. Bunyi gesekan logam dengan kayu jati itu memicu ketegangan yang seketika membekukan gerakan Bayu.
"Kek... kerisnya," bisik Bayu dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya obor yang bergoyang ditiup angin.
Lasmono membuka mata. Sorot matanya yang semula tenang kini menajam, memancarkan wibawa seorang Warok sejati. Ia melihat asap kemenyan tidak lagi meliuk lembut, melainkan berputar membentuk pusaran kecil, seolah-olah ada sesuatu yang sedang meronta di dimensi lain.
"Ambil penadon-mu dengan kencang, Bayu! Tirakatan malam ini tidak akan semudah tahun-tahun sebelumnya," perintah Lasmono tegas. Ia berdiri, tubuh rentanya mendadak tampak tegap. "Ada yang tidak selaras. Grebeg Suro bukan sekadar pesta, tapi penyeimbang jagat. Jika hati orang-orang di alun-alun sana hanya dipenuhi keserakahan dan pamer, maka sing nunggu (penghuni gaib) tanah ini akan menuntut penghormatan yang lebih."
"Maksud Kakek, ritual larungan sesaji nanti bisa gagal?" tanya Bayu sambil tergesa mengikuti langkah kakeknya menuju pusat kota.
"Bukan sekadar gagal, Bayu. Jika jiwa ider bumi kita kalah oleh niat yang kotor, maka berkah akan berubah menjadi memala (petaka). Pusaka ini tidak pernah bergetar kecuali ada ketidaktulusan yang besar di tengah kerumunan," sahut Lasmono sambil menyampirkan kain jarik di bahunya.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalanan setapak menuju Alun-alun. Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan rombongan Pawai Lintas Sejarah. Namun, bagi penglihatan batin Lasmono, di antara kerumunan pemuda yang menari Reog dengan gagah, ia melihat bayangan hitam yang mencoba menyelinap. Bayu, yang mulai merasakan sensitivitas magis karena darah kakeknya, merasa bulu kuduknya berdiri.
"Kek, lihat di sana! Kenapa orang-orang itu seolah kehilangan kesadaran?" Bayu menunjuk ke arah sekumpulan penonton yang merangsek maju terlalu dekat ke barisan Kirab Pusaka, hingga hampir mengacaukan barisan para sesepuh.
"Itu yang kukhawatirkan. Mereka mabuk oleh hingar-bingar, lupa pada esensi ngalap berkah yang suci. Mereka menganggap ini hanya panggung sandiwara!" Lasmono merangsek maju, membelah kerumunan.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala yang berantakan menghadang jalan mereka. Matanya merah, dan napasnya berbau alkohol—sebuah pelanggaran keras bagi seorang Warok yang seharusnya menjalani laku prihatin.
"Lasmono! Kenapa kau masih membawa besi tua itu berkeliling?" pria itu tertawa mengejek, menunjuk pada keris yang didekap Lasmono. "Zaman sudah berubah! Sekarang Grebeg Suro adalah tentang berapa banyak turis yang datang, berapa banyak uang yang masuk ke kantong kita dari pedagang kaki lima. Jangan sok suci dengan ritual kejawen-mu itu!"
Lasmono berhenti. Atmosfer di sekitar mereka mendadak mendingin hingga ke titik beku. "Suroto, kau telah menukar jiwa Ponorogo dengan lembaran kertas. Kau lupa bahwa tanpa rasa syukur kepada Sang Khalik, semua keramaian ini hanyalah debu yang akan ditiup angin."
"Persetan dengan syukur! Aku ingin kekuasaan di dewan kesenian!" Suroto berteriak, dan saat itu juga, lampu di sekitar Alun-alun berkedip padam. Angin kencang mendadak bertiup dari arah Telaga Ngebel, merobohkan beberapa tenda pameran ekonomi. Kepanikan mulai menjalar di wajah warga.
"Kek, apa yang harus kita lakukan?" Bayu berteriak di tengah suara angin yang melolong seperti tangisan harimau.
