Apple Developer Academy: Peluang Talenta Digital Sulawesi Selatan
Kebijakan | 2026-01-16 17:46:21
Saat ini, transformasi digital sering dipromosikan sebagai jawaban dari berbagai persoalan pembangunan di Indonesia, mulai dari permasalahan peningkatan daya saing ekonomi sampai pengurangan kesenjangan antarwilayah. Seiringan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia menempatkan ekonomi digital sebagai salah satu pilar dalam menuju Indonesia Emas 2045, dengan proyeksi nilai ekonomi digital mencapai lebih dari US$130 miliar pada pertengahan dekade. Dalam optimisme tersebut, masih terdapat tantangan mendasar mengenai manfaat transformasi digital yang belum terdistribusi secara merata, terutama di wilayah timur Indonesia.
Dalam kondisi ketimpangan tersebut, Sulawesi Selatan berada pada posisi yang unik. Sulawesi Selatan sedang dalam momentum bonus demografi dengan mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Selain itu, secara geografis, ia berada sebagai simpul konektivitas antara kawasan timur Indonesia baik dalam arus pendidikan, perdagangan, sampai mobilitas tenaga kerja. Dengan kondisi positif tersebut, Sulawesi Selatan menjadi kandidat kuat sebagai pusat pengembangan talenta digital di luar pulau Jawa.
Namun, potensi struktural tidak selalu berbanding lurus dengan akses terhadap peluang. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penetrasi internet dan literasi digital masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan kelompok masyarakat tertentu. Terlebih lagi penetrasi internet di wilayah barat Indonesia, terutama Jawa, sudah mencapai 80% sampai tahun 2023, berbanding jauh dengan wilayah timur Indonesia. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan digital di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan masih berisiko mereproduksi ketimpangan yang lama sudah terjadi namun dengan kemasan yang baru.
Dalam keadaan tersebut, program pelatihan teknologi berstandar global seperti Apple Developer Academy sering dilihat sebagai solusi strategis untuk menjawab tantangan pembangunan sumber daya manusia bagi wilayah di luar pusat pertumbuhan ekonomi, misalnya Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia secara umum. Penglihatan ini menjadi tepat karena program ini menawarkan pelatihan intensif secara langsung dan dengan fokus melahirkan talenta digital siap saing. Tetapi, terdapat dilema mendasar mengenai siapa yang sebenarnya diuntungkan dalam transformasi digital berbasis program global? Bank Dunia mengeluarkan laporan yang memperlihatkan bahwa pelatihan keahlian dominan dimiliki oleh individu yang memiliki akses pendidikan dan modal sebelumnya. Oleh karena itu, perlu dipastikan perancangan program yang memiliki prinsip keadilan, afirmasi, dan inklusif.
Program pelatihan teknologi berstandar global seperti Apple Developer Academy adalah salah satu contoh semakin besarnya peran aktor non-negara dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia bagi negara berkembang. Hal ini kemudian sejalan dengan sebuah tren, dimana, korporasi multinasional semakin aktif dalam pendidikan vokasi. Catatan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi mengatakan bahwa sektor swasta kini menjadi aktor penting dalam menutup kesenjangan keterampilan digital, terutama bagi negara dengan kapasitas pendidikan yang belum merata.
Kebutuhan akan talenta digital memang bersifat mendesak bagi Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika memperkirakan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga tahun 2030. Angka tersebut kemudian terlihat sangat besar dengan kondisi kapasitas sistem pendidikan dan pelatihan yang belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara merata.
Dalam kondisi kesenjangan di luar pulau Jawa yang mendalam dan desakan akan target, Sulawesi Selatan berada pada posisi strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Selain menjadi salah satu pusat ekonomi di kawasan timur, provinsi tersebut juga menjadi pusat pendidikan dengan berbagai perguruan tinggi dan menjadi tujuan imigrasi pendidikan dari wilayah sekitarnya. Meski demikian, data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa perkembangan penggunaan internet Sulawesi Selatan masih dalam beberapa tahun terakhir masih terkonsentrasi oleh wilayah perkotaan, khususnya kota Makassar.
Permasalahan distribusi manfaat pembangunan digital menjadi relevan di titik ini. Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa program peningkatan keterampilan cenderung memberikan dampak paling besar bagi individu yang telah memiliki tingkat pendidikan menengah ke atas dan literasi digital yang memadai. Dengan kata lain, tanpa desain kebijakan afirmatif, maka program pelatihan digital global seperti Apple Developer berpotensi hanya mempercepat mobilitas bagi kelompok sosial yang sudah relatif diuntungkan sebelumnya, dan kelompok rentan semakin tertinggal jauh.
Dalam rangka pembangunan berkelanjutan/SDGS, kondisi tersebut menjadi tantangan serius. Pembangunan berkelanjutan tidak hanya menekankan peningkatan kualitas pendidikan (SDG 4), tetapi juga pengurangan ketimpangan (SDG 10) dan penciptaan pekerjaan layak (SDG 8). Maka dari itu, penciptaan talenta digital harus berkaitan jelas dengan kebutuhan pembangunan daerah dan persoalan lokal, seperti digitalisasi layanan publik, penguatan UMKM, sektor maritim, dan ekonomi kreatif daerah. Ini diperkuat oleh sebuah temuan Bank Dunia yang mengatakan bahwa negara berkembang seringkali menghadapi skills mismatch yang berarti pengembangan keterampilan tidak sesuai dengan kebutuhan/tantangan lokal.
Kebutuhan talenta digital adalah realitas struktural yang tidak bisa dihindari. Proyeksi Kementerian Komunikasi dan Informatika mengenai kebutuhan jutaan talenta digital sampai 2030 bukan lagi sebuah opsi, melainkan sebuah prasyarat pembangunan. Namun, data ketimpangan akses, literasi, pendidikan, dan kesenjangan distribusi manfaat masih menunjukkan risiko memperdalam ketimpangan apabila tidak disertai kebijakan yang berpihak pada pemerataan.
Dalam konteks Sulawesi Selatan, potensi yang dimiliki harus diikuti tata kelola peluang yang merata. Tanpa intervensi kebijakan yang terarah, manfaat pengembangan keterampilan digital hanya akan terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan kelompok masyarakat yang sudah memiliki peluang awal yang kuat.
Oleh karena itu, pemerintah harus memainkan peran yang lebih aktif sebagai pengarah pembangunan digital. Pengembangan talenta digital harus diintegrasikan dengan institusi pendidikan lokal. Kolaborasi antara program pelatihan berstandar internasional, perguruan tinggi lokal akan memperkuat kapasitas institusi lokal, sehingga transfer pengetahuan tidak hanya sampai pada individu, tetapi juga memperkuat sistem pendidikan daerah jangka panjang.
Selain itu, pemerintah juga harus memastikan berjalannya kebijakan afirmatif yang memastikan distribusi manfaat tidak hanya dirasakan oleh mereka yang memiliki literasi dan pendidikan memadai. Manfaat tersebut harus dipastikan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal. Sebagai contoh, dalam konteks Sulawesi Selatan, kebutuhan masyarakat lokal tersebut mencakup digitalisasi UMKM, penguatan layanan publik berbasis digital, pengembangan ekonomi maritim, dan industri kreatif lokal. Keberhasilan transformasi digital akan diukur dari sejauh mana manfaatnya dirasakan secara luas dan berkelanjutan oleh masyarakat. Dengan memastikan langkah-langkah tersebut, maka Sulawesi Selatan memiliki peluang menjadi contoh pengembangan digital inklusif di kawasan timur Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
