Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Likon Lubis

Ketika Bhinneka Tunggal Ika Kalah oleh Circle Pertemanan

Eduaksi | 2026-01-15 11:21:29

Ruang kelas hari ini sesungguhnya telah menghadirkan miniatur Indonesia. Di sana berkumpul anak-anak dengan latar belakang, karakter, dan cara pandang yang beragam. Namun, keberagaman itu sering berhenti sebagai keadaan, belum sepenuhnya menjelma menjadi pengalaman hidup bersama. Di titik inilah Bhinneka Tunggal Ika diuji: bukan pada sejauh mana ia dipahami, melainkan pada bagaimana ia dijalani dalam keseharian.

Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang mampu menjelaskan makna persatuan dalam keberagaman dengan baik. Mereka memahami bahwa perbedaan adalah keniscayaan bangsa. Namun, ketika bel istirahat berbunyi, pola pergaulan yang tampak justru bergerak dalam lingkaran yang sempit. Anak-anak berkumpul dengan kelompok yang sama, berbagi cerita dengan orang-orang itu-itu saja, dan jarang benar-benar berinteraksi lintas perbedaan.

Pembelajaran Bhinneka Tunggal Ika di SMA Darma Yudha,Pekanbaru. Mengajak siswa memahami persatuan bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai sikap dalam kesekharian. Foto: Dokumen pribadi.

Fenomena ini tidak selalu lahir dari sikap intoleran. Lebih sering, ia muncul dari kebutuhan akan rasa aman. Lingkaran pertemanan menjadi ruang perlindungan sosial, tempat seseorang merasa diterima tanpa perlu banyak penyesuaian. Keluar dari lingkaran itu berarti menghadapi panas: takut disalahpahami, khawatir tidak dianggap, atau sekadar merasa canggung. Pada usia remaja, risiko sosial semacam ini seringkali terasa lebih berat daripada nilai-nilai ideal yang diajarkan di kelas.

Sekolah, sebagai ruang pembentukan karakter, sejatinya memiliki peran penting dalam mengatasi jarak ini. Namun, tanpa disadari, kita sering membiarkan eksklusivitas sosial tumbuh selama tidak memicu konflik terbuka. Keberagaman dirayakan melalui slogan, upacara, dan kegiatan seremonial, namun belum sepenuhnya pulih dalam interaksi sehari-hari. Persatuan diajarkan sebagai konsep, bukan sebagai proses yang membutuhkan latihan dan kesabaran.

Di sisi lain, budaya digital ikut memperkuat tren ini. Media sosial mendorong individu untuk berkumpul dengan yang sepemikiran, menyukai yang serupa, dan menghindari perbedaan. Algoritma bekerja membentuk ruang gema, di mana tampilan yang sama terus diperkuat. Pola ini perlahan terbawa ke dunia nyata, termasuk ke lingkungan sekolah, dan membentuk pergaulan yang tampak rukun, namun dialog miskin lintas perspektif.

Dalam konteks ini, Bhinneka Tunggal Ika menghadapi tantangan yang lebih halus. Ia tidak ditolak, tetapi dikalahkan oleh kenyamanan. Ia menyetujuinya sebagai suatu nilai, namun belum tentu diperjuangkan sebagai suatu sikap. Anak-anak kita tahu apa yang benar, tetapi belum tentu merasa cukup aman untuk melakukannya. Toleransi menjadi wacana, bukan kebiasaan.

Pertanyaan pentingnya kemudian adalah sejauh mana sekolah telah menjadi ruang aman untuk belajar hidup bersama dalam perbedaan. Pendidikan nilai tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ia menuntut keteladanan dan pembiasaan. Guru dan sekolah memiliki peran strategi untuk membuka ruang perjumpaan lintas kelompok, mendorong kerja sama yang inklusif, serta memfasilitasi dialog yang jujur dan setara. Bukan dengan paksaan, melainkan melalui pengalaman yang berulang dan bermakna.

Bhinneka Tunggal Ika sejatinya mengajarkan bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami. Nilai ini menuntut keberanian sosial: berani mendengar yang berbeda, berani keluar dari lingkaran nyaman, dan berani membangun hubungan di tengah perbedaan. Keberanian semacam ini tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi perlu dirawat melalui pendidikan yang konsisten.

Pada akhirnya, Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan kebangsaan, melainkan amanah yang harus terus hidup. Jika sekolah mampu menjadi ruang pembelajaran sosial yang utuh, tempat perbedaan dipertemukan dan dihargai, maka persatuan tidak akan berhenti menjadi slogan. Ia akan tumbuh sebagai laku hidup, menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami keberagaman, tetapi juga mampu merawatnya dalam kehidupan bersama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image