Lasmono menyerahkan Kyai Pamungkas yang masih bergetar ke tangan Bayu. "Pegang ini! Kau adalah darahku. Fokuskan pikiranmu pada doa, bukan pada rasa takut. Kita harus menyelesaikan ider bumi ini sampai ke titik pusat alun-alun sebelum tengah malam habis. Jika tidak, kesucian 1 Muharram di tanah ini akan ternoda oleh ambisi manusia-manusia seperti Suroto."
Bayu gemetar saat tangannya menyentuh hulu keris. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Di depannya, Suroto tampak seolah dirasuki kekuatan gelap, mencoba merebut pusaka itu.
"Jangan biarkan hatimu goyah, Bayu! Ingat, Grebeg Suro adalah simbol syukur, bukan ajang pamer kesaktian atau kekayaan!" seru Lasmono sambil merapal doa-doa dalam bahasa Jawa kuno yang berat.
Di tengah desakan ribuan orang yang mulai gaduh dan ancaman badai yang tak wajar, Bayu harus memilih: ikut berlari menyelamatkan diri bersama arus massa yang panik, atau tetap berdiri di samping kakeknya untuk menjaga kehormatan sebuah tradisi yang kini berada di ujung tanduk. Pusaka di tangannya terus berdenyut, seolah menanti jawaban atas penantian panjang sang Warok.
Tepat saat lonceng jam besar di kantor kabupaten berdentang dua belas kali, suasana Alun-alun Ponorogo berubah menjadi palagan antara yang sakral dan yang profan. Angin dari Telaga Ngebel bukan lagi sekadar membawa hawa dingin, melainkan menderu serupa ribuan suara selompret yang ditiup bersamaan secara sumbang. Bayu merasakan telapak tangannya melepuh saat memegang Kyai Pamungkas, namun ia teringat pesan kakeknya: Grebeg Suro adalah tentang keteguhan jiwa.
Suroto menerjang maju, tangannya yang hitam legam karena dendam mencoba meraih bilah pusaka itu. Di belakangnya, massa yang kehilangan kesadaran mulai saling sikut, mengacaukan barisan gunungan yang seharusnya menjadi simbol syukur.
"Lepaskan keris itu, Bayu! Tradisi ini sudah mati, yang tersisa hanyalah panggung sandiwara untuk keuntungan semata!" teriak Suroto dengan suara yang bukan lagi suara manusia.
Lasmono melangkah ke depan, tubuh rentanya memancarkan cahaya keperakan yang ganjil. Ia menghentakkan tongkat kayunya ke tanah, menciptakan getaran yang membungkam kebisingan sesaat.
"Suroto! Kau bicara tentang keuntungan ekonomi, tapi kau mengabaikan nilai sosial dan gotong royong yang membangun fondasi tanah ini!" Lasmono menghardik, matanya berkilat. "Pemerintah membuat agenda ini untuk melestarikan budaya, bukan untuk memuja ego! Kau mencemari kesucian 1 Muharram!"
"Cukup, Kek!" Bayu tiba-tiba berteriak, suaranya memecah ketegangan. Ia tidak lagi gemetar. Ia melangkah maju, memosisikan dirinya di antara Lasmono dan Suroto. "Aku mengerti sekarang. Selama ini aku menganggap Grebeg Suro hanya festival turis, tapi getaran pusaka ini... ini adalah denyut nadi leluhur yang menangis melihat kita bertengkar di atas tanah yang mereka perjuangkan."
Bayu mengangkat Kyai Pamungkas tinggi-tinggi. Bukannya menghunus, ia justru mendekap keris itu ke dadanya, lalu bersimpuh di aspal yang dingin. Ia mulai merapalkan doa syukur, bukan doa kesaktian.
"Ya Gusti, ini adalah wujud rasa syukur kami atas nikmat-Mu. Jika keramaian ini membuat kami lupa, maka ingatkanlah kami dengan kasih-Mu, bukan dengan murka-Mu," bisik Bayu lirih namun tegas.
Seketika, badai yang melolong itu mereda. Bayangan hitam yang menyelimuti Suroto menguap seperti embun terkena matahari. Pria itu jatuh terduduk, terengah-engah dengan tatapan kosong. Lampu-lampu Alun-alun kembali menyala satu per satu, menampakkan ribuan warga yang terdiam, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk kolektif.
Lasmono menghampiri cucunya, meletakkan tangan di bahu Bayu yang masih bersimpuh. "Kau telah menyelesaikan tirakatan-mu, Bayu. Kau tidak menjaga pusaka ini dengan otot, tapi dengan kerendahan hati. Itulah inti dari ider bumi yang sesungguhnya."
Di kejauhan, panitia mulai mengumumkan persiapan larungan sesaji. Suasana yang tadinya mencekam perlahan kembali menjadi hangat. Para pedagang kaki lima mulai kembali melayani pembeli, dan tawa anak-anak terdengar di sela-sela musik Reog yang kini terdengar lebih harmoni.
"Lihatlah," Lasmono menunjuk ke arah kerumunan. "Tradisi ini tetap hidup karena ia mampu menghidupi. Ada nilai ekonomi bagi mereka yang mencari nafkah, dan ada nilai spiritual bagi kita yang menjaga akar. Keduanya harus berjalan beriringan, seperti manunggaling kawula gusti."
Bayu berdiri, menyerahkan kembali Kyai Pamungkas yang kini telah tenang dan dingin. Ia melihat ke arah kerumunan dengan sudut pandang berbeda. Grebeg Suro bukan lagi sekadar pameran, melainkan sebuah ruang di mana sejarah, doa, dan harapan untuk masa depan menyatu dalam satu napas penghormatan kepada Sang Pencipta.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Ponorogo, menyisipkan warna keunguan di antara kabut yang menyelimuti puncak-puncak perbukitan sekitar Telaga Ngebel. Ketegangan semalam telah mencair, meninggalkan keheningan yang lebih jernih di hati Bayu. Prosesi Kirab Pusaka telah mencapai puncaknya, dan kini mereka berdiri di tepian telaga untuk prosesi terakhir: Larungan Sesaji.
Lasmono menatap permukaan air telaga yang tenang, memantulkan bayangan ribuan orang yang hadir dengan khidmat. "Lihatlah air itu, Bayu," bisik Lasmono sambil merapikan letak kolomancep di pinggangnya. "Dia tidak pernah menolak apa pun yang masuk ke dalamnya, namun dia tetap murni. Begitulah seharusnya seorang Warok memandang perubahan zaman."
Bayu mengangguk, ia merasakan beban Kyai Pamungkas di tangan kakeknya kini terasa lebih ringan, seolah pusaka itu telah menemukan kedamaiannya kembali. "Kek, aku tadi melihat Suroto di antara kerumunan. Dia ikut memanggul tumpeng pungkur dengan wajah yang jauh lebih tenang. Apakah dia sudah sadar?"
Lasmono tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kebijaksanaan kejawen. "Grebeg Suro itu ruwatan, Bayu. Bukan hanya meruwat jagat raya dari memala, tapi juga meruwat hati manusia dari angkara murka. Suroto hanya tersesat dalam ambisinya, namun getaran doa semalam telah memulihkan kesadarannya akan makna ngalap berkah yang sesungguhnya."
Di tengah keramaian, tampak dr. Faida dan para pejabat pemerintah bersiap melepaskan sesaji ke tengah telaga. Suasana religius begitu kental, perpaduan antara doa Islami yang memohon perlindungan kepada Allah SWT dan penghormatan luhur kepada tradisi nenek moyang.
"Ini yang kakek maksud dengan strategi pemerintah itu?" tanya Bayu sambil menunjuk ke arah barisan pedagang kaki lima yang tersenyum lebar karena dagangan mereka ludes terjual. "Nilai ekonomi yang bersanding dengan kesakralan?"
"Benar, Le," jawab Lasmono tegas. "Jangan kau pisahkan antara perut yang lapar dan jiwa yang haus. Pemerintah menyediakan wadahnya melalui festival ini agar budaya kita tidak luntur dimakan zaman. Para pedagang itu mendapatkan rezeki, para pemuda kembali mencintai Reog, dan kita—para penjaga tradisi—tetap memiliki ruang untuk tirakatan. Itulah wujud syukur yang menyeluruh, sebuah simbol syukur atas nikmat Tuhan yang tidak terbatas."
Saat sesaji perlahan bergerak menjauh ke tengah telaga, diiringi lengkingan selompret yang kini terdengar merdu dan memotivasi, Bayu merasakan sebuah transformasi dalam dirinya. Ketakutannya pada hal-hal magis telah berubah menjadi rasa hormat yang mendalam. Ia menyadari bahwa menjadi modern tidak berarti harus mencabut akar.
"Kek, tahun depan... bolehkah aku yang memimpin ider bumi untuk keluarga kita?" tanya Bayu dengan nada penuh keyakinan.
Lasmono menepuk bahu cucunya dengan bangga. Mata sang Warok sepuh itu tampak berkaca-kaca melihat estafet perjuangan budaya kini berpindah tangan. "Tanganmu sudah cukup kuat untuk memegang pusaka, tapi pastikan hatimu tetap lebih kuat untuk memegang doa. Ingat, Grebeg Suro akan terus ada selama masih ada anak muda yang mau bersimpuh mengucap syukur di tengah riuhnya dunia."
Matahari kini benar-benar terbit, menyinari Bumi Reog dengan cahaya baru. Bayu melangkah pulang di samping kakeknya, menyusuri jalanan yang masih menyisakan aroma kemenyan dan bunga mawar, membawa pulang bukan hanya kenangan tentang festival yang meriah, melainkan sebuah jati diri yang telah lama dinanti untuk bersemi kembali di bawah bayang-bayang Suro.
Satu minggu telah berlalu sejakGrebeg Surousai, namun sisa-sisa mistis dan semangat gotong royong masih terasa kental di udara Ponorogo. Bayu berdiri di beranda rumah, menatap awan yang menggantung rendah di atas bukit. Di tangannya, ia memegang sebuah artikel koran yang membahas tentang suksesnya Festival Nasional Reog Ponorogo dan dampaknya terhadap ekonomi kreatif daerah.
Lasmono keluar dari pintu jati yang berderit, membawa dua cangkir kopi pahit yang uapnya mengepul, aroma kopi lethek yang khas langsung memenuhi indra penciuman.
"Membaca apa, Le?" tanya Lasmono sembari duduk perlahan di kursi rotannya.
"Ini Kek, berita tentang Grebeg Suro kemarin. Katanya, kunjungan turis meningkat pesat dan pedagang kaki lima meraup untung berkali lipat. Ternyata benar kata Kakek, tradisi ini memang memiliki efek ganda," jawab Bayu tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
Lasmono menyesap kopinya, matanya menerawang jauh. "Itu bagus, Bayu. Tapi jangan sampai angka-angka itu membuat kita lupa pada esensi ngalap berkah. Kau lihat di artikel itu, apakah mereka menulis tentang rasa syukur kepada Gusti Allah?"
Bayu terdiam sejenak, lalu membalik halaman. "Ada, Kek. Di sini disebutkan bahwa ritual ini adalah simbol syukur atas nikmat Tuhan yang Maha Esa. Bahkan disebutkan juga perayaan di daerah lain seperti Jember dan Banyuwangi yang melakukan petik laut dan memandikan keris."
"Nah, itulah kuncinya," Lasmono menyahut dengan suara beratnya. "Meskipun caranya berbeda—ada yang dengan ider barong, kebo-keboan, atau tari seblang—jiwanya tetap satu: manunggaling kawula gusti. Kita manusia hanya bisa berikhtiar melalui budaya, tapi keselamatan dan keberkahan itu mutlak milik Sang Pencipta."
Bayu melipat koran itu dan menatap kakeknya dengan serius. "Kek, apakah menurut Kakek, Kyai Pamungkas akan bergetar lagi tahun depan?"
Lasmono terkekeh, suara tawanya seperti gesekan daun kering yang tertiup angin. "Pusaka itu hanya cermin, Bayu. Jika hati masyarakatnya tetap bersih, jika para pemuda sepertimu masih mau melakukan tirakatan dan tidak hanya terjebak dalam hura-hura festival, maka pusaka itu akan diam dalam kedamaian. Ia hanya akan berteriak jika kita kehilangan jati diri."
"Aku mengerti," bisik Bayu. "Bagi orang luar, ini mungkin hanya promosi daerah atau agenda rutin tahunan. Tapi bagi kita, ini adalah ruwatan jiwa."
Matahari mulai meninggi, menyinari pelataran yang bersih. Bayu teringat bagaimana ribuan orang di alun-alun kemarin bersatu tanpa sekat, menunjukkan nilai sosial yang kuat melalui interaksi budaya.
"Kek, aku ingin belajar lebih banyak tentang tata cara memandikan keris dan filosofi di balik setiap sesaji. Aku tidak ingin hanya sekadar menjadi penonton di tanah kelahiranku sendiri."
Lasmono menepuk bahu Bayu dengan bangga. "Itulah penantianku yang sesungguhnya, Bayu. Bukan sekadar menunggu datangnya tanggal 1 Suro, tapi menunggu munculnya kesadaran di dalam dadamu. Ingatlah, Pusaka dan Penantian Sang Warok tidak akan pernah berakhir selama Bumi Reog masih dipijak oleh mereka yang tahu cara berterima kasih kepada masa lalu."
Di kejauhan, suara sayup selompret kembali terdengar, mungkin seorang pemuda sedang berlatih untuk pertunjukan berikutnya. Suaranya melengking tinggi, membelah langit, menjadi pengingat bahwa di bawah bayang-bayang Suro, sebuah warisan magis tidak akan pernah mati—ia hanya sedang menunggu untuk dirayakan kembali dengan hati yang lebih suci.
"Mari masuk, Le. Masih banyak ngelmu yang harus kau serap sebelum Grebeg Suro tahun depan menyapa," ajak Lasmono.
Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan pelataran yang sunyi namun sarat akan makna, sementara di atas meja, artikel koran itu tertiup angin, memperlihatkan foto barisan Warok yang gagah melintasi zaman.
Pada akhirnya, Grebeg Suro bukanlah sekadar pesta rakyat yang tumpah ruah di jalanan Ponorogo, bukan pula sekadar deretan angka dalam statistik kunjungan wisata pemerintah. Ia adalah sebuah jembatan spiritual yang menghubungkan pijakan kaki manusia dengan akar batiniahnya. Melalui perjalanan Lasmono dan transformasi batin Bayu, kita diingatkan bahwa tradisi adalah napas yang memberi kehidupan pada identitas sebuah bangsa. Jika tradisi itu dilepaskan dari esensi ngalap berkah dan rasa syukur kepada Sang Pencipta, maka ia tak lebih dari sebuah kerangka kosong tanpa nyawa.
Amanat yang tersirat di balik bayang-bayang Kyai Pamungkas adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara yang tampak dan yang tersembunyi. Kemajuan ekonomi melalui strategi promosi daerah dan geliat para pedagang kaki lima merupakan berkah nyata dari nilai sosial yang harus disyukuri, namun ia tidak boleh menggerus kesucian tirakatan dan ider bumi. Kita diajak untuk menjadi seperti Bayu—generasi modern yang berani merangkul kemajuan tanpa harus mematahkan pedang leluhur.
Keberlanjutan budaya bukan terletak pada megahnya panggung Festival Nasional Reog Ponorogo, melainkan pada ketulusan hati setiap individu dalam memohon perlindungan kepada Allah SWT dan menjaga kerukunan antarsesama melalui gotong royong. Tradisi Grebeg Suro mengajarkan bahwa untuk melangkah jauh ke masa depan, seseorang harus memiliki keberanian untuk menengok ke belakang, menghormati para sesepuh, dan menyadari bahwa setiap nikmat yang turun ke bumi adalah titipan yang harus dijaga dengan laku prihatin dan kerendahan hati. Sebab, selama manunggaling kawula gusti masih menjadi pedoman, maka pusaka dan penantian sang Warok akan tetap menjadi api yang menyalakan semangat nasionalisme dan cinta tanah air di hati setiap anak bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